Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 183


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi yang cerah di hari Minggu, Hans mengajak Tia dan kedua anak kembarnya untuk berjalan -jalan membeli kebutuhan si kembar. Tia sedang bersiap dibantu Yuni yang menyiapkan si kembar. Sedangkan Luna sendiri sudah ia pecat sejak kemarin.


"Sudah siap semua, Mbak?" tanya Tia pada Yuni yang tampak sibuk memasukkan botol susu ke dalam tas khusus untuk susu botol.


"Sudah, Nyonya. Semua sudah siap. Tinggal berangkat," jawab Yuni dengan senyum yang mengembang.


"Baiklah, Ayo kita berangkat. Biar aku yang gendong Hasan dan mbak Yuni gendong Hasna," titah Tia pada sang nanny--pengasuh penuh waktu untuk kedua anaknya.


Tia sudah mengangkat Yuni dari babysitter biasa berubah menjadi nanny. Semua tentang kebutuhan anak kembarnya sepenuhnya diurus oleh Yuni. Sedangkan Luna masih dalam tahap babysitter biasa yang hanya membantu Yuni saja.


"Sayang, semua sudah siap?" tanya Hans yang baru saja selesai memanaskan mobil.


"Sudah, Mas. Lihat ganteng dan cantikkan mereka? Masyaallah, di usia mereka yang sudah menginjak empat bulan lebih semakin aktif saja," jawab Tia yang merapikan topi untuk si Hasan.


"Alhamdulillaah, benar mereka semakin menggemaskan saja. Bersyukur mereka semakin hari semakin sehat. Semua ini karena mereka memiliki ibu yang hebat sepertimu. Bisa membagi waktu untuk bekerja dan mengurus anak," sahut Hans sambil merangkul Tia.


"Semua ini juga mereka memiliki sosok ayah yang hebat seperti mas Hans. Tidak pernah pulang telat dan ada waktu untuk membantu Tia mengurus anak-anak. Terima kasih ya, Mas. Sudah menjadi suami dan ayah yang hebat untuk kami," puji Tia.


Blush ...


Pipi putih Hans memerah, walau tertutup oleh rambut halus tetapi tetap kelihatan.


"Ayo kita berangkat, pujiannya untuk nanti malam ya, sudah lama mas menahan puasa. Sudah pasang kontrasepsi kan?" bisik Hans pelan.


"Hmm ... Kalau masalah ituan mas paling bisa deh! Tenang Tia dah pasang pengaman, hehehe ...."


Tia malu tapi dia juga tidak bisa menolak kebutuhan batin sang suami. Ketiga orang itu pun pergi menuju ke Mall. Setelah memecat Luna, perasaan Tia lebih lega. Dia tidak takut lagi suaminya diambil orang.

__ADS_1


Tia paham jika Hans adalah sosok yang tidak tega-an dan tidak enak hati, untuk itu Hans mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Sifat yang sama dengan Tia, tidak tega-an dan tidak enak hati pada orang lain.


Sampai di mall, Tia menaruh kedua anak kembarnya di kereta dorong yang khusus untuk anak kembar. Yuni yang mendorong kereta bayi tersebut sedangkan Tia dan Hans bergandengan tangan berjalan di depan.


Saat sampai di toko khusus perlengkapan bayi, Hans dan Tia masuk ke dalam diikuti oleh Yuni.


"Mas, lucu-lucu semua ya, padahal baru kemarin lho aku belanja, tapi kok ingin beli lagi," seru Tia yang kegirangan melihat baju bayi yang lucu-lucu itu.


"Boleh beli, asal tetap jaga agar tidak sia-sia. Beli yang sekiranya diperlukan saja," sahut Hans mengingatkan sang istri untuk tidak belanja yang pada akhirnya akan terbuang sia-sia atau percuma. Hans selalu mengajarkan pada istrinya untuk selalu bisa mengendalikan diri.


"Baik, Mas. Tia hanya beli seperlunya saja, maklum Hasna dan Hasna sedang dalam masa pertumbuhan. Baju yang dibeli sekarang, satu bulan kemudian sudah tidak muat. Tapi jangan khawatir, baju-baju bekas Hasan dan Hasna aku kumpulkan dan aku sumbangkan ke panti asuhan yang merawat bayi," tandas Tia memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Kamu kok semakin pintar sih, istri siapa ini ya?" goda Hans sembari mencubit hidung Tia.


