Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 29


__ADS_3

Aris setelah mendapati bahwa sang calon istri sudah tidak mengajar lagi di sekolah sang keponakan, hari ini berniat ke rumah Alya. Dia sengaja mengambil cuti ijin tidak masuk kerja pada Hans dengan alasan kurang enak badan. Lebih tepatnya adalah kurang enak hatinya. Ada perasaan yang mendera ingin bertemu dengan Alya dan menanyakan semua.


Sementara itu ....


Nigam saat ini berada di kediaman Alya, mereka berada di kamar Alya sedang bermesraan manja. Alya memeluk Nigam dari samping, mereka tengah menonton televisi. Bahkan posisi mereka cukup binal, dengan Nigam yang mengelus paha seksi milik Alya.


Ini ada di rumah, mereka tanpa memiliki hubungan berani sekali melakukan ini. Lantas bagaimana ke depannya? Mereka sama sekali tak peduli, dan bahkan tanpa rasa malu mereka masih bermesraan. Alya sangat suka dengan belaian lembut dari Nigam.


Ia berpikir ini tak ia dapatkan dari Aris, jadi terserah ia mau mendapatkan belaian itu dari siapa. Bahkan Alya mengunci pintu kamar ini supaya tidak ketahuan oleh siapapun. Dengan sengaja ia mematikan ponselnya supaya Aris tidak meneleponnya. Karena tidur saja ia sangat malas membalas telepon dari laki-laki itu.


"Mas, apakah untuk hari ini kamu mau tidak mau mengulang kembali indahnya malam itu?" tanya Alya dengan suaranya yang manja.


"Hmm ... Hari ini kamu tidak begitu menarik, apakah berat badan kamu naik?" tanya Nigam.


"Emangnya aku terlihat gemukan ya? Padahal berapa hari ini aku pun juga buat devisit kalori." Alya mengerucutkan bibirnya kesal.


"Enggak kok, aku cuma bercanda aja. Bagian tubuh kamu masih bagus, Sayang. Udah pertahanin saja berat segini. Aku suka kamu yang menarik seperti ini," sahut Nigam.


Bahkan sekarang tangan wanita itu mulai bergerilya di beberapa organ in tim Nigam. Sebenarnya Alya sangat merindukan belaian lembut dari Nigam. Tetapi tidak ada gunanya jika dia tidak memiliki hasrat untuk menyentuh tubuhnya. Tetapi mau bagaimanapun Alya tetap berusaha untuk menggoda Nigam.



Alya terus berusaha untuk membangkitkan ha srat kelelakian dari Nigam. Tatapannya juga begitu menggoda apalagi yang di balik sana sudah mengeras. Nigam menyuruh Alya untuk duduk di pangkuannya. Setelah perempuan itu berada di atas kakinya ia mulai mengusap kepala Alya.


"Yaudah, kalau kamu yang minta aku akan menurutinya. Apakah kamu begitu merindukan aku, hmm?" tanya Nigam. Suaranya yang begitu serak mampu membuat hasrat yang ada pada diri Alya langsung memuncak.


"Iya, Mas. Aku sangat merindukan kamu, Aku merindukan saat-saat kita di mana kita berperang di kasur," sahut Alya sembari tersenyum malu.


"Baiklah, nanti kita akan bermain bersama."


Nigam mulai mengecup le her Alya, bahkan ia meninggalkan jejaknya juga di sana. Dan akhirnya terciptalah suara-suara yang cukup aneh dan saling bersahutan. Mereka saling bertukar saliva satu sama lain dan bahkan dengan posisi Alya yang masih berada di pangkuan Nigam.


***


Sementara Aris sendiri yang berencana akan mengunjungi rumah calon istrinya itu dengan membawa kejutan, kejutannya yaitu membawa bunga dan coklat kesukaan Alya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah kekasihnya itu. Beberapa kali Aris menatap bunganya yang berada di kursi penumpang. Tadi Aris berhenti sejenak di toko bunga dan coklat hanya demi Alya.


