
Tia hanya memandang malas pada Devi. Dia sudah tahu bagaimana sikap Devi jadi Tia sama sekali tidak mengambil ke hati apapun yang dikatakan oleh Devi.
“Suami saya sedang bekerja untuk menafkahi hidup kami. Saya tidak seegois itu sampai membiarkan dia menelantarkan pekerjaan dan malah menemani saya di rumah,” ucap Tia dengan sopan seakan dia sedang berbicara dengan orang asing. Dia memang tidak pernah menganggap Devi sebagai iparnya semenjak Tia membaca postingan Devi di aplikasi birunya.
“Hmm … apa mungkin itu karena penampilan Kak Tia, ya?” Devi memandang wajah Tia lalu menelisik penampilan Tia. “Kak Tia harusnya bisa sedikit berdandan lagi. Pakailah pakaian yang lebih cantik agar suami Kak Tia juga betah di rumah. Aku tebak mungkin suami Kak Tia tidak nyaman di rumah soalnya Kak Tia tidak begitu bisa berdandan, kan? Jadi harusnya Kak Tia lebih belajar berdandan lagi.” Devi seakan menggurui Tia.
Tia hanya tersenyum sinis, dia semakin tidak suka dengan adik ipar yang Tia kira baik seperti saudara kandung.
“Devi!” tegur Aris yang sudah tidak tahan akan sikap Devi yang berbicara sesuka hatinya. “Jaga sikapmu. Jangan bersikap kurang ajar seperti itu!” Aris mulai menunjukkan ketegasan karena Devi sudah keterlaluan sekali. Aris sendiri juga tidak menyangka mengapa Devi berubah menjadi lebih berani dan suka mencampuri urusan orang lain.
Devi mendengus kesal dan menoleh ke arah Aris. “Apaan sih? Memangnya aku bicara hal yang salah? Aku hanya memberikan saran kepada Kak Tia. Apa yang salah coba?” Devi mengelak dari tuduhan sang suami. Devi pun beringsut pergi meninggalkan suami dan kakak iparnya. Dia memilih duduk menjauh dari kursi sofa itu.
Aris mengusap wajahnya kasar. Dia sudah dapat menebak kenapa Tia dan Gunawan sampai bersikap dingin dan tidak suka ketika Aris datang bersama Devi. Tentu saja karena mereka semua sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Devi yang selalu berbicara hal sesukanya itu.
“Maafkan kami, Kak. Aku seharusnya tidak membawanya kemari,” ucap Aris kepada Tia. Dia menyesal telah mengajak Devi ikut dengannya. Hubungannya dengan Tia akan menjadi lebih buruk lagi.
Tia sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia bukan tidak suka kepada Aris, dia hanya memang kecewa pada Aris yang kurang tegas dengan perempuan seperti Devi, yang bersikap kurang ajar kepada Tia dan keluarganya. Karena itulah Tia juga bersikap dingin kepada Aris tanpa sadar.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Aris. Aku rasa sudah waktunya kamu dan istrimu pulang sebelum kamu semakin dipermalukan di sini. Kalian selesaikan masalah kalian di rumah kalian sendiri. Aku tidak ingin ada keributan di rumah ini!" ucap Tia tanpa melirik ke arah Devi yang sedang memasang wajah kesalnya. Bukannya Tia kalah, Tia hanya tidak ingin anak-anaknya mendengar pertengkaran.
“Loh kok kami diusir? Mas, lihatlah sikap kakakmu itu! Dia seharusnya menjamu kita dengan ramah, bukan seperti ini,” ucap Devi mengadukan sikap Tia kepada Aris.
Aris menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan Tia memang benar. Dia memang harus secepatnya pulang dan membawa Devi pergi.
Aris bangkit berdiri sambil memegang tangan Devi. “Sekali lagi maafkan kami. Kami akan pamit pulang sekarang.”
Aris menarik tangan Devi dan berjalan keluar dari rumah Tia.
"Loh, Mas. Kok pulang, gimana sih? Sayang kan kita sudah belikan buah-buahan banyak untuk mereka!" Devi tidak terima Aris menariknya begitu saja keluar dari rumah Tia.
