
Suasana bahagia meliputi hati Hans dan Tia. Pasalnya, akta cerai Tia sudah jadi dan sekarang mereka berdua mengurus surat pernikahan agar pernikahan mereka kemari sah di mata Hukum dan Agama.
"Alhamdulillah, Tia. Semua proses dipermudah. Kita akan meresmikan pernikahan kita besok hari minggu. Semua persiapan sudah mas serahkan pada ibu dan sekretaris mas. Aku harap kau bahagia. Oh ya, untuk gaun pengantin sudah disiapkan di butik kita kemarin itu. Kau tinggal pilih mana yang kau suka," ucap Hans menggenggam tangan Tia lembut.
Dada Tia bergemuruh, baru pertama kali dia merasakan hatinya berdebar saat berada di samping lelaki. Berbeda dengan saat dia menjadi istri Ridho, debar itu tidak ada. Yang Tua tahu bagaimana cara menjadi istri yang baik sesuai kemauan Ridho.
"Ah, Iya, Mas. Aku menurut saja, apapun yang menurut mas baik, maka akan baik untuk Tia," balas Tia tersipu malu. Pipinya sudah bersemu merah.
"Tuan Hans dan Nyonya Tia, silakan ikuti saya," seru seorang petugas dari kantor urusan agama.
Hans membantu Tia untuk berdiri dari duduknya. Hanya perhatian kecil saja , Tia sangat tersentuh. Dirinya baru pertama kali merasa dimuliakan.
Tia berjalan di depan Hans, kemudian mereka duduk berdampingan untuk melakukan penandatanganan.
"Semua sudah selesai, apakah kalian bisa membawa surat nikah kalian pulang," ucap sang petugas yang mengurusi administrasi pernikahan.
"Secepat itu, Pak?" tanya Tia tidak percaya jika surat nikahnya bisa cepat selesai hari itu juga.
"Benar, Nyonya. Semua surat sudah diurus oleh tuan Hans setelah Anda memproses perceraian Anda dengan suami pertama. Tinggal menunggu akta cerai saja, dan semuanya sudah selesai," jawab sang petugas itu.
__ADS_1
Tia melirik ke arah Hans, Hans menjadi kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sungguh se-niat itukah kau ingin menikahi ku, Mas? Sungguh berdosa sekali jika aku tidak menjadi istrimu seutuhnya," gumam Tia di dalam hati. Dia sangat terharu dengan sikap Hans yang begitu mengagumkan.
Cinta dalam diam, itulah yang Hans rasakan pada Tia. Tanpa banyak kata, Hans menunjukkan cintanya pada Tia melalui perbuatan.
"Mmm ... Terimakasih, Pak. Kami mengucapkan banyak terimakasih. Bapak berkenan mempercepat proses pernikahan kami. Walau terkesan unik, tapi bagi kami ini semua merupakan karunia yang sangat besar. Sekali lagi terimakasih, dan kami pamit dahulu, Pak." Hans mengambil surat nikahnya itu dan kemudian berpamitan pulang.
Sepanjang jalan, Tia terdiam. Dia merasa malu karena belum menjadi istri yang seutuhnya untuk Hans.
"Tia, kita langsung menuju ke butik dan salin madam Jo. Kamu kenapa sedari tadi diam saja, Tia?" tanya Hans. Dia bingung saat mendapati Tia hanya diam saja.
"Ah, tidak apa-apa, Mas. Boleh aku bertanya?" Tia merasa ragu ingin melanjutkan pertanyaannya lagi atau tidak.
"Silakan saja, bukankah kita sekarang suami istri yang sah secara agama dan hukum?" jawab Hans dengan tersenyum.
"Mmm ... Itu ...."
"Itu apa, Tia? Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan," ucap Hans lagi.
__ADS_1
"Mmm ... Apa mas Hans ingin melakukan itu ...?" tanya Tia gugup, tangannya sudah meremas ujung baju atasannya.
"Itu apa?" goda Hans. Dia ingin tahu sejauh mana Tia akan berani mengatakannya.
"Itu ... bikin anak!" ucap Tia polos. Dia memang kurang update untuk hal yang berbau romantis hubungan suami istri.
Ciiit ....
Hans menginjak rem mendadak demi tertawa sepuasnya. Bagaimana tidak pertanyaan yang keluar dari mulut Tia, berhasil membuatnya merasa ingin tertawa terpingkal-pingkal.
"Tia ... Mengapa kau bertanya seperti itu? Hahaha ...."
"Ck! Mas! Kok malah ketawa sih! Tia hanya ingin tahu saja!" sungut Tia yang merasa kesal dengan Hans.
Sifat asli Tia suka merajuk dan manja yang tertahan selama hidup dengan Ridho sekarang bisa keluar bebas bersama Hans. Tia merasa dirinya bisa lebih terbuka dengan Hans. Dulu bersama Ridho, jangankan ingin bermanja, menawarkan makan dan minum saja malah kena marah.
"Maaf, Tia. Pertanyaanmu begitu lucu. Tapi kalau aku jawab iya, bagaimana?" goda Hans yang suka melihat pipi Tia berubah menjadi merona merah.
"Mmm ... Ya ... Gimana ya, Tia maluu ...." Tia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya berdebar, dan jantungnya berdetak dengan kencang.
Hans merasa diri Tia itu unik, berbeda jauh dengan sang kakak. Walau terlahir dari rahim yang sama akan tetapi berbeda bibitnya. Hans merengkuh, tubuh sang istri. Mengecup bahunya kemudian kembali melajukan mobilnya. Beruntung tadi dia menepikan mobilnya terlebih dahulu, sehingga tidak membuat pengendara lain menjadi marah.
Tidak berapa lama kemudian, mereka sampai juga di Salon ERL-MUA.
__ADS_1