
Tia menuruti permintaan sang putri kecilnya. Dia membukakan tutup botol minum untuk Hasna.
"Terima kasih, Ma ...," kata Hasna yang membuat Tia menjadi tersenyum bahagia, pasalnya sang anak sudah mau mengucapkan terima kasih pada dirinya.
Mobil pun melaju menuju ke lokasi wisata yang sudah direncanakan oleh Tia dan Han. Sesampainya di sana, Tia turun dari mobil dengan perlahan karena kehamilannya yang terlalu lemah. Hasna yang menyadari jika sang ibu kesulitan, hanya melirik sekilas dan langsung bergegas turun dari mobil tanpa peduli lagi dengan Tia. Melihat itu, membuat Hasan mengeram kesal mengetahui jika adiknya tidak peduli dengan orang tua mereka.
"Ma, hati-hati," ujar Hasan seraya menuntun Tia untuk turun karena Hans sedang sibuk menurunkan barang-barang mereka.
"Terima kasih, Nak," ujar Tia sambil tersenyum. Ia mengusap lembut rambut Hasan yang tidak terlalu panjang, namun terlihat tetap sangat tampan. Jelas saja, karena ketampanan sang suami, Hans, sudah mewarisi anak mereka.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Hasna mengepalkan kedua tangannya melihat bagaimana sang ibu memperhatikan kembarannya. Hansa langsung membuang muka saat pandangan Hasan menatap tajam dirinya setelah menutup pintu mobil. Sang kakak pun menghampiri Hasna untuk kembai menegur Hasna, namun ia urungkan karena melihat Tia sedikit meringis dan menegang perutnya.
"Ma, apakah Mama sungguh tidak apa-apa?" tanya Hasan, kembali menghampiri Tia saat mendengar Tia meringis pelan.
"Au." Tia menggi git bibirnya agar tidak membuat Hasan semakin khawatir kepadanya, "Mama nggak papa, Nak. Ayo kita menyusul Hasna. Kasihan dia dari tadi sudah menunggu kita di sana," ujar Tia sambil menggiring Hasan menuju anak kembarannya.
Hasan pada akhirnya mengangguk. Ia mengikuti langkah Tia beriringan, sedangkan Hans menurunkan barang-barang mereka dan berjalan di belakang isterinya.
"Apakah kita akan duduk di sini saja?" tanya Hans setelah menemukan pohon yang rindang, dan dapat melindungi mereka dari teriknya panas sinar matahari.
"Boleh, Mas. Sejuk juga di sini. Pemandangannya juga terlihat lebih jelas," ujar Tia menyetujui usulan Hans.
"Hasna, apakah kamu ingin berfoto di sini? Kita bisa menjadikan salah satu foto sebagai kenang-kenangan. Pasti sangat menyenangkan, bukan?" Tia mendekati Hasna seraya mengeluarkan ponselnya dan menunjukannya kepada sang putri. Tia sangat tahu jika Hasna pastinya tidak akan menolak idenya kali ini.
Hasna adalah salah satu anak yang memiliki kegemaran dalam mengambil gambar. Entah itu gambar dirinya sendiri, ataupun gambar pemandangan. Semua foto yang telah Hasna jepret, selalu anak gadisnya itu cetak dan di tempel di dalam buku hariannya.
Tia menatap gelisah ke arah Hasna saat anaknya terlihat sedang berpikir. Apapun jawaban Hasna nantinya, Tia sudah siap menerimanya jikalau anaknya itu menolak, maka Tia akan menggunakan cara lain untuk mengambil perhatian Hasna.
"Boleh."
Hans yang mendengar jawaban Hasna pun kini tersenyum lebar. Bergegas Hans mengambil handphone di tangan istrinya dan menyuruh anak serta Tia untuk merapatkan posisi mereka berdiri hingga akan membuat hasil tangkapan gambarnya lebih indah. Hans mencari tempat yang sempurna agar hasil tangkapannya akan terlihat sangat bagus, dan akhirnya ia akan mendapatkan pujian dari keluarga kecilnya itu.
