
Ridho bangkit bersimpuh di depan sang paman sambil menangis. Hatinya merasa tidak enak karena sudah melukai hati sang paman.
"Maafkan aku, Paman. Aku berjanji akan menjadi orang yang berguna. Tidak ingin menjadi orang yang selalu menyusahkan keluarga," ucap Ridho dengan sesenggukkan.
"Syukurlah jika kamu sadar, Ridho. Paman akan mendukung selama kau mau berubah ke arah yang lebih baik lagi. Oh, ya. Dimana orang tua Wulan? Bukankah dulu satu rumah denganmu?" tanya Gunawan yang ingin tahu bagaimana nasib ibu kandung Tia--Meri.
"Mereka sekarang berada di rumah milik Tia, Paman. Sungguh Ridho baru sadar kalau Ridho telah melepaskan sebuah intan permata demi batu kerikil. Benar kak Hans, yang sudah menceraikan Wulan, ternyata Wulan adalah wanita yang berbahaya. Dia sudah meracuni kami dengan pesona kecantikan dan kepandaiannya berbicara," ucap Ridho menerawang jauh saat dia bersama dengan Wulan.
"Apa yang sudah terjadi biarkan terjadi. Tidak ada yang bisa kembali lagi. Jika kamu memang sungguh - sungguh ingin berubah, wujudkan cita-cita dengan tangan mu sendiri. Paman secara finansial tidak mampu untuk membantumu karena jelas sekali bahwa Tante mu pasti akan marah dan akan mempersulit hidupmu. Tapi jika kau butuh pekerjaan mungkin paman bisa membantumu. Paman punya banyak kenalan pengusaha di sini," ucap Gunawan dengan tatapan sendu merasa tidak berdaya untuk saat ini.
Ridho tersenyum kecut, dia masih bersyukur karena masih bisa bebas, hanya saja semua yang ia miliki sudah tidak seperti dulu.
"Ridho, apa kamu tahu di mana orang tua Tia tinggal? Aku ingin ke sana untuk meminta maaf. Karena kesalahan keponakan ku, dua putrinya harus menderita," ucap Gunawan mencari alasan untuk bisa bertemu dengan Meri.
Gunawan ingin menjelaskan semua yang sudah terjadi. Seperti permintaan Tia yang ingin sang ayah untuk meminta maaf pada sang ibu atas kesalahannya dahulu.
"Maaf, Paman. Saya tidak tahu. Hanya Tia yang tahu di mana rumahnya. Tidak juga dengan Wulan, Wulan juga tidak tahu kemana Tia membawa papa dan mama," jawab Ridho jujur.
Gunawan menghela napas, niatnya untuk bertemu dengan wanita yang sudah ia lecehkan pun gagal. Gunawan menyugar rambutnya yang sudah hampir memutih semua itu. Membetulkan letak kacamata yang ia pakai.
"Sudahlah, paman akan langsung kembali ke Lampung. Paman ingin segera memberi kabar pada tantemu jika tugas paman sudah selesai. Paman sudah bertemu dengan Hans pemilik perusahaan mu yang baru, dia ada di Lampung," ucap Gunawan pada Ridho.
Gunawan pergi meninggalkan rumah Ridho. Dia sudah tidak peduli dengan sang keponakan. Hatinya masih merasa sakit karena mengingat dua putrinya disakiti oleh istri dari sang keponakan.
***
Sementara itu di rumah sakit.
Cahyo sedang duduk di kursi depan dua orang dokter. Dia sedang menunggu dokter tersebut selesai mempersiapkan berkas yang harus ditandatangani oleh Cahyo.
"Pak Cahyo, silakan tandatangan. Di sini tertera jelas bahwa Anda sudah menyetujui semua prosedur yang akan kami lakukan untuk operasi bedah plastik wajah pasien. Dan selanjutnya ada perjanjian buang harus bapak tandatangani juga tentang pembiayaan operasi, lalu satu lembar lagi pernyataan bahwa Anda tidak akan menuntut kami dan pihak rumah sakit jika terjadi sesuatu pada pasien."
Dokter Arfa memberikan beberapa lembar surat perjanjian, pernyataan dan persetujuan pada Cahyo.
__ADS_1
Cahyo yang hanya seorang teknisi, tidak mengenyam pendidikan tinggi pun hanya setuju saja. Dia tidak begitu detail membaca isi surat -surat yang dibuat oleh dokter Arfa dan dokter Genta.
Cahyo mengambil pena yang sudah disediakan oleh dokter Arfa, kemudian menandatangani semua surat -surat tersebut.
"Silakan, Dok. Ini semua sudah saya tanda tangani. Apakah dengan saya menandatangani berkas surat ini, Wulan akan segera mendapat tindakan operasi?" tanya Cahyo sembari memberikan berkas tersebut.
Dokter Arfa mengambil berkas yang diberikan oleh Cahyo setelah itu dia meneliti ulang, apakah Cahyo sudah menandatanganinya dengan tepat. Netra dokter Arfa terlihat berbinar dengan terang, pertanda bahwa Cahyo sudah menandatangani semua berkas surat tersebut dengan baik dan benar.
