Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 85


__ADS_3

Setelah menenangkan dirinya sembari menunggu petugas dari rumah sakit jiwa berhasil memenangkan Clara, Cloe pun memutuskan untuk melihat kembali keadaan Clara yang masih mengamuk di dalam kamarnya dari balik pintu.


Ceklek!


Cloe membuka pintunya sedikit dan melangkah masuk ke dalam kamar setelah Clara tenang. Dia sengaja membiarkan pintu kamarnya terbuka untuk memudahkan petugas rumah sakit jiwa membawa Clara. Cloe bernapas lega saat dilihatnya sang kakak sudah tenang. Mungkin petugas itu berhasil memberi Clara obat penenang.


“Kak,” panggil Cloe seraya melangkahkan kakinya mendekati Clara yang terduduk di lantai sambil menarik-narik tali yang akan digunakan untuk mengikat tangannya.


“Aku tidak salah! Semua salahnya … semua salahnya!” teriak Clara kembali tanpa henti. Dia bahkan tidak memedulikan Cloe yang memanggilnya itu. Petugas pun dengan sigap mengikat Clara.


Cloe mengusap pelan wajahnya. Dia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Clara saat ini sudah diikat. “Kak, bentar lagi petugas rumah sakit akan membawa Kakak untuk dirawat. Maaf Cloe tidak bisa menjaga Kakak di sini karena keadaan Kakak malah menjadi tidak stabil,” ucap Cloe menjelaskan apa yang akan terjadi kepada Clara.


Meskipun Cloe kesal karena Clara bertingkah seperti orang gila dan menghancurkan keadaan kamar tidurnya, namun tetap saja hati Cloe serasa teriris menatap kondisi kakaknya sendiri yang terlihat sangat buruk.


Clara menghentikan teriakannya dan menoleh pada Cloe. Penampilannya sudah tidak terlihat baik lagi. Rambut yang kusut dan berantakan, serta bajunya yang sudah sangat kotor karena make up yang berserakan mengenai baju yang dikenakannya saat ini.


Cloe memegang kedua tangan Clara selagi Clara tetap tenang. “Kak, kamu bisa dengar Cloe, kan?” tanya Cloe menatap penuh harap agar Clara mau mendengarkannya.


Plak!


Clara berusaha melepas ikatan tali yang mengikat tangan Clara.. Dia bahkan memundurkan tubuhnya sambil menggeleng keras. “Tidak! Tidak! Jangan menangkapku lagi!” seru Clara yang kembali mengamuk. Namun gagal karena petugas itu sudah mengikat tubuhnya dengan lengan baju khusus untuk pasien.


Clara terlihat begitu takut setelah mendengar kata rumah sakit dari Cloe. Dia sepertinya kembali teringat bagaimana dia di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa sebelum Cloe kahirnya menyelamatkannya dari sana.


“Tidak … aku tidak ingin kembali ke sana,” gumam Clara menunduk dalam-dalam wajahnya. Dia menggeleng dan menatap Cloe dengan tatapan menyedihkan. Ingin Cloe memeluk tubuh sang kakak dengan erat, berharap semua ini hanya mimpi belaka.


Cloe menghela nafas berat ketika melihat keadaan Clara yang semakin memburuk. Dia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar.


“Aku tidak bisa melhat Kakak seperti itu. Dia sangat trauma dengan apa yang terjadi,” lirih Cloe memejamkan matanya sejenak. “Aku tidak punya pilihan lain.”


Tidak lama setelah itu, petugas yang berasal dari rumah sakit jiwa pun membawa Clara keluar dari rumah Cloe. Sebelum petugas itu pergi membawa sang kakak ke rumah sakit. Cloe berjalan keluar rumah dan menghampiri petugas rumah sakit jiwa yang diutus untuk membawa Clara kembali ke rumah sakit jiwa.


“Aku titip kakakku,” ucap Cloe lirih pada petugas rumah sakit jiwa itu.


“Tolong bawa Kakakku ke rumah sakit dengan hati-hati,” imbuh Cloe kepada petugas tersebut.


Dua petugas itu langsung membawa Clara masuk ke dalam mobil. Namun sayangnya Clara malah memberontak karena dia tidak ingin dikembalikan ke rumah sakit jiwa.


“Tidak! Jangan tangkap aku! Aku tidak ingin pergi!” teriak Clara yang mulai berteriak kembali. Namun hal itu tidaklah bisa membuat petugas itu menurutinya.


Cloe memandang sedih pada Clara yang mulai berada di dalam ambulans rumah sakit jiwa. Padahal kalau bisa Cloe tidak ingin membiarkan Clara di rumah sakit jiwa lagi.