Aris sudah tidak sabar untuk melihat reaksi dari kekasihnya itu ketika ia datang dengan membawa bunga. Aris berpikir Alya akan menyukai laki-laki yang romantis. Sengaja ia tidak memberitahu Alya bahwa dirinya akan datang ke rumahnya. Karena ia ingin memberikan surprise untuk Alya.


Aris berharap semoga saja Alya suka dengan bunga ini, rencananya Aris nanti juga akan mengajak Alya jalan-jalan atau nonton film. Tidak sabar sekali menunggu momen itu, sesampainya di kediaman Alya. Ia langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah perempuan itu. Ia turun terlebih dahulu lalu membuka pintu mobil yang sampingnya untuk mengambil coklat dan juga buket bunga itu.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum," salam Aris sembari mengetuk pintu. Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di rumah ini tetapi pintunya terbuka jadi dari luar saja ia bisa melihat apa yang terjadi di dalam.


"Alya, Assalamualaikum."


"Mas, gimana permainan kita hari ini? Apakah kau suka? Apa kamu mau minta jatah lagi sama aku?" tanya Alya tanpa difilter terlebih dahulu.


Tiba-tiba saja Aris mendengar suara yang sangat ia kenal, itu suara Alya. Disertai dengan langkah kaki dan ternyata kekasihnya itu turun dari tangga dengan seorang laki-laki. Rupanya Alya masih belum tahu bahwa ia sudah berada di rumah ini.

__ADS_1


Aris memilih untuk bersembunyi di balik tembok guna melihat apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu bersama dengan pria lain. Jujur saja jika saat ini perasaannya begitu berkecamuk, tetap Alya hubungan kekasihnya bersama dengan pria itu.


Aris mengintip dari balik tembok, ia melihat Alya dan pria yang ia kenal melakukan hal yang tidak senonoh di teras rumah ini. Bahkan tangannya terkepal, hingga membuat pegangan tangan dari buket bunga itu ikut kusut. Padahal dari tadi ia mencoba berpikir positif dan menganggap bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun.


Aris memperhatikan, semakin ke sini gelagat mereka begitu aneh dan juga jika mereka tidak memiliki hubungan apapun mengapa mereka sampai berbuat seperti itu? Terus jatah apa yang Alya maksud? Bahkan ia melihat bekas kemerahan di leher Alya seolah-olah mereka sehabis melakukan sesuatu.


"Terimakasih sayang, permainan hari ini cukup hebat. Tetapi sayangnya permainan kita harus diakhiri segera dikarenakan aku ada panggilan untuk kembali ke kantor. Andai saja aku tidak ada panggilan pasti aku akan melanjutkan kegiatan itu dengan kamu."


"Iya, mas. Aku juga sangat senang kok, nggak apa- apa deh mainnya kita kurang puas. Nanti malam kamu bisa ke rumah aku lagi dan kita puasin saja permainannya nanti." Alya sebenarnya tidak ingin Nigam pergi meninggalkan dirinya.


Nigam dan Alya tertawa bersama-sama. "Yaudah, aku pergi dulu ya sayang. Kalau kamu sudah merindukan sentuhan aku kamu bisa menelepon aku dan menyuruh aku datang ke sini, pasti aku langsung datang ke sini dengan sangat bahagia."


"Iya mas, kamu hati-hati di jalan ya."


Ini keterlaluan, Aris menjatuhkan buket bunga dan coklatnya hingga membuat dua orang yang tadi bercengkrama terkejut. Khususnya Alya, dia menatap ke arah samping dan melihat calon suaminya sudah berada di sini.


Bugh!


Tanpa aba-aba Aris langsung memukul Nigam, bahkan hingga membuat laki-laki itu tersungkur. Percakapan tadi sudah cukup membuat Aris naik darah. Sudah tidak ada kata lain selain menghabisi nyawa laki-laki itu sekarang juga. Bisa-bisanya mereka bermesraan dan bahkan posisinya adalah calon suami Alya.


