Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 190


__ADS_3

Dengan langkah kesal Tia meninggalkan Luna sendirian begitu saja. Kali ini Tia sudah menyusun rencana, dia harus membalas perbuatan kakaknya.


Brak!



Karena merasa kesal dengan Wulan yang tidak sengaja Tia menabrak lelaki yang berusia separuh baya di depan cafe. Lelaki dengan jas hitam dan memakai kemeja putih itu meminta maaf pada Tia.



"Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja. Saya buru-buru ingin menemui klien saya di cafe ini. Apa Anda tidak apa-apa?" tanya lelaki itu.



"Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih. Saya juga minta maaf karena tidak fokus berjalan jadi tidak melihat bapak lewat," ucap Tia sopan.



"Oh, kalau begitu kita sama -sama tidak fokus. Sepertinya klien saya belum datang, kalau begitu saya kembali saja," ucap lelaki dewasa dengan kacamata minus bertengger di hidungnya. Lelaki itu pun berbalik meninggalkan cafe. Sepertinya dia memiliki kesibukan yang padat hingga waktu terasa begitu berharga baginya.



Tia tersenyum memaklumi lelaki itu pasti memiliki banyak kesibukan. Saat melangkah, Tia menginjak sesuatu, ternyata kunci mobil lelaki itu terjatuh.



"Pak ... Pak ... Kunci Anda jatuh!" teriak Tia mengejar lelaki berjas hitam itu.



Lelaki itu tidak mendengar hingga dia terus melangkah menuju ke parkiran mobilnya. Baru saat hendak mengambil kunci mobil, lelaki itu tersadar kalau kuncinya tidak ada.



"Pak ... Pak ... Tunggu, kunci Anda tertinggal!" teriak Tia lagi hingga lelaki itu menoleh ke arah Tia.


__ADS_1


"Eh, kamu ... Kamu kan tadi yang ada di cafe itu?" tanya Lelaki paruh baya itu.



"Iya, Pak. Saya hanya menyerahkan kunci bapak yang terjatuh tadi," ucap Tia dengan tersenyum.



Wajah lelaki itu tampak berbinar melihat kunci mobil yang ia cari ada di depannya. Dia merasa sangat tertolong dengan adanya Tia. Tia pun menyerahkan kunci mobil pada lelaki berjas hitam itu.



"Terimakasih, Nak," ucap Lelaki itu Bersyukur karena masih ada yang menolong dirinya di saat dia membutuhkan pertolongan.



"Sama-sama, Pak," jawab Tia dengan senyum yang mengembang.



"Oh ya kenalkan, saya Ferdian. Saya pengacara, siapa tahu suatu saat kamu akan membutuhkan jasa saya," ucap Ferdian sembari menyerahkan kartu namanya.




"Pak, maaf. Kenalkan saya Tia. Jika boleh saya ingin bertanya. Apa bapak bisa membantu saya untuk melaporkan seseorang?"



"Apa Anda ingin melaporkan kejahatan seseorang nak Tia. Baiklah, berhubung saya masih ada pertemuan dengan klien. Nanti saat jam makan siang, tolong hubungi saya," ucap Ferdian sembari melihat jam tangannya.



"Baiklah, Pak Ferdian. Terima kasih banyak," ucap Tia mundur beberapa langkah dari mobil Ferdian.


__ADS_1


Ferdian tersenyum dan mengangguk. Dia pun masuk ke dalam mobil dan melenggang pergi meninggalkan Tia.



Tia akhirnya memilih pulang, dia masuk ke dalam mobil yang dia sewa selama berlibur di Lampung. Gegas Tia kembali ke penginapan di mana Hans sudah menunggu Tia dengan cemas.



Klek.



"Assalamu 'alaikum ... Mas, kau sudah bangun? maaf tadi mau bangunin mas buat pamitan, Tia tidak tega bangunin. Makanya Tia pergi begitu saja. Ada hal penting yang ingin Tia sampaikan, Mas. Tapi Tia mau ganti baju dan cuci tangan dulu," cerocos Tia membuat Hans bingung. Suara Tia seperti rel kereta api yang terus nerocos tanpa jeda.



"Wa'alaikum salam," jawab Hans dengan wajah bengongnya.



Tia bergegas ganti baju dan mencuci tangan juga kakinya. Setelah itu dia menghampiri Hans yang masih duduk di tepi ranjang.



"Mas! kok melamun?" tanya Tia sembari mencepol rambutnya ke atas hingga terlihat leher jenjangnya yang putih.



"Tidak, hanya menunggu istri mas yang terlihat serius sekali sampai bicaranya seperti kereta api lewat," jawab Hans menatap ke arah Tia yang duduk di depannya.



"Hehe ... maaf, Mas. Karena hal yang mau cerita ini sangat spesial," ucap Tia penuh dengan teka-teki.



"Spesial? mengapa semua ini kamu bilang spesial?" tanya Hans penasaran dengan apa yang akan disampaikan

__ADS_1


Oleh Tia.


__ADS_2