“Maaf, Kak,” ucap Cloe pelan.


“Kalau begitu kamu akan pergi,” ucap petugas itu seraya masuk ke dalam ambulans.


Cloe menganggukkan kepala dan menatap ambulans yang semakin melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah Cloe.

__ADS_1


Kakinya kembali melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tidak lupa dia menutup pintu rumahnya dan menguncinya.


Setelahnya Cloe masuk ke dalam kamar tidurnya dan menatap kamarnya yang sudah terlihat seperti kapal pecah.


Helaan nafas berat kembali Cloe hembuskan. Dia mendudukkan dirinya di pinggir kasur. “Kalau bisa aku tidak mau Kakak diperlakukan seperti itu. Kakak tidak salah, yang salah memang orang yang telah membuat Kakak jadi seperti itu,” gumam Cloe sambil mengepalkan tangannya erat.


Perasaan marah menyelimuti benak Cloe. Memikirkan keadaan Clara yang semakin memburuk membuatnya kembali menyalahkan orang-orang yang ikut andil dalam membuat kakaknya menjadi orang yang memiliki gangguan kejiwaan.


“Aku tidak akan membiarkan mereka hidup senang di luar sana tapi Kakak malah menderita di rumah sakit. Aku akan membalaskan dendam kepada mereka semua, Kak,” ucap Cloe dengan penuh kesungguhan. Dia benar-benar akan membalaskan apa yang telah dialami oleh Clara kepada sosok yang sudah membuat Clara menjadi seperti sekarang ini.


***


“Lepaskan aku!” seru Clara memberontak ketika tangannya ditahan oleh petugas rumah sakit jiwa karena sejak tadi Clara tidak berhenti memberontak.


“Bu, tenanglah. Kita sudah hampir sampai,” ucap petugas itu berusaha menahan pergelangan tangan Clara.


Tiba-tiba Clara berhenti memberontak. Tatapannya mengarah ke arah kaca pintu ambulans yang menembus hingga keluar sehingga Clara dapat melihat dengan jelas sosok yang merupakan mantan suaminya dulu.


“Mas,” gumam Clara pelan. Dia menepis kuat tangan petugas itu dan menempelkan tangan ke kaca pintu ambulans itu. Ditatapnya dengan jelas sosok Gunawan yang berada di dalam mobilnya.


Mobil Gunawan yang memang kaca mobilnya dibiarkan terbuka membuat Clara dapat dengan leluasa memandang wajah serius Gunawan di sana.


“Mas!” teriak Clara keras namun percuma saja karena Gunawan tidak akan bisa mendengarkan nya.


“Aku ingin ketemu sama Mas Gunawan,” ucap Clara pelan.


Tangan Clara mencoba membuka pintu ambulans itu namun sayangnya hal itu sia-sia karena dia tidak bisa membuka pintu ambulans yang terkunci itu.


Petugas rumah sakit jiwa yang memang menjaga Clara mulai dibuat kewalahan akan tingkah Clara yang tidak bisa diam sejak tadi. Rekannya yang duduk di sampingnya langsung mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam kotak medisnya.


“Pakai ini untuk membuatnya tenang,” ucap rekannya itu kepada petugas tersebut.


Petugas itu langsung mengambil suntikan yang telah berisi obat penenang itu. mereka tidak punya cara lain untuk membuat Clara lebih tenang karena kalau tidak mungkin Clara akan semakin mengamuk untuk turun dari ambulans.


“Bu, maaf tolong tahan sebentar,” ucap petugas itu memegang tangan Clara dan menahannya. Rekannya juga ikut membantu dengan memegang sebelah tangan yang lain agar Clara tidak bergerak banyak ketika petugas itu menyuntikkan obat penenangnya.


“Tidak! Lepaskan! Aku harus turun untuk ketemu sama Mas Gunawan!” seru Clara berusaha melepaskan tangannya yang ditahan.


Namun hal itu sia-sia karena petugas rumah sakit tersebut jauh lebih kuat tangannya dibandingkan Clara. Dengan sigap mereka langsung menyuntikkan obat penenangnya di lengan atas Clara.


“Arrgh ...!” seru Clara merasakan rasa sakit di lengan atasnya.


Beberapa saat kemudian, Clara mulai tenang. Tubuhnya terasa lemas dan petugas rumah sakit pun merebahkan tubuh Clara di atas ranjang.


“Akhirnya dia sudah tenang.”


