Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 52


__ADS_3

Deru mobil Gunawan membelah keramaian kota Jakarta. Mobil yang berlalu lalang tidak menghentikan dirinya untuk menyusul Sinta. Mobil Gunawan terhenti di lampu lalu lintas.


"Aku harus menemukan anak itu! Sudah cukup aku bersabar, kini tidak akan lagi aku berbelas kasihan pada anak itu. Dia sudah terlalu lancang dan sembrono!" gumam Gunawan dengan tangan yang mengepal di atas kemudi. Lampu lalu lintas masih di posisi merah. Gunawan duduk dengan kedua tangan memegang dahinya.



Seseorang tiba-tiba melintas di zebra cross lampu merah itu.



"Leo? Bukan kah itu Leo --suami Sinta? Dengan siapa dia? Astaghfirullah ... Beranis sekali dia berduaan dengan wanita. Ada apa antara Sinta dan Leo? Apa mereka sudah bercerai? Tapi mengapa mereka tidak memberitahu aku?!" gumam Gunawan dengan mata yang terus mengikuti kemana Leo menghilang.


Tiin ....


Tin ....


Mobil di belakang Gunawan sudah tidak sabar untuk meminta Gunawan lekas jalan. Gunawan pun segera melajukan kembali mobilnya.



Sepanjang jalan, Gunawan berpikir. Ada apa sebenarnya dengan rumah tangga Sinta. Sudah sering Gunawan bertanya pada Sinta, kemana Si Leo suaminya. Namun selalu dijawab kalau sang suami ke luar kota untuk mencoba mencari pekerjaan baru.


__ADS_1


Gunawan menambah kecepatan mobilnya agar lebih cepat sampai. Dia berharap Sinta masih berada di restoran yang Tia kirim tadi ke hp Gunawan.



Sepuluh menit kemudian, Guanwan pun sampai di mall tempat Sinta dan Sherly anaknya memilih untuk makan malam.



"Di mana mereka?!" gumam Gunawan ketika sampai di depan restoran yang dimaksud.



Gunawan segera masuk ke restoran tersebut. Setelah mengambil daftar menu makanan, Gunawan berjalan sembari mencari tempat duduk Sinta dan Sherly.




Gunawan mencari tempat duduk yang bisa melihat ketiga orang itu tanpa takut ketahuan. Setelah mendapatkannya, Gunawan mulai menulis pesanan sambil mencuri dengar apa yang ketiga orang itu katakan.



"Papi ... Papi, besok ajakin Sherly ke sini lagi ya?" celoteh Sherly tanpa merasa canggung. Anak itu ternyata pandai dalam memanfaatkan situasi.

__ADS_1



"Iya, nanti papi ajak Sherly ke sini lagi. Asal papi boleh tidur di rumah Sherly seperti kemarin," jawab lelaki dengan memakai jas berwarna hitam itu. Jelas sekali dia terlihat seperti orang yang berada.



"Mas Galih, terimakasih banyak lho, selalu bawa kamu ke tempat -tempat yang mewah," ucap Sinta di sela kegiatannya memotong daging steak untuk Sherly.



"Tentu, Sayang. Asal kamu ijinkan aku untuk menginap di rumahmu dan mereguk manisnya madu milikmu," ucap Lelaki yang bernama Galih itu.



"Apa?! Jadi Sinta sudah berbuat me sum di rumahku!" geram Gunawan menahan amarah. Dia tidak menyangka jika Sinta akan berani memasukkan lelaki lain di rumahnya. Gunawan kecolongan, kebebasan yang dia berikan pada Sinta ternyata sudah di salah artikan.



Gunawan kembali mempertajam pendengarannya. Dia ingin tahu apa yang dilakukan Sinta selama ini.



"Tentu saja, Mas. Rumahku selalu terbuka untukmu saat papaku tidak ada tentunya," jawab Sinta dengan senyum yang lebar.

__ADS_1


Rahang Gunawan mengeras, itu tandanya dia saat ini sangat marah. Sinta telah berani menjadikan rumahnya tuk berbuat me sum.


__ADS_2