"Ma, coba Mama sedikit rangkul Hasna dan Hasan. Dan kalian juga, sedikit tampilkanlah senyum kalian. Hasan, kamu nggak mau senyum?" Hans berkomentar tentang bagaimana keluarga kecilnya itu mengekspresikan diri mereka di depan kamera.
Semuanya terlihat sangat kaku, karena memang mereka jarang sekali mengabadikan foto di momen apapun, kecuali Hasna. Anak gadis Hans dan Tia selalu tampil indah jika sudah berhadapan dengan kamera. Hanya saja sedang memilih mode ngambek kepada sang ibu, ia hanya menunjukkan wajah jutek, namun itu tak melunturkan kecantikannya dalam berpose.
"Nah. Gitu! Pertahankan posisi dan ekspresi kalian, ya!" pinta Hans setelah semuanya menuruti apa yang ia katakan.
Cekrek!
Satu tangkapan gambar berhasil Hans dapatkan. Tentunya, hasilnya lebih bagus daripada apa yang telah di ekspetasikan oleh Tia.
"Ini bagus, Mas," ujar Tia memuji.
"Tentu dong, Sayang. Mas kan mantan fotografer. Masa cuma ambil tangkapan gambar kalian doang, Mas nggak bisa?" Hans mengecup singkat kening Tia hingga membuat kedua pipi Tia menunjukkan semburat merah.
"Ma, aku mau foto di sana," ujar Hasna tiba-tiba sambil menunjuk ke arah bibir pantai.
__ADS_1
"Mau ke sana?" tanya Tia dengan hati-hati dan langsung diangguki oleh Hasna.
"Boleh." Tia menjawabnya dengan senyuman.
"Tidak, Sayang! Mas tidak mengizinkan kamu menyentuh air! Bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa? Mas tidak bisa selalu bersikap sigap, Sayang," ujar Hans sambil merangkul pundak Tia.
Tia langsung menepis tangan Hans dan menajamkan tatapannya kepada Hans agar suaminya itu mengerti akan situasi sekarang ini.
"Nggak papa, Mas. Tia kan sangat suka bermain air jika sudah ada di pantai. Hasan. Ayo, apakah kamu tidak ingin ikut bersama Mama dan adik kamu?" tanya Tia menegur Hasan yang hanya memilih diam sejak tadi.
"Tidak, Ma. Hasan di sini saja," jawab Hasan dan langsung memilih duduk di atas karpet yang sudah di gelar oleh Hans saat mereka sudah datang ke sana.
"Baiklah. Mama dan Hasna pamit dulu, ya. Jika bisa, tolong tangkap beberapa gambar saat kami sudah sampai di sana. Pasti hasilnya akan sangat bagus," ujar Tia.
Hasna yang sudah tidak sabaran ingin bermain air segera menarik tangan ibunya agar segera berhenti berbicara terus.
"Udaranya sejuk banget ya, Hasna?" Tia memulai percakapan disaat kedua kakinya sudah tersentuh oleh air pantai yang bergelombang dengan tenang.
"Iya, Ma. Hasna merasa sangat senang di sini. Entah kenapa, rasanya itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan di dalam kamar. Di sana itu terlalu pengap, Hasna tidak suka!" tutur Hasna dengan begitu panjang hingga membuat Tia sedikit terkejut.
"Jadi, Hansa suka dengan piknik kita kali ini?" tanya Tia dan langsung mendapatkan respon menyenangkan dari anak perempuannya.
"Iya, Ma. Hasna senang banget!"
"Alhamdulillah kalau kamu senang, Sayang. Sini, peluk Mama dulu." Tia melebarkan kedua tangannya agar Hasna masuk ke dalam pelukannya.
Dengan ragu Hasna akhirnya masuk ke dalam pelukan Tia. Tentu momen itu tidak dilewatkan oleh Hans. Dengan gerakan sigap, Hans langsung mengambil Handphone Tia yang sempat ia taruh di karpet dan memotret pemandangan yang begitu menenangkan hatinya. Akhirnya anak dan istrinya itu kembali berinteraksi dengan normal.
Tanpa aba-aba, Tia langsung mencipratkan air pantai ke Hasna yang belum siap sama sekali hingga membuat sang anak hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menghindari air yang Tia cipratkan kepada Hasna.
