Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 43


__ADS_3

Tia menutup ponselnya, tidak berapa lama kemudian di pergi ke ruang kerja Hans.



Tok ... Tok ...



"Assalamu 'alaikum, Kak Hans," teriak Tia dari luar ruang kerja Hans.



Klek.



"Wa'alaikum salam, Tia. Ada apa?" tanya Hans masih dengan kacamata minus yang bertengger di hidungnya.



Untuk sekian detik, Tia terpesona dengan ketampanan Hans saat memakai kacamata.



"Tia? Ada apa?" Hans menggerakkan tangan kanannya di depan wajah Tia.



"Ah, itu. Ada yang ingin aku sampaikan pada kakak," ucap Tia gugup. Tia hampir saja melupakan apa yang menjadi tujuannya datang ke ruang kerja Hans.



"Ayo masuk, Tia," ucap Hans mempersilakan Tia masuk.



"Terimakasih, Kak." Tia masuk setelah mengembuskan napasnya perlahan untuk menghilangkan grogi.



"Silakan duduk, Tia. Ada apa?" Hans mempersilakan Tia duduk di depan kursi kerjanya.



"Sebelumnya, Tia mau minta maaf. Tia ingin menggunakan uang yang kakak berikan untuk melunasi biaya pengobatan mama di rumah sakit. Keadaan mama sudah lebih baik walau sekarang harus duduk di kursi roda. Jadi mama besok bisa dibawa pulang," ucap Tia dengan menundukkan kepala.

__ADS_1



"Tia, kau bebas menggunakan uang yang sudah aku berikan padamu. Semua sudah atas namamu, kau bebas menggunakannya," jawab Hans.



Tia tersentak, tidak menyangka jika semua uang yang diberikan Hans sudah menjadi miliknya. Namun, Tia tidak tahu haruskah dia merasa senang atau merasa sedih. Satu sisi dia bisa memiliki uang tanpa harus berusaha dan sisi lain hatinya merasa terikat jika dia menerima begitu saja.



"Terimakasih, Kak. Tapi sudah aku katakan pada kakak, bahwa aku akan mengembalikan nanti setelah aku sukses," jawab Tia yakin, dia merasa lebih tenang jika tidak berhutang budi pada orang lain.



Hans menatap kagum pada wanita yang ada di depannya itu. Hatinya makin mantap untuk menjadikan Tia sebagai istrinya.



"Tia, sudah aku bilang. Kita akan menikah, semua uangku adalah juga uangmu. Anggap saja itu adalah uang mahar dariku. Semua bebas kau gunakan. Bagaimana?" Hans mencoba memancing apakah Tia akan segera menerima uang itu atau tetap bersikukuh dengan pendiriannya.



Tia tiba-tiba berdiri kemudian berkata dengan tegas, "Kak ... Aku bukan perempuan murahan yang bisa dibeli dengan uang. Beda nanti jika kakak sudah menjadi suami Tia dan memberikan nafkah untuk Tia. Tapi kalau belum sah menjadi istri kakak aku sudah menggunakan uang itu maka sama saja kakak membeli tubuhku!"




"Tiaa ... tunggu, Tia!" teriak Hans mengejar Tia. Dengan sedikit berlari Hans mengejar Tia.



"Tia, maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk menyamakanmu dengan wanita murahan. Ketahuilah, Tia. Aku sudah percaya dengan mu kau wanita yang berbeda. Sungguh, Tia. Maafkan aku!" Hans memegang tangan Tia, kemudian dia bersimpuh di depan Tia.



"Ada apa ini?" Ningsih menghampiri keduanya karena melihat Tia yang sudah berurai air mata dan Hans yang meminta maaf pada Tia.



"Maaf, Bu. Tidak apa-apa. Semua hanya salah paham saja," ucap Tia sembari menghapus air matanya. Dia tidak ingin membuat Ningsih kepikiran tentang dirinya dan juga Hans.



Ningsih menatap curiga pada Hans dan Tia.

__ADS_1



"Benarkah tidak ada apa-apa? Hans jelaskan pada ibu!" Suara Ningsih sudah naik tiga oktaf. Dia tidak ingin melihat calon menantunya bersedih karena ulah sang anak.



"Maaf, Bu. Semua ini salah Hans. Hans tidak bermaksud untuk menyakiti hati Tia," jawab Hans menunduk.



"Kalian berdua ikut ibu!" Ningsih memutar kursi roda elektriknya.



Hans dan Tia mengikuti Ningsih dari belakang hingga sampai di ruang tengah. Di sana ternyata sudah duduk beberapa orang pemuka masyarakat.



"Tia, Hans. Ibu memanggil pak ketua RT, Ustadz dan beberapa orang penting di kampung ini agar menjadi saksi pernikahan kalian. Ibu ingin kalian menikah siri dulu! Besok baru daftarkan pernikahan kalian ke KUA setelah akta cerai Tia keluar," ucap Ningsih yang membuat Tia dan Hans hanya bisa melongo bingung.



"Pak Ustad, tolong nikahkan mereka sekarang juga! Saya tidak ingin mereka menjadi gunjingan para tetangga lagi," pinta Ningsih pada seorang ustadz yang mengurusi kemajuan masjid di perumahan elit mereka.



"Ibu?! Ada apa ini?" tanya Hans yang sebenarnya tidak menyukai keputusan sang ibu yang mendadak itu.



Ningsih menatap tajam pada sang anak. "Ibu lakukan semua ini untuk menjaga nama baik kita semua. Melindungi citra kalian di depan masyarakat. Tidak usah banyak bertanya, kalian cepat laksanakan apa yang ibu perintahkan!" Ningsih memegang teguh pendiriannya,



Hans hanya bisa berpasrah diri pada keinginan sang ibu.



"Silakan, Pak Ustadz. Kita mulai saja akad nikahnya," pinta Ningsih pada sang ustad.



"Tapi, Bu. Hans belum memiliki mahar untuk Tia," ucap Hans bingung, karena belum persiapan apapun.


__ADS_1


Ningsih tersenyum, kini sudah tidak ada lagi yang bisa menghentikan rencananya.


__ADS_2