Bugh


Bugh


Bugh


Pukulan itu terus Aris berikan kepada Nigam, tidak ada kata ampun untuk menghukum pria yang sangat jahat itu. Sementara Alya sendiri tidak tahu jika Aris sudah berada di rumahnya. Biasanya laki-laki itu akan berbicara terlebih dahulu sebelum mengunjungi rumahnya. Apanya karena dari tadi ia tidak menyalakan teleponnya? Sehingga dia datang ke sini secara tiba-tiba?


Bugh


Bugh


"Berani sekali dia melakukan ini kepada mu, Alya?! Aku tidak bisa terima! Selama ini kau menganggap aku apa?" tanya Aris tidak habis pikir.


Bugh


Bugh


"Apakah setelah ini kau masih berani untuk menampakkan dirimu setelah apa yang kau lakukan untuk hubungan kita?" ucap Aris masih belum berhenti memukuli Nigam.


Bugh


Bugh


Bugh


Nigam tidak mau kalah, bahkan ia balik memukul Aris sampai membuat dia tersungkur. Alya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa supaya bisa menghentikan perkelahian mereka. Bahkan Nigam sendiri juga tak mau kalah, dia memukuli Aris lebih dari Aris memukuli dia.


Kondisi kedua orang itu benar-benar memprihatinkan dengan beberapa lebam di wajah yang terlihat cukup jelas. Dari ujung sana Alya hanya berteriak karena dia pikir teriakannya terdengar di telinga mereka. Padahal dia tidak tahu jika saat ini kedua laki-laki itu berkelahi karena dia.


"Berhenti, Aris. Kamu bisa membuat dia mati! Tolong berhenti!" Alya menangis. Ia takut Nigam kenapa-napa, andai saja dirinya tahu hal ini akan terjadi mana mungkin ia membiarkan Nigam datang ke rumahnya.


Argh ...

__ADS_1


Nigam berteriak ketika Aris mematahkan tangannya dan bahkan hingga menimbulkan suara keretakan tulang yang cukup nyaring. Siapapun yang mendengar ini pasti akan merasa ngilu. Melihat Nigam sudah tidak berdaya, membuat Aris bangkit dari posisinya.


"Bagaimana? Kamu puas sudah bermain api di belakang aku? Apakah selama ini perhatian yang aku berikan kepada kamu kurang hingga kamu melakukan ini kepadaku? Bahkan aku rela untuk tidak berdekatan dengan wanita lain supaya kamu tidak cemburu. Tetapi Apa yang kamu lakukan benar-benar di luar dugaanku!" sentak Aris pada Alya.


Aris tertawa, nasibnya ini memang selalu buruk. Atau jangan-jangan di sini dirinya yang terlalu baik? Alya bingung harus mengatakan apa,di sisi lain ia ingin menolong Nigam yang sudah tergeletak tidak berdaya. Tetapi ia harus menjaga imagenya di depan Aris.


"Bagaimana Alya? Apakah kamu tidak mau menyangkal dan memberikan penjelasan? Atau memang semua yang aku lihat ini benar adanya? Ayo Alya. Katakan suatu kepadaku, Aku ingin mendengarkan penjelasan yang keluar dari mulut kamu. Jangan hanya diam saja seperti ini." Aris mengatakan itu dengan nada yang begitu pelan.


"Mas, maafin aku. Aku nggak bermaksud untuk melakukan ini di belakang kamu. Tetapi keadaan yang memaksa aku." Akhirnya Alya buka suara.


Aris tertawa, tertawa ini begitu sakit dan bahkan dirinya harus tersenyum atas apa yang terjadi hari ini.


"Terimakasih, Alya. Terima kasih karena kamu sudah membuat aku jatuh terlalu dalam dan bahkan aku belum sempat merasakan kebahagiaan dengan kamu."


