Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 192


__ADS_3

Gunawan duduk menyendiri di teras rumahnya. Secangkir kopi sudah habis menemani dirinya. Gunawan sedang gundah gulana mengingat apa yang terjadi pada sang anak asuhnya. Hari ini sebagai ayah, Gunawan tidak menemani Sinta karena selalu emosi jika melihat Sinta.



"Apa yang terjadi dengan anak itu? Siapa ayah kandung dari janin yang ada di dalam rahimnya! Nama baik keluarga bisa hancur jika Sinta hamil tanpa seorang suami. Apa kata dunia jika anak Gunawan melahirkan anak tanpa ada suami," gumam Gunawan di dalam hati.



Relasi Gunawan hanya tahu jika Sinta adalah anaknya. Bukan anak dari Ray. Sungguh posisi ini sulit bagi Gunawan.



"Selamat malam, Tuan," ucap Rustam. Hari ini dia berkunjung ke rumah Gunawan karena Gunawan panggil.


"Rustam, selamat malam. Duduklah," pinta Gunawan pada sang sekretaris sekaligus orang kepercayaannya.


"Ada apa tuan memanggil saya? Apa ada masalah?" tanya Rustam yang selalu dalam mode serius.



"Rustam, jujur sekarang aku bingung. Dunia hanya tahu jika Sinta itu adalah anakku dan sekarang dia sakit. Aku tidak tahu harus bagaimana, jelas semua pasti akan berpikir buruk pada Sinta," ucap Gunawan sembari menyesap kopi yang baru saja diantar oleh Bik Siti. Satu untuknya dan satu lagi untuk Rustam.



"Nona Sinta hamil? Astagaaa ... Bukannya dia sudah bercerai dengan tuan Steve?" Rustam terkejut mendengar kabar dari sang majikan.



"Nah itulah yang saat ini aku pikirkan. Semua orang tahu jika Sinta itu anakku bukan anak dari Ray. Entah ini karma atau apa, mengapa Clara selalu membuat hidup ini menjadi rumit. Sepertinya Sinta mendapatkan karma dari sang ibu. Dia hamil tanpa tahu siapa ayah kandung dari bayinya," ucap Gunawan.



Rustam memainkan jemarinya, hal itu selalu ia lakukan jika sedang berpikir keras.



"Tuan, kita bisa berusaha untuk menemukan siapa ayah kandung janin itu. Kita bisa tanyakan pada nona Sinta. Kapan dia merasakan dirinya disentuh oleh lelaki. Kalau menurut saya, pasti terjadi saat dia diculik kemarin. Mereka adalah sindikat penjual wanita. Bisa dipastikan mereka menodai para gadis itu sebelum pergi."



Gunawan menoleh ke arah Rustam, sambil mengernyitkan alisnya. Apa yang dikatakan oleh sang sekretaris mungkin ada benarnya. Namun masalahnya, pastilah para anggota sindikat itu sedang meringkuk di sel tahanan.


__ADS_1


"Apa yang kau katakan benar, Rustam. Pasti salah satu di antara para preman itu adalah ayah dari anak yang dikandung Sinta. Tapi bagaimana kita bisa tahu, orang yang telah menghamili Sinta? Tidak mungkin mereka akan mengaku," ucap Gunawan ragu akankah para preman itu akan jujur.



"Jika kita memberikan iming-iming duit atau kebebasan pasti mereka akan mau mengaku," usul Rustam.



Gunawan mengangguk pelan, mencoba menelaah usul dari Rustam akankah apa yang diusulkan Rustam itu akan berhasil. Berhasil rencana Rustam atau tidaknya semua tergantung seberapa banyak uang yang dijadikan penawaran.



"Berarti kita harus ke sana bersama Sinta? Atau kita berdua saja?" tanya Gunawan lagi. Dia ragu haruskah mengajak Sinta atau tidak.



"Sebaiknya kita ke sana untuk menyelidiki dulu tuan, kita akan bisa memilah di antara mereka mana yang telah membuat Sinta hamil," jawab Rustam.