"Mama curang! Hasna kan belum siap, Ma!" komentar Hasna dengan cemberut. Ia langsung membalas Tia dengan senyum di wajahnya dan sederetan gigi rapi yang terlihat begitu dirinya berhasil menyerang kembali sang ibu yang lebih dulu sudah mencuri start.
Suara tawa mereka kian terdengar. Hasna sesekali berlari upaya menghindari serangan yang terus Tia berikan kepadanya. Tia memilih untuk menyerang Hasna di tempat tanpa ikut Hasna mengejar demi kenyamanan bayi di dalam perutnya.
###
"Ma, Hasna lapar," ujar Hasna tanpa sadar sudah mulai merasa nyaman dengan semua usaha yang telah dilakukan oleh Tia untuk membuat hati sang anak luluh dengan kehadiran bayinya. Hasna sedikit membungkukkan tubuhnya saat napasnya mulai tersendat karena terlalu lama berlari.
"Ya sudah. Ayo, kita makan dulu," ujar Tia, sambil merangkul bahu Hasna.
Tia mengeluarkan semua makanan yang ia bawa dari tas yang terbuat dari rotan. Ia mengoleskan selai kacang ke roti milik Hans dan Hasan, sedangkan Hasna memilih rasa cokelat dicampur dengan rasa strawberry.
"Setelah ini, apakah ada yang ingin kalian lakukan?" tanya Hans menatap kedua anaknya secara bergantian.
"Tidak."
"Iya."
__ADS_1
Hasan dan Hasna saling melemparkan tatapan tajam saat jawaban keduanya sangat bertolak belakang. Sepasang mata mereka seolah mengatakan ketidak setujuan atas jawaban yang mereka berikan karena tidak sama dan akan membuat Hans merasa bingung.
"Hasan, kenapa kamu mau pulang?" tanya Tia begitu lembut. Ia memberikan Hasan sekotak susu. Demi perkembangan anaknya yang baik, Hans dan Tia memberikan banyak nutrisi untuk tumbuh kembang anak mereka. Apalagi, Hasan adalah seorang anak kecil yang akan tumbuh menjadi pria dewasa. Tentunya, seorang pria harus memiliki tubuh yang tinggi, serta bugar tentunya.
"Hasan ingin beristirahat, Ma. Masih ada beberapa pelajaran lagi yang belum Hasan pelajari hari ini," ujar Hasan menjelaskan alasannya mengenai keputusannya untuk memilih pulang ke rumah.
"Kakak, ih! Kenapa malah mau pulang, sih? Kita kan, baru sebentar di sini. Kakak nggak asyik, hih!" Hasna melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang sedikit dimajukan. Tentu saja Hasna merajuk. Karena letak kebahagiaannya adalah saat berada di alam, sedangkan Hasan? Entah kenapa Hasna selalu tidak menyetujui setiap kakaknya selalu merekomendasikan tempat-tempat untuk berlibur. Hasan lebih suka tempat yang tertutup.
"Biarin, wlekkk!" ledek Hasan. Hasan tersenyum karena sang adik sudah tidak sedingin sebelumnya. Hasna kembali menjadi anak yang ceria, seperti Hasna yang Hasan kenal!
"Hasna, kita bisa ke sini lagi nanti kalau akhir pekan. Kalian bisa menginap di villa terdekat. Maafkan mama dan papa karena acaranya juga dadakan. Lain waktu kita persiapan dahulu biar bisa menginap di dekat pantai. Bagaimana?" ucap Tia menengahi kedua anaknya.
"Kalau gitu, Hasna sangat setuju, Ma. Mama dan papa harus janji untuk bawa kita akan liburan dan menginap di villa," ucap Hasna dengan wajah yang kembali ceria. Tapi merasa lega melihat Hasna yang mau berubah, lebih banyak ngobrolnya dan mulai senyum lagi.
"Ya sudah, kita pulang saja. Lagipula, ini juga sudah sore dan nanti malam Mama dan Papa harus menghadiri acara perjamuan tuan Sharma," ucap Hans dengan lembut agar kedua anaknya paham. Setidaknya, hal ini tidak akan membuat sikap Hasna berubah dingin lagi.