Dengan senyum yang terus mengembang, dokter Arfa menjawab semua pertanyaan Cahyo.
"Tentu saja, Pak Cahyo. Putri bapak akan segera mendapat penanganan dengan baik. Butuh waktu lama untuk proses ini. Tidak hanya sekali jadi, akan tetapi perlu tahap-tahap proses agar bisa mendapatkan hasil yang baik," ucap dokter Arfa menyakinkan Cahyo.
Cahyo akhirnya tersenyum merasa apa yang menjadi keputusannya sudah tepat. Anak perempuannya akan segera mendapat penanganan yang tepat dari sang dokter.
"Terima kasih, Dok. Kira-kira operasi ini akan berapa lama?" tanya Cahyo lagi.
"Penyembuhan operasi bedah plastik memiliki tiga fase. Fase pertama adalah fase pertama butuh waktu 5-15 hari. Fase kedua membutuhkan waktu 6-8 bulan dan fase ketiga kira-kira 4-12 bulan. Masing-masing fase harus dijaga dengan dukungan gizi yang baik. Anda tidak perlu khawatir pak Cahyo. Kami akan menjamin pasien sampai sembuh," ucap dokter Genta memberi penjelasan pada Cahyo.
"Baiklah, Dok. Saya sudah setuju. Dan semoga semua berjalan dengan lancar, tidak ada halangan apa pun." Cahyo puas dengan jawaban para dokter itu hingga dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada dua orang dokter itu.
"Amiin ...." Dokter Arfa mengaminkan agar operasi bedah plastik berjalan dengan sempurna.
"Baiklah kalau begitu saya permisi, Dok." Cahyo berpamitan pada kedua dokter tersebut.
"Silakan, pak Cahyo." Cahyo beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruangan dokter tersebut.
Cahyo meninggalkan ruangan dokter tersebut dengan wajah yang gembira. Bebannya sudah terangkat dan tidak lagi membuat dirinya bingung. Penyembuhan luka Wulan pun sudah bisa di pastikan akan bertahan dan semua itu sudah ditanggung oleh kedua dokter itu.
Dengan langkah yang ringan, Cahyo menuju ke bangsal di mana Tia berada. Hari ini dia akan memberitahukan pada Tia tentang semau perubahan sang mama.
Tok! Tok!
"Assalamualaikum," ucap Cahyo uluk salam setelah sampai di depan kamar Tia.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam. Papa? Silakan masuk, Pa ...." ajak Hans yang membuka pintu dan mendapati sosok tua yang berdiri di depan pintu.
"Terima kasih, Hans," jawab Cahyo dengan perasaan begitu gembira sekali. Pasalnya sudah tidak ada lagi beban yang harus ia pikul.
"Papa!" pekik Tia tertahan , hari ini dia sudah latihan berjalan. Semangat dalam dirinya untuk segera pulang sudah membara. Tia ingin segera memeluk sang ibu. Apapun yang sudah Tia siapkan agar dirinya diperbolehkan untuk pulang.
"Tia ... Bagaimana keadaan mu, Nak?" tanya Cahyo menghampiri Tia.
Tia dengan daster berwarna biru lautnya menyambut kehadiran sang ayah.
"Tia semakin membaik, Pa. Tia ingin segera bertemu mam dan Aris. Tia sudah sangat rindu dengan mama dan Aris," sahut Tia menjawab pertanyaan sang ayah.
Cahyo tersenyum melihat sang putri. Walaupun bukan putri kandungnya, Cahyo akan tetap menyayangi Tia seperti putri kandungnya sendiri.
"Tentu Tia, mama juga sangat merindukan dirimu. Akan tetapi kau harus tetap menjaga kandungan mu dengan baik. Jika sudah kuat dan sudah bisa diperbolehkan untuk naik pesawat, kita akan pulang bersama," ujar Cahyo menjadi sayang pada Tia daripada dengan putrinya--Wulan.
"Iya, Papa. Lihat, Tia sudah bisa berjalan walau pun harus perlahan untuk bisa sampai," sahut Tia bersemangat.
Semenjak Tia mendapatkan donor darah dari sang ayah kandung, dirinya mengalami kemajuan. Sudah bisa beraktivitas dengan perlahan.
"Papa yakin kamu bisa, Tia," timpal Cahyo.
Tia tersenyum sembari memasukkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Papa, bagaimana keadaan mbak Wulan? Apakah semua berjalan lancar?" tanya Tia berjalan dengan perlahan, dia ingin duduk di samping sang papa asuh.
"Mbak mu Wulan sebelum paman tinggalkan tadi kata dokter dia sudah sadar. Namun, masih belum boleh diajak bicara atau dijenguk," jawab Cahyo yang bikin Tia penasaran dengan keadaan sang kakak perempuan.
Hans dan Tia saling menatap, mereka berdua merasa beradu pandang.
__ADS_1