
Jemari telunjuk Tia menyentuh tengah bibir Hans, bermaksud menghentikan untuk berkata hal yang tidak baik lagi.
"Tia percaya, Kak. Sekarang hari Tia sudah tenang dan siap kembali membina bahtera rumah tangga bersama kakak," ucap Tia dengan pipi yang bersemu merah.
"Sekarang kita harus tersenyum dan ceria, agar hasil riasan kita berhasil dengan sempurna," ucap Hans dengan mengacak rambut Tia.
Suasana yang tegang berubah penuh canda. Mobil Hans pun akhirnya tiba di salon sekaligus studio MUA milik klien Hans.
Ting ....
Hans membukakan pintu untuk Tia, berdua mereka masuk bersama ke dalam salon berlogo ERL-MUA itu.
"Selamat siang, Madam Jo.aku datang bersama calon istriku," ucap Hans menghampiri seorang perempuan berusia kisaran 40tahun.
"Hai, Selamat siang, Bos. Wah, seperti mendapat durian runtuh. Kita kedatangan big bos nih, ini calon istri Anda, Bos?" tanya Madam Jo sembari mengelilingi Tia dengan tangan berada di dagunya.
Hans hanya mengawasi apa yang dilakukan madam Jo. Dia tahu pastilah madam Jo sedang memikirkan sesuatu untuk penampilan Tia nanti. Madam Jo adalah sosok yang unik, pecinta sesuatu yang tidak biasa orang lain suka. Dia adalah wujud seni yang sesungguhnya. Di tangan Madam Jo banyak artis yang melambung namanya karena aura kecantikan para artis bisa keluar dan memancar penuh pesona.
__ADS_1
"Aha! Aku ada ide untuk mengubah si Upik abu menjadi sosok ratu. Ratunya para bidadari di dunia ini. Mari, Nyonya ikuti saya," ajak Madam Jo sembari menarik tangan Tia untuk mengikutinya menuju ke ruangan penuh dengan baju pengantin yang indah.
Dengan cekatan Madam Jo memilihkan baju pengantin yang sesuai dengan karakter Tia yang sederhana tapi kelihatan elegan.
"Nyonya, aku sarankan Anda memakai baju ini," ucap Madam Jo sembari memberikan gaun pengantin berwarna putih berpadu dengan warna soft pink untuk tile-nya.
Tidak ada waktu bagi Tia untuk menolak karena waktu terus berjalan menuju ke titik di mana akad nikah akan dilaksanakan. Setelah memilih, Tia pun diminta mandi dan sekaligus sholat ashar yang sudah masuk waktunya.
Tangan Madam Jo bergerak dengan cepat, mengejar waktu yang kurang satu setengah jam lagi akan dimulai akad nikahnya. Beruntung Tia tidak banyak permintaan. Dia lebih banyak diam dan menurut apa yang dikatakan oleh Madam Jo.
"Bos, lihatlah calon mempelai mu, luar biasa bukan?" ucap madam Jo mengiring Tia untuk mendekat ke arah Hans.
Hans yang sudah rapi dengan kemeja dan jas yang senada dengan baju pengantin Tia menoleh ke arah Tia. Mata Hans membulat sempurna, dia sangat terkejut dengan sosok wanita yang sekarang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Waw ...." Hans berkata tanpa berkedip, hanya kata itu yang mampu mengekspresikan dirinya dalam sebuah kekaguman.
__ADS_1
Tia menunduk malu melihat ekspresi wajah Hans yang terlihat seperti orang yang memuja.
"Hai, Bos. Kondisikan matanya dong! Lihat pengantinku tertunduk malu. Ayolah kita segera bersiap untuk pemotretan terlebih dahulu, mumpung masih fresh dan tidak terkena debu," celoteh madam Jo mengingatkan Hans kalau masih banyak yang harus mereka kerjakan.
Hans mengikuti instruksi madam Jo untuk mendapatkan gambar yang memuaskan. Berbagai gaya tercetak indah. Setelah selesai mereka segera meluncur kembali ke rumah Hans yang sudah banyak tamu yang berdatangan. Semua ingin menjadi saksi pernikahan Hans dan Tia.
Dengan dada berdebar dan mimik muka yang menahan grogi, Hans dan Tia duduk di depan meja pak penghulu, ketua RT, pak Ustadz.
Hans mengikuti semua petunjuk pak penghulu, hingga terucap lafal ijab qabul.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu pada kedua saksi nikah Hans dan Tia.
"Saaaah ...."
"Alhamdulillah ...."
__ADS_1
Semua menatap ke arah Tia yang begitu cantik. Sungguh kecantikan yang paripurna membuat kaum Hawa iri padanya. Kini Tia sudah sah menjadi istri Hans. Keduanya pun meminta restu pada sang ibu dan pada para tokoh masyarakat yang hadir. Hans dan Tia tidak hentinya tersenyum membalas semua yang memberinya ucapan selamat.
Sore pun merangkak menuju malam. Tia sudah berganti baju dengan baju tidurnya. Hans juga melakukan hal yang sama. Keduanya mendadak menjadi canggung. Serba salah tingkah, hingga hanya gerak tubuh yang berbicara.