"Kakak menyebalkan!" ketus Hasna dan duduk dengan membelakangi Hasan yang berada di sampingnya. Hasna merajuk pada sang kakak-- Hasan. Hasna memang manja pada kakaknya itu.
"Iya, maaf. Apakah kamu mau kalau ada sesuatu yang tidak kamu mengerti tentang tugas sekolah, kamu tanyakan kepadaku?" tanya Hasan, mengeluarkan rayuan mautnya yang selalu bisa ia andalkan untuk merayu adiknya yang sedang marah kepadanya.
Hasna terdiam sejenak, dai berpikir enak juga kalau ada tugas kakaknya yang bantu. Secara kakaknya lebih pintar darinya. Pasti akan menyenangkan jika kakaknya mengerjakan tugas dari Bu Devi.
"Janji?"
Tanpa di duga, Hasna membalikkan badannya dan menjulurkan jari kelingkingnya di depan Hasan. Tanpa menunggu lama pula, Hasan membalas uluran jari kelingking sang adik hingga kedua jari kelingking mereka saling mengikat. Melihat itu, Hans kembali mengabadikan momen dengan memotretnya.
"Nah, seperti ini baru anak Papa dan Mama," ujar Hans, langsung mendapatkan cubitan kecil di perut kirinya dari Tia karena menurut Tia suaminya sudah berbicara kelewatan yang pastinya akan menyindir perasaan Hasna.
"Au! Sakit, Sayang," ringis Hans.
"Jangan seperti itu, makanya!" celetuk Tia setengah berbisik.
"Iya lah, Pa! Tidak mungkin Hasna melewatkan kesempatan ini begitu saja! Otak kakak yang cerdas, bahkan kecerdasannya melebihi murid terpintar di kelas Hasan, nggak boleh di sia-siakan! Apalagi, kakak sendiri yang menawarkannya sehingga Hasna tidak perlu lagi mengeluarkan seribu cara untuk meminta bantuannya." Hasna melipat kedua tangannya dengan senyum sumringah.
Tia dan Hans tertawa mendengar perkataan Hasna. Sedangkan Hasan, ia mendengkus sebal dan merutuki dirinya sendiri karena telah memberikan banyak peluang dan akan membuat sang adik menjadi kembali malas dalam mempelajari pelajaran di sekolah.
Mereka pun akhirnya pulang, setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, yakni dua jam perjalanan. Akhirnya mereka pun sampai di rumah mereka.
Hans meminta Tia untuk beristirahat karena nanti malam mereka ada undangan ke perjamuan bisnis tuan Sharma.
"Sayang, kamu istirahat saja. Biar anak-anak mbak Yuni yang urus. Kasihan anak kita yang ada di perut seharian sudah diajak jalan-jalan. Pasti capek ya, Sayang?" tanya Hans dengan menempelkan telinganya di perut Tia.
Tia hanya tersenyum geli, suaminya memang suka mengajak anaknya untuk berkomunikasi. Memang mengajak bayi berkomunikasi semenjak di dalam kandungan akan menambah kecerdasan bayi itu. Janin akan terbiasa dengan suara-suara yang ada di sekitarnya.
"Iya, Mas. Tia akan istirahat. Tolong jaga anak-anak, jangan sampai mereka merasa ditinggal sendirian. Minim salah satu di antara kita menemaninya. Mereka akan merasa disayang dan diperhatikan oleh orang tuanya," ujar Tia sembari mengambil baju ganti di dalam lemari.
"Tentu, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir dan cemas, karena kamu bisa stress jika banyak pikiran. Jalani semua dengan ikhlas, mas yakin Hasna pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. Apalagi Alya sudah tidak mengajar di situ," ucap Hans menenangkan Tia.
__ADS_1
"Benar, Mas. Oh, ya. Tia merasa Aris kemarin seperti sedang menyimpan sesuatu. Besok kita ke rumah Aris ya, Mas. Tia ingin bicara dan memberi support pada Aris. Tia yakin jika Aris sebenarnya terluka, namun ia berusaha menutupinya," pinta Tia pada Hans.
"Baiklah, Sayang."