Aris melangkahkan kakinya pergi dari sini, Alya berniat mengejar. Tetapi suara batukan dari Nigam membuat langkahnya terhenti. Akhirnya ia memutuskan untuk menolong Nigam saja. Lagian keadaan dia cukup memprihatinkan dan Aris sendiri tidak kenapa-napa.


Mungkin Aris hanya mendapatkan luka ringan di beberapa anggota tubuhnya saja dan tidak sampai separah Nigam. Sementara Nigam sendiri merasa tangan tidak bisa digerakkan dan mati rasa mungkin karena dipatahkan oleh Aris.


***


Siang itu juga Nigam dibawa ke rumah sakit, sebab lengannya harus diberikan penanganan dari pihak kesehatan. Sebenarnya keadaan tangan Nigam cukup serius karena mengalami patah tulang. Dia butuh beberapa hari supaya tangannya bisa digerakkan. Sedangkan anggota tubuh lainnya tidak ada yang serius.



Selama dirumah sakit Alyalah yang merawat Nigam. Bahkan dia yang selalu ada untuk Nigam, bagaimanapun keadaan Nigam ia selalu ada di samping dia. Sebab Nigam sendiri seperti ini karena ulah Aris. Sampai sekarang ia belum dapat kabar apapun dari Aris.


"Kenapa juga kita sampai ketahuan seperti ini?" tanya Nigam.


Nigam sangat kesal dengan Aris, karena ulah dia ia jadi seperti ini. Padahal tadi niatnya ia akan menghadirkan pertemuan penting dengan rekan kerjanya, tetapi karena apa yang Aris lakukan ia harus berakhir di rumah sakit.


Ia benar-benar memiliki dendam kepada Aris, jika ia bertemu dengan dia munhu ia akan membalaskan hal yang lebih dari ini. Tadi ia kalah karet ia tak sadar Aris akan memukuli dirinya, maka dari itu ia bisa kalah. Bahkan ia tak peduli Aris akan mati, karena ia sudah telanjur dendam kepada dia.


"Mas, masih ada yang sakit nggak?" tanya Alya. Ia sendiri cukup merasa bersalah, karena secara tak langsung yang membuat Nigam seperti ini adalah dirinya.


"Ya, aku tak apa-apa."


"Mas, aku mewakili Mas Aris mau minta maaf sama kamu. Aku nggak tahu kalau dia akan datang ke sini, maka dari itu aku santai saja ketika kamu datang ke rumah ku. Tapi ternyata dia juga datang, lagian mama dan papa dan nggak ada di rumah. Mungkin dia sedang menunggu ku tadi," sahut Alya.


"Apakah dia menelepon mu tadi?" tanya Nigam.


Alya menggeleng. "Mungkin mas Aris menghubungiku tapi aku tidak tahu, sepertinya ia marah padaku, ia juga udah coba buat hubungi Aris. Akan tetapi Aris sama sekali nggak angkat telepon dari aku."


"Kalau sudah begitu bagaimana rencana ku akan berjalan mulus! Seharusnya kau tidak gegabah. Sekarang hubungi dia lagi, atau dia akan meninggalkanmu lalu semua rencana kita akan berantakan!"


"Tapi, Mas. Kau tidak lihat bagaimana dia begitu marahnya pada ku? Jelas tidak mungkin dia akan memaafkan aku, Mas! Lagian aku sudah tidak mau lagi melanjutkan sandiwara ini, aku ingin kita segera menikah dan hidup bahagia bersama!"



"Kau tidak tahu bagaimana aku membangun semua rencana ini! Hanya tinggal selangkah lagi dan kau menggagalkan semua! Sekarang apalagi yang bisa kita lakukan!!" Sentak Nigam.



"Mas! Apa kau tidak peduli lagi padaku?!" Alya menatap marah pada Nigam yang seolah hanya mementingkan urusannya sendiri. Jika harus jujur, Alya sudah tidak ingin melanjutkan sandiwaranya lagi. Namun, Alya tidaknpunya pilihan lain.

__ADS_1


__ADS_2