Sementara itu Gunawan menoleh ke arah mobil ambulans yang lewat, perasaannya mengatakan seperti ada yang memanggil dirinya.

__ADS_1


"Mungkin hanya perasaan ku saja," ujar Gunawan di dalam hati. Saat ini dirinya sedang berhenti di lampu merah.


Tiin ... Tiiin ....


Suara klakson mobil yang berada di belakang Gunawan sudah meminta Gunawan untuk segera melajukan mobilnya karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.


"Iya ... Iya!" seru Gunawan seakan membalas suara klakson yang ditujukan kepadanya.


Gunawan melajukan mobilnya menuju ke rumah Tia. Hari ini dia akan memberi kabar pada Tia dan Hans kalau kasus Merlyn sudah berhasil naik ke persidangan.


Melihat buah-buahan yang ada di toko buah yang berderet di pinggir jalan, Gunawan tertarik untuk membeli buah tersebut. Mobil Gunawan pun menepi. Dia memarkirkan mobilnya agar tidak mengganggu jalan. Setelah selesai parkir Gunawan pun masuk ke toko buah tersebut.


Gunawan asyik memilih buah yang akan dia berikan pada anak dan cucunya. Tidak berapa lama kemudian, tanpa sengaja Gunawan mendengar sepasang suami istri yang sedang berdebat memilih buah.


"Mas! Jangan buah yang mahal bisa gak sih? Kita beri buah yang biasa saja, toh di kulkas mereka sudah banyak buah mahal yang di simpan!" ujar si wanita yang kesal melihat suaminya memilih buah yang mahal.


"Tidak masalah, Dev. Toh semua ini juga untuk kakak kita yang sudah banyak membantu kita. Kamu tahu kan kalau dua keponakan ku itu suka buah Anggur?" tanya si lelaki itu. Apapun yang ia pilih semata-mata sesuai dengan kesukaan orang yang akan diberinya oleh-oleh.


"Tapi kan mereka sudah sering makan buah itu. Mengapa diberi lagi, coba ganti dengan yang lain. Siapa tahu bisa membuat mereka juga merasakan buah lokal!" timpal sang wanita yang masih belum bisa terima jika sang suami tetap memberi buah yang mahal.


"Sudahlah, duit mas tidak akan habis jika hanya untuk membeli satu kilogram mangga!" ujar si suami yang tidak respect pada sang istri karena terlalu perhitungan.


Gunawan mengintip dari balik celah tanaman hias yang dijadikan pembatas sekaligus tirai hiasan.


"Aris? Bukankah itu Aris adik dari Tia?" gumam Gunawan yang terkejut melihat adik dari putrinya itu berdebat dengan sang istri.


Gunawan hanya diam menyimak perdebatan itu, tanpa mau ikut campur karena itu bukan urusan dirinya.


"Rupanya istri Aris itu sangatlah perhitungan. Memang susah jika punya istri yang sangat perhitungan. Apapun akan dicatat dan dihitung. Takut jika hartanya berkurang, padahal dengan memberi buah tangan pada orang yang akan dikunjungi akan membuka pintu Rizki yang lain," ujar Gunawan di dalam hati.


Gunawan pada akhirnya memilih buah anggur hijau yang menjadi kesukaan putri dan cucunya. Selain itu dia juga memilih beberapa buah apel dan pear untuk menantu dan cucunya.


"Berapa mbak semua?" tanya Gunawan yang sudah sampai di depan kasir.


"Tuan Gunawan?"


Gunawan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


"Aris? Bagaimana kabar mu, Ris?" Sapa Gunawan. Dia pun menoleh ke arah Aris.


"Alhamdulillah baik, Tuan. Kami berdua mampir untuk beli oleh-oleh bagi kak Tia dan juga untuk dua keponakan," balas Aris dengan senyum yang dipaksakan. Aris takut jika sampai masalah tadi diketahui oleh Gunawan.


"Tuan, silakan," ucap sang penjaga kasir sembari menyerahkan struk nota pembelian pada Gunawan.


"Terimakasih, Mbak." Gunawan membalas dengan tersenyum.


Setelah selesai membayar, Gunawan pun berpamitan pada Aris dan Devi yang sedari tadi menatap Gunawan tidak suka.

__ADS_1


"Aris, saya duluan ya ... Sampai bertemu nanti di rumah Tia," ujar Gunawan menepuk bahu Aris.


"Iya, Tuan. Silakan," jawab Aris tersenyum kecut, dirinya menjadi tidak enak karena tahu pastilah Gunawan tadi sudah mendengar perdebatannya dengan Devi.


__ADS_2