
Aris dan Hans memegang tangan Tia dengan kuat, mereka fokus agar Tia tidak lepas dari genggaman mereka. Tia meronta dan menendang, namun semua yang ia lakukan tidak berhasil. Hans dan Aris terus berusaha menjaga Tia agar tetap dalam posisi terbaring.
Sang ustadz terus membaca ayat-ayat rukyah dan terkadang berkomunikasi dengan jin tersebut. Semua bersimbah peluh, perjuangan sang ustadz beserta Hans dan Aris membuahkan hasil.
Tia terkulai lemas setelah mengeluarkan semua yang ada dalam perutnya di dalam plastik yang sudah disediakan oleh sang ustadz. Bersama dengan muntahan itu, jin yang ada di dalam tubuh Tia pun juga keluar.
Semua bernapas dengan lega. Segera sang ustadz meminta Hans untuk memberikan air minum yang sudah dibacakan ayat rukyah pada Tia.
Setelah minum air yang diberikan sang suami, Tia pun merasa lebih segar.
"Ustadz, apakah jin yang ada dalam tubuh istri saya sudah keluar?" tanya Hans setelah membantu sang istri duduk bersila, memulihkan tenaga yang hampir terkuras karena rukyah.
"Alhamdulillaah, jin yang ada di dalam tubuh istri Anda sudah keluar. Jin itu hanyalah suruhan seseorang untuk mengganggu istri Anda. Namun, yang namanya jin suruhan itu tidak akan bisa hilang, bahkan bisa masuk kembali ke dalam tubuh istri Anda jika buhul yang ditanam di rumah Anda belum ditemukan."
Sang ustadz memberikan penjelasan yang membuat Hans dan Aris tercengang, mereka tidak menyangka jika jin itu tidak akan pergi jika belum ditemukan buhul pengikat yang ditanam di rumah Hans.
"Apa kita bisa memusnahkan buhul tersebut, ustadz?" tanya Hans yang ingin segera rumahnya di bersihkan dari hal ghaib dan mistis itu.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Akan tetapi sangatlah sulit dan membutuhkan waktu yang tidak cepat, karena kita harus memastikan dimana buhul itu berada. Kita perlu beri'tikaf untuk bisa menemukan di mana buhul itu berada. Memang ilmu hitam jenis teluh atau santet sangat sulit untuk dihilangkan. Bersabar dan terus minta petunjuk pada Allah," ucap sang ustadz menjelaskan.
"Baiklah, Ustadz. Kami akan menunggu sampai ustadz menghubungi kami kembali," jawab Hans.
"Untuk sementara ini, tetap awasi dan perkuat ibadah. Jangan biarkan Bu Tia sendirian, karena jika ia melamun maka jin itu akan bisa masuk lagi ke dalam tubuh Bu Tia sebelum buhulnya ditemukan," imbuh Ustadz Imran memberikan penjelasan bagaimana untuk menjaga Tia.
"Ustadz, bagaimana kalau sementara ini kami tinggal di rumah baru? Apa jin itu akan mengikuti?" tanya Aris mengingat usulan Tia tadi.
"Bisa juga dengan pindah rumah dulu. Akan tetapi tetaplah diawasi karena belum diketahui siapa yabg sudah mengirim teluh ini. Jika orang itu tahu maka dia akan menanamnya di tempat yang baru. Kira-kira siapa yang kalian curigai, maka buntuti orang itu. Itu saran dari saya, semoga Allah selalu menjaga kita," ucap sang ustadz mengakhiri prosesi rukyah malam ini.
"Saya permisi dulu karena hari telah malam, nanti jika semua sudah siap akan saya hubungi kembali," ucap sang ustadz berpamitan.
"Siap, Ustad. Terimakasih," ucap Aris dan Hans.
__ADS_1
"Sama-sama, Asslaamu 'alaikum," ucap sang ustadz mengajak Hans dan Aris bersalaman.
"Wa'alaikum salam, ustadz. Hati -hati di jalan," jawab Hans dan Aris.
Setelah ustadz itu pergi, Hans membawa Tia kembali masuk ke mobil. Tia hanya diam saja, tidak ada suara yang keluar dari mulut Tia. Hans dan Aris pun menjadi kalang kabut, bingung dengan perubahan sikap Tia yang jadi pendiam.
"Tia ... Sayang, kamu kenapa diam saja? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Hans dengan hati-hati.
Tia hanya melirik malas ke arah sang suami, tanpa menjawab atau sekadar membalas dengan gelengan kepala. Tia masih duduk mematung menatap ke depan.
Hans menatap Aris melalui kaca spion, dengan kode mata Hans berbicara dengan Aris.
"Mbak ... Mbak Tia, tidak apa-apa? Apa mbak Tia lapar ingin makan?" tanya Aris menawarkan makan pada Tia. Aris menduga mungkin karena habis muntah-muntah, Tia merasa lapar.
Tia akhirnya mengangguk. Ternyata dia lapar sekali setelah terkuras pada waktu rukyah tadi.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak bilang, Sayang? Mas kan gak tahu. Baiklah, kita cari resto di dekat sini," ucap Hans lega. Hampir saja dia kena jantung gara-gara sikap Tia yang menurutnya aneh, ternyata diam karena tidak ada tenaga. Mereka bertiga pun akhirnya makan di restoran terdekat.