Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 64


__ADS_3

Gunawan menatap lembut pada putri semata wayangnya itu. Dengan sabar Gunawan menunggu hingga Tia siap untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.



"Ayah, apakah seorang lelaki itu diam tandanya marah?" tanya Tia dengan malu-malu. Semenjak Tia menceritakan semua yang terjadi di kolam renang itu, Hans lebih banyak diamnya.



Gunawan tersenyum mendengar pertanyaan sang putri yang begitu polos. Gunawan sadar jika putrinya itu dibesarkan dalam lingkungan yang tidak sehat. Lingkungan di mana dirinya tidak diterima dalam keluarganya sendiri.



"Duduklah, kamu pasti lelah sedari tadi terus berdiri," ajak Gunawan menarik Tia untuk duduk di kursi sofa.



"Apa Hans mendiamkan dirimu?" tanya Gunawan mengusap kepala Tia dengan lembut.



"Benar, Ayah. Sejak kemarin setelah Tia cerita tentang kejadian Hasna yang ditolong oleh mas Ridho, Mas Hans diam saja. Tia tanya ada masalah, tapi mas Hans menjawab tidak ada. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama Hasan dan Hasna," ucap Tia dengan raut muka murung.



Gunawan terkekeh melihat putrinya yang murung tapi menggemaskan itu.


__ADS_1


"Tia, memang benar jika lelaki itu memiliki cemburu yang sangat besar. Justru dengan cemburu itu dia sangat mencintaimu. Akan tetapi lelaki yang diam karena cemburu itu lebih berbahaya dibanding dengan lelaki yang cemburu langsung marah-marah atau mengajak berkelahi dengan sosok yang dianggap merusak keharmonisan hubungannya," kata Gunawan menjelaskan sedikit tentang sifat lelaki.



Tia tercengang dengan penjelasan yang diberikan sang ayah. Ternyata lelaki yang diam saja itu lebih mengerikan dibanding lelaki yang langsung meluapkan amarahnya.



"Jadi mas Hans, termasuk dalam kategori yang berbahaya, Yah?" tanya Tia mempertegas apa yang disampaikan oleh ayahnya.



"Bisa dibilang begitu, ayah yakin Hans saat ini pasti mengawasi gerak -gerik Ridho. Ayah heran, mengapa Ridho selalu saja hadir di antara kalian? Mengapa dia tidak mencari istri baru saja, atau minim dia melanjutkan hidupnya dengan wanita lain," ujar Gunawan yang sebenarnya juga kesal dan geram pada Ridho. Seakan Ridho selalu menjadi bayang-bayang kebahagiaan Tia.




"Seharusnya kau tidak pergi sendiri dengan Hasna dan Hasan tanpa Hans yang menemani. Apalagi di kolam renang, jelas kehadiran seorang lelaki sangat diperlukan. Pantas saja Hans marah dan kecewa, karena kau tidak bisa menyadari bahaya yang bisa ditimbulkan jika pergi bertiga saja tanpa Hans," imbuh Gunawan.



Tia menunduk sedih, di dalam hatinya dia mengakui kecerobohannya. Tia lupa jika dirinya sedang hamil dan juga membawa dua anak kecil di kolam renang. Keselamatan dua anak dan satu calon bayi itu tidak di perhatikan oleh Tia.



"Benar yang dikatakan oleh Ayah. Sudah sepantasnya mas Hans marah kepada Tia. Tia begitu ceroboh dan bodoh tidak memperhatikan keselamatan anak - anaknya.

__ADS_1



"Sudahlah, Tia. Lebih baik kau minta maaf pada Hans. Akui semua kesalahanmu. Dan jangan pernah menganggap apa yang dilakukan oleh Hans adalah sebuah keegoisan," tutur Gunawan menasehati putrinya.



"Tidak, Yah. Kali ini Tia benar-benar tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Terimakasih ayah sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan Tia," Tia memeluk sang ayah dengan penuh kasih sayang.



Gunawan merapikan jilbab yang membungkus kepala Tia. Tia merasakan kebahagiaan tiada tara karena memiliki ayah yang sangat perhatian kepadanya.



"Baiklah, Ayah. Tia permisi pulang terlebih dahulu. Tia akan langsung ke kantor mas Hans saja," ucap Tia berdiri merapikan penampilannya. Dia tidak mungkin ke kantor Hans dalam keadaan yang lecek, tidak rapi.



"Assalamu 'alaikum, Yah,X ucap Tia mengecup punggung telapak tangan sang ayah.



"Wa'alaikum salam, jaga baik-baik calon cucu ayah," ucap Gunawan yang tidak bisa mencegah kepergian anak kesayangannya. Tia dengan perasaan lega keluar dari kantor Gunawan. Keputusan Tia untuk meminta maaf pada Hans adalah keputusan yang sangat baik.


Mobil Tia melaju meninggalkan kantor milik Gunawan. Saat ini hatinya dipenuhi kebahagiaan. Mobil Tia akhirannya memasuki halaman kantor Hans.


Tia turun di depan lobi, dan berjalan dengan anggunnya ke arah lift.

__ADS_1


__ADS_2