Gunawan terdiam seribu bahasa, ide yang diberikan oleh Rustam sepertinya masuk akal juga. Bagaimana pun Gunawan harus bisa menemukan siapa laki-laki yang telah menghamili Sinta.




"Siap, Tuan," jawab Rustam mematuhi perintah sang Gunawan.



Tiba-tiba ponsel Gunawan berdering. Dilihatnya dari layar notifikasi. Panggilan dari pihak rumah sakit tempat Clara dirawat.



"Selamat malam, Tuan. Kami dari rumah sakit jiwa Harapan Insan ingin memberitahu kalau mantan istri Anda sakit. Bagaimana apakah perlu kita bawa ke rumah sakit?"



Gunawan diam mematung, dia sangat terkejut mendengar kabar dari mantan istrinya.



"Hallo, Tuan?" Pertanyaan masih terus terdengar di telinga Gunawan. Sungguh anak dan ibu itu terus mengganggu hidupnya. Ternyata Tuhan ingin menunjukkan betapa peran Gunawan sangat berarti.

__ADS_1



"I ... Iya, bagaimana?" tanya Gunawan dengan agak terkejut. Dia tersadar kalau dirinya tidak fokus.



"Bagaimana, Tuan?"



"Bagaimana? Oh iya. Kami menyetujui semua tindakan apapun yang menurut pihak rumah sakit baik. Masalah biaya akan kami tanggung. Tapi, kami tidak bisa menemani mantan istri saya. Ingat, dia bukan istri saya, akan tetapi mantan istri saya!" tandas Gunawan.



"Baiklah, Tuan. Kami akan mengurus nyonya Clara dengan baik. Maaf, kami telah mengganggu waktu Anda," ucap petugas dari rumah sakit jiwa.



"Tidak apa. Saya mengucapkan banyak terima kasih sudah mengurus mantan istri saya," balas Gunawan.



Gunawan pun menutup ponselnya sembari menghela napas panjang. Rustam menatap Gunawan dengan tatapan kagum. Dia heran pada majikannya, sudah disakiti sedemikian rupa oleh mantan istrinya, akan tetapi Gunawan masih mau membantu dan memerhatikan nasib mereka. Tuhan seperti membalikkan keadaan mereka.



"Sungguh tuan Gunawan adalah sosok manusia yang berhati mulia, dia masih saja memerhatikan nasib mantan istri dan anak yang bukan darah dagingnya. Semoga beliau selalu dijaga dan diberi kesehatan," gumam Rustam menatap mata sayu milik sang majikan. Gunawan adalah sosok yang sudah ia anggap sama seperti ayah kandungnya sendiri.



Gunawan memijat pelipisnya yang berdenyut. Baru saja selesai mengurus masalah Sinta kini ada masalah baru yang terjadi pada diri Clara.



"Baiklah, selamat beristirahat Rustam. Kamu tidur dimana malam ini?" tanya Gunawan dengan wajah yang sudah terlihat sangat lelah. Gurat wajah yang menunjukkan banyak hal yang harus diselesaikan oleh Gunawan.



"Saya mungkin akan tidur di sini tuan. Masih banyak laporan keuangan yang harus saya selesaikan bulan ini," jawab Rustam.



"Baiklah, saya istirahat duluan. Lelah rasanya hari ini. Barusan dari pihak rumah sakit jiwa memberitahu jika Clara sedang sakit dan membutuhkan perawatan. Tapi saya sudah serahkan semua pada rumah sakit itu, tinggal masalah biaya, kau urus semua. Aku tidak tega jika melihat keduanya menderita, meskipun mereka berdua tidaklah tulus dalam mencintai saya dulu. Tapi sudahlah tidak usah dipikirkan lagi yang terpenting saat ini satu persatu masalah teratasi dengan baik," ucap Gunawan sembari menghela napas dalam.

__ADS_1


__ADS_2