Aris tidak menggubris omongan Devi, dia tidak ingin membuat keributan di rumah kakaknya. Sosok kakak satu-satunya yang dia miliki. Tempat di mana dulu dia berkeluh kesah dan menggantikan sosok Meri sang ibu yang terkena gangguan mental.
__ADS_1
Braak!
Aris membanting pintu mobil keras-keras. Pertanda emosinya kini sudah sampai di ubun-ubun. Sedari toko buah, Aris sudah menahan diri untuk tidak berbuat kasar pada istrinya. Akan tetapi Devi bukannya sadar diri, malah semakin menjadi.
"Mas! Apa-apaan sih kamu? Jadi suami kok kasar begitu? Aku ini istrimu lho, seharusnya kamu lebih membela istrimu dari pada keluarga mu itu, Mas?!" protes Devi lagi kesal, dirinya mengira Aris marah kepadanya hanya karena Tia.
Tanpa bersuara, Aris melajukan mobilnya keluar dari rumah Tia dengan kecepatan tinggi. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Ciiit ... Ciiiit ....
Aris berulang kali mengerem mendadak saat menghindari mobil lain yang datang dari arah berlawanan.
"Maaas! Kau mau membunuh kita berdua ya?! Ada apa dengan mu, Mas?!" teriak Devi yang ketakutan karena Aris hanya diam sembari mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan.
Lagi-lagi Aris diam tidak menyahut kata-kata Devi, dia tidak peduli dengan apa yang istrinya katakan. Aris hanya sedang menghibur hatinya sendiri. Bukan pilihan yang mudah saat dihadapkan pada dua pilihan yakni kakak kandungnya atau istri yang baru dinikahinya hampir satu bulan ini. Pernikahan yang baru seumur jagung itu apakah harus kandas juga.
Mobil terus melaju hingga sampailah mereka di rumah Aris.
"Turun!" ucap Aris ingin agar Devi segera turun.
"Lho, kamu tidak turun, Mas? Devi terheran mengapa Aris menyuruhnya turun akan tetapi dia sendiri tidak turun.
__ADS_1
"Aku bilang turun ya turun! Jangan banyak tanya!" hardik Aris tanpa menatap wajah Devi. Dia ingin memberikan hukuman pada istrinya itu.
"Tidak mau! Aku hanya mau turun jika mas juga turun!" tolak Devi kekeuh. Dia merasa yakin jika suaminya itu akan menuruti apa yang dia kata.
"Baiklah, jangan salahkan aku jika aku menyebut seperti tadi!" balas Aris sembari menghidupkan mobilnya dan menginjak gas dalam-dalam sambil direm.
Devi yang sudah merasakan tadi saat pulang pun pad akhirnya mengalah. Dia tidak ingin mati konyol karena kecelakaan mobil.
Sembari mengerucutkan bibirnya dan mencebik kesal, akhirnya Devi turun dari mobil tersebut.
Setelah Devi turun, Aris langsung tancap gas dan meninggalkan Devi begitu saja. Dia ingin kembali ke rumah Tia untuk klarifikasi dan mencari tahu mengapa kakaknya itu berubah.
Bruuum ....
Mobil mewah itu meninggalkan Devi yang berdiri dengan raut wajah yang menahan kesal, dia menghentakkan kakinya. Setelah itu dia mengambil ponselnya dan membuat status dengan caption
' RUMAH TANGGA APA INI? DEMI KAKAKNYA SEORANG SUAMI RELA MENYAKITI HATI ISTRINYA SENDIRI. KAKAK MACAM APA ITU, TEGA SEKALI PADA ADIK IPARNYA!'
Setelah selesai mengetik, Devi menambahi postingannya dengan sebuah foto dirinya bergandeng tangan dengan Aris, akan tetapi hanya terlihat tangannya saja. Seolah menunjukkan sebenarnya dia dan Aris bahagia tapi dirusak oleh kakak dari sang suami. Namun Devi tidak tahu jika hal itu akan menjadi bumerang baginya.
__ADS_1