
Hans menatap ke arah Tia. Semua yang dikatakan Tia ada benarnya. Di hotel ini tidak tersedia minuman keras. Hans pun ingin memanggil sang penjaga keamanan.
"Tunggu, Mas. Tidak usah diurus lagi, tidak enak dengan para tamu yang lain. Lebih baik kita kembali ke pesta, toh mas Ridho sudah dibawa pulang oleh penjaga keamanan," sergah Tia pada Hans.
Hans mengangguk paham, semua yang dikatakan Tia ada benarnya. Mereka berdua pun memutuskan untuk fokus ke pesta pernikahan mereka saja.
Pesta pun berada di ujung acara, para tamu undangan pun berpamitan. Tiba saatnya Steve dan Wulan juga ikut berpamitan pada sang mempelai.
"Selamat berbahagia, Tuan Hans. Semoga menjadi keluarga yang berbahagia selalu," ucap Steve mengucapkan selamat pada Hans.
Hans menyambut uluran tangan Hans, lalu tersenyum dan membalas ucapan Steve. "Terima kasih, Tuan Steve," jawab Hans.
Tia tersenyum ke arah Steve, saat Steve mengulurkan tangannya untuk memberikan ucapan salam, Tia menolaknya. Tia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Steve tersenyum kecut saat Tia menolak ukuran tangannya. Baru pertama kali ini ada pendamping presiden direktur yang sombong. Rata-rata istri pebisnis itu ramah dan mau diajak berjabat tangan.
Steve berlalu dari hadapan Hans dan Tia dengan wajah tidak suka pada Tia. Sementara itu di belakangnya, Wulan memberanikan diri untuk memberi ucapan pada Hans.
Tia dan Hans menatap ke arah Wulan yang dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Ternyata kalian juga main di belakang ya? Pantas saja, mas menceraikan aku lalu menikahi Tia. Ternyata kalian ada main di belakangku!" Wulan menatap sinis ke arah Tia. Dia sangat tidak suka jika Tia mendapatkan apa yang dulu menjadi miliknya.
"Wulan, jaga bicaramu! Kami tidak seperti yang kau tuduhkan!" tegas Hans sembari mengangkat telunjuknya di depan Wulan.
Hans sangat marah mendengar tuduhan Wulan.
"Mas, sabaaar ... Jangan didengarkan omongan mbak Wulan. Dia belum tentu baik, nyatanya suami sendiri tidak diakui!" sahut Tia membalas ucapan Wulan yang sudah keterlaluan.
Wulan membulatkan matanya mendengar sang adik berani membalas ucapannya, dan ucapan Tia adalah sesuatu hal yang Wulan takuti jika sampai terdengar oleh Steve.
Wulan pun bergegas meninggalkan Hans dan Tia, dia berlari menyusul Steve yang sudah sampai di pintu keluar.
Tia heran mengapa dirinya yang menjadi tertuduh, padahal awal mula yang merebut suaminya adalah Wulan. Tia memilih melepaskan Ridho daripada hatinya sakit berkepanjangan. Namun, takdir tidak bisa ditolak, Sang Penulis Takdir mempertemukan dirinya dengan Hans dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci.
"Sudahlah, dua orang itu sepertinya sedang dalam masalah. Perusahaan yang bangkrut mungkin memengaruhi hubungan mereka. Tapi mengapa kakakmu itu mengekori Steve sih? Bukankah Steve sudah punya istri?" bisik Hans lirih, takut semua orang mendengar ucapannya pada Tia.
Belum sempat Tia menanggapi, para tamu undangan lain bergiliran memberi selamat. Tia dan Hans pun akhirnya fokus pada tamu yang hendak berpamitan.
Sementara itu, Wulan masih mengekor Steve.
__ADS_1
"Tuan Steve, tunggu ...." panggil Wulan yang kesulitan berjalan dengan gaun yang ia pakai dan sepatu high heels nya.
Steve menoleh ke arah Wulan. Dia kira Wulan akan pulang terlebih dahulu, namun ternyata Wulan malah memanggilnya.
"Ada apa, Wulan?"
"Maaf, Tuan. Bisa saya ikut mobil Anda? Bos saya sudah duluan, saya bingung bagaimana pulangnya," ucap Wulan mencoba membuat Steve mengasihani dirinya.
Steve tersenyum melihat Wulan, seringai terbit di ujung bibirnya. Kesempatan yang baik dan tidak datang untuk kedua kali, mana mungkin akan Steve sia-siakan begitu saja.
"Baiklah, Wulan. Kau bisa ikut mobilku. Ayo silakan masuk," ucap Steve membukakan pintu mobil untuk Wulan.
"Terimakasih," sahut Wulan dengan tersenyum manis.
Steve mulai melajukan mobil mewahnya. Wulan sangat bangga bisa naik mobil mewah.
"Dimana alamat rumahmu? Aku akan mengantar sampai depan rumah, sekalian ingin tahu tentang dirimu, Wulan." Steve mulai tertarik dengan kehidupan Wulan.
Wulan terkejut, dia hampir saja lupa jika Ridho sudah pulang duluan.
__ADS_1