Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 39


__ADS_3

Sore yang indah itu menjadi gelap bagi Wulan. Tubuhnya pingsan tepat di tengah jalan menuju parkiran. Semua orang pun bergegas menolong Wulan yang pingsan di jalan.


"Mbak ... bangun, Mbak! Mbak kenapa, Mbak!" seorang tukang parkir berusaha menyadarkan Wulan. Namun naas, Wulan tidak bangun dan tetap pingsan. Tubuhnya lemas seperti tak bertulang.



Tukang parkir dibantu beberapa pengunjung lain dan sopir Hans-pak Toni membawa tubuh Wulan ke rumah sakit terdekat, Hans yang ada di dalam mobil sama sekali tidak tahu jika Wulan pingsan tidak jauh dari tempatnya. Sengaja tadi sepulang dari rumah sakit, Hans meminta Tia ke bank untuk membuka rekening.



"Mas, semua sudah beres. ATM dan buku tabungan sudah aku pegang. Terimakasih ya, Mas," ucap Tia saat kembali masuk ke dalam mobil karena sudah selesai urusannya.



"Sama-sama, Tia. Semoga akan lebih memudahkan mu untuk mengatur keuangan, untuk M-banking sudah kamu urus sekalian?" tanya Hans takut Tia lupa untuk mengurus M-banking.



Tia tersenyum, kemudian mengambil ponselnya dan sedetik kemudian menunjukkan pada Hans bahwa di HP Tia sudah terpasang M-banking.



"Bagus, Tia. Kirimkan nomer rekeningmu ke nomor ponsel kakak, biar kakak bisa mengirim uang langsung ke rekeningmu," ucap Hans meminta nomer rekening Tia.



Senyum merekah di bibir Tia, dengan menunduk malu, Tia pun mengetik nomer rekeningnya lalu dikirim ke ponsel Hans.

__ADS_1



"Aku akan lihat Tia, apakah kau seperti kakakmu yang suka menghamburkan uang atau tidak. Jika itu benar, berarti memang keluarga kalian itu gila harta," gumam Hans di dalam hatinya. Rasa trauma masih bergelayut manja di relung hati Hans. Bohong jika Hans tidak berpikiran negatif tentang Tia.



Pengkhianatan Wulan berhasil menoreh luka di dalam hati dan mental Hans. Sudah banyak kerugian yang dialami oleh Hans, hanya karena kelakuan Wulan yang sangat gemar menghamburkan uang.



"Sudah aku kirim ya, Kak," ucap Tia sembari tersenyum simpul. Sebenarnya Tia tidak ingin meminta bantuan seperti ini, namun demi ibunya dia haruslah berusaha memendam rasa malunya. Entahlah bagaimana penilaian Hans pada dirinya.



"Okey, Aku kirim," sahut Hans sembari mengutak-utik ponselnya.




Pak Toni mengangguk pertanda dia akan melaksanakan perintah dari sang majikan.



"Pak Toni, tadi Tia lihat ada kerumunan di depan bank. Memangnya ada apa, Pak?" tanya Tia dengan wajah yang diselimuti rasa penasaran.


__ADS_1


Pak Toni melihat ke arah Tia melalui kaca Spion. Sambil tersenyum pak Toni menjawab, "Tadi ada sosok wanita yang tiba-tiba pingsan di tengah halaman depan bank, Mbak Tia."



"Wanita pingsan?"



"Iya, Mbak. Wanita itu cantik, memakai baju biru dengan lengan terbuka, sepertinya dia orang kaya. Penampilannya menunjukkan kalau dia orang berada," imbuh pak Toni.



"Baju biru? Tanpa lengan? Apakah rambutnya berwarna blonde?" cecar Tia dengan ekspresi wajah setengah terkejut.



Pak Toni terdiam sejenak untuk mengingat kembali warna rambut wanita yang dia tolong tadi.



"Sepertinya warna rambut wanita tadi emang blonde, Nyonya. Maaf saya sendiri kurang yakin karena tadi tidak fokus pada rambut wanita itu." Pak Toni kembali fokus mengemudi.



"Apakah itu mbak Wulan? Atau mungkin wanita lain? Tapi tadi aku perhatikan mbak Wulan pakai baju warna biru dan lengannya terbuka," gumam Tia memijat kepalanya yang berdenyut. Hari ini dia terlalu lelah, banyak drama yang harus dia lakoni hari ini.


__ADS_1


"Di bawa ke mana pak, wanita tadi?" Tia meremas kedua tangannya. Dia tidak bisa untuk tidak khawatir, takutnya wanita itu adalah kakak perempuannya.


__ADS_2