"Duuh ... sakit, Mas! Merah kan!!" gerutu Tia.


"Habis gemas sih, nanti malam lagi ya ... Hehehe ...."


"Habisnya enak kok, masak gak suka sih?" imbuh Hans.


"Mas! Malu ... Jangan begitu, takut didengar pengunjung lain!" Tia tersipu malu mendengar gombalan Hans.


Hans dan Tia pun melanjutkan memilih baju dan perlengkapan untuk kedua anak mereka. Yuni hanya tersenyum melihat kedua majikannya yang rukun dan harmonis.


Yuni melihat sekeliling dan tatapannya berhenti pada sosok wanita yang sangat dia kenal. Dia adalah Luna. Penampilan Luna tampak berbeda, dia lebih cantik daripada saat dia bekerja di rumah Tia.


"Bukankah itu Luna? Apa dia sedang berbelanja di sini?" gumam Yuni sembari terus mengawasi sosok wanita yang bertemu dengan seorang pria.


"Mbak ... Mbak Yuni melamun?" tanya Tia sembari mengikuti kemana arah pandang mata Yuni.

__ADS_1


"Eh, tidak, Nyonya. Itu saya sedang melihat sosok wanita yang mirip Luna sedang bertemu dengan sosok laki-laki," jawab Yuni dengan anda terkejut.


"Di mana, Mbak?"


"Itu, Nyonya!" Yuni menunjuk ke arah wanita yang dia maksud.


Tia mengikuti tangan kanan Yuni yang menunjuk ke sosok wanita.


"Benar, itu sepertinya Luna. Sedang apa dia di sini? sebentar aku akan menghubungi orang kepercayaanku!" Tia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi lelaki yang menjadi suruhannya.


"Hallo, Rendi. Kau ada di mana? Luna sedang berada di mall Giana. Kau mengikutinya atau tidak?" tanya Tia dengan suara pelan.


"Iya, Nyonya. Rendi berada tidak jauh dari tempat Luna bertemu dengan lelaki. Anda tenang saja, saya akan terus mengikutinya," jawab lelaki dengan tubuh tinggi dan kekar itu.


"Bagus, jangan sampai lengah. Aku tidak mau kau sampai kehilangan jejaknya," ucap Tia dengan serius.


"Siap, Nyonya. Saya akan waspada dan lebih berhati-hati lagi," jawab Rendi.


"Baiklah, aku tunggu laporannya."


"Siap!"


Tia memasukkan kembali ponselnya di dalam tas selempangnya. Dia merasa lega karena orang suruhannya masih mengikuti Luna.


"Sudah aman, Mbak. Luna masih dalam pengawasan kita. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Rumah tanggaku belum bisa dikatakan aman sebelum tahu siapa sebenarnya Luna itu," ucap Tia dengan semangat yang berapi-api.


Yuni tersenyum, dia merasa senang bisa membantu sang majikan. Yuni juga tidak ingin rumah tangga majikannya diganggu oleh Luna.


"Iya, Nyonya. Semoga lekas terungkap siapa sebenarnya Luna itu," sahut Yuni memberikan semangat untuk Tia.

__ADS_1


"Baiklah, Mbak. Aku mau bayar dulu, mas Hans pasti sudah menunggu. Dia aku tinggal di bagian rak sepatu agar dia memilih sepatu untuk anaknya. Hehehe ... sesekali biar dia merasa senang dengan pilihannya untuk anak-anak," ucap Tia yang suka melihat Hans yang serius memilih sepatu untuk anaknya.


"Benar, Nyonya. Biar para lelaki tahu bagaimana memilih sesuatu yang semuanya terlihat bagus. Pasti akan bingung dan tidak akan protes jika wanita lama memilih barang," timpal Yuni tersenyum geli membayangkan para bapak-bapak memilih sepatu yang semuanya terlihat bagus-bagus untuk buah hati mereka.


__ADS_2