
Sembari menunggu kedatangan Hans, Tia duduk di Sofa. Sementara kedua anaknya bersama Yuni dan bik Inah. Tia duduk termenung mengingat kembali kejadian di mana Tia melihat wajah asli Luna. Semua itu terjadi sebelum Yuni datang kembali.
Flash Back On:
Sudah hampir dua minggu, Hasan dan Hasna dirawat oleh baby sitter baru bernama Luna. Awalnya tidak ada kecurigaan di hati Tia kerap kali melihat wanita itu merawat anaknya. Akan tetapi lambat laun, dia merasa ada yang disembunyikan oleh Luna. Pasalnya, sikap Luna dan cara bicara wanita itu mengingatkan Tia pada seseorang yang dikenal olehnya.
Tia terus memperhatikan wanita di hadapannya yang sedang menimang Hasan. Luna selalu memakai riasan di rumah, bahkan terlihat tebal seperti hendak pergi ke kondangan. Hal itulah yang membuat kecurigaan Tia semakin besar dan berpikir bahwa Luna menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mbak, apakah kau bisa bekerja tanpa riasan wajah? Bukan apa-apa, tetapi aku merasa sedikit risih karena melihat riasanmu yang begitu tebal. Aku hanya takut saja bedakmu terkena angin dan sampai terhirup oleh kedua anakku," pinta Tia dengan nada suara yang hati-hati.
Luna tampak diam di tempat, lalu beberapa saat kemudian menoleh kepada Tia yang ada di belakangnya. "Maaf, Nyonya. Aku sangat suka dirias seperti ini. Tapi kalau memang Nyonya tidak suka, aku akan mengurangi ketebalannya."
Tia hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja. Itu memang pilihan Luna untuk menghias wajahnya, dia juga tidak bisa terus melarang karena itu memang hak Luna.
Tia bangkit dengan perlahan menuju kamar anak-anak untuk menidurkan Hasan. Meskipun Luna sudah bicara akan mengurangi riasan wajah, tetap saja hati Tia masih belum merasa tenang.
"Aku harus menyelidiki Luna lebih dalam agar tidak terus menyimpan kecurigaan seperti ini. Semoga saja Luna memang tidak menyembunyikan apapun dariku," gumam Tia.
Dia harus memastikan bahwa kedua anaknya dijaga oleh orang yang baik dan tepat. Keselamatan kedua anaknya lebih penting dari apapun.
Tia mengintip keluar kamar untuk memastikan bahwa Luna berada jauh dari dekatnya. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan menghubungi pihak yayasan tempatnya dulu saat memesan baby sitter.
Dua panggilan darinya tidak kunjung mendapatkan jawaban. Tia kembali mengecek Luna yang masih pada posisinya di ruang tamu. Hingga panggilan ketiga, akhirnya terdengar suara seseorang dari seberang sana.
"Hallo, apakah Bu Yayasan ada di sana?" tanya Tia dengan nada suara setengah berbisik.
"Bu Yayasan sedang tidak ada di sini. Kalau boleh tahu ada keperluan apa, ya, Mbak? Nanti kalau beliau sudah sampai di sini akan aku sampaikan," jawab orang tersebut.
Tia sedikit menjauh dari pintu kamar "Sudah berapa lama wanita bernama Luna yang menjadi baby sister kedua anakku itu menjadi bagian dari yayasan?"
Kening wanita paruh baya yang merupakan asisten dari ibu pemilik yayasan pun mengernyit. Dia hafal hampir semua nama baby sitter yang berada di bawah naungan yayasan, tetapi belum pernah mendengar baby sitter bernama Luna.
"Mungkin aku lupa, akan aku cek terlebih dahulu berkasnya," jawab wanita itu karena takut salah.
Tia menganggukkan kepala. "Baiklah, terima kasih. Aku menunggu kabar ini secepatnya."
Tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Tia memutus sambungan telepon. Dia mengelus wajah Hasan dan berharap bahwa Luna adalah baby sitter yang baik.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Luna masuk ke dalam kamar anak untuk menidurkan Hasan. "Dia baru saja terlelap."
Tia mengangguk, lalu memutuskan untuk keluar lebih dahulu dari kamar anak-anak. Perasaannya seakan mengatakan ada sesuatu yang mengganjal. Dia juga berharap pihak yayasan bisa secepatnya menghubungi dan memberitahunya bagaimana latar belakang Luna.
Di sisi lain, asisten yayasan mencari berkas di ruangan arsip. Entah sudah map berkas ke berapa, tetapi belum juga menemukan berkas yang dicarinya mengenai baby sitter bernama Luna.
"Aneh, setahuku baby sitter pengganti untuk kedua anaknya Bu Tia adalah baby sitter yang sudah berpengalaman dan cukup banyak merawat bayi. Tapi kenapa Bu Tia sampai mempertanyakan hal ini? Dan lagi, seingatku nama baby sitter itu bukan Luna."
Asisten yayasan begitu yakin bahwa tidak ada baby sitter di bawah naungan yayasan yang bernama Luna. Namun, dia juga tidak bisa menyimpulkan tanpa adanya bukti yang ditemukan. Maka dari itu, dia akan terus mencari berkasnya sampai ketemu.
Waktu pun terus berlalu, hingga waktu Ashar menjelang, asisten yayasan tersebut tidak kunjung mendapatkan berkas mengenai Luna. Dikarenakan sudah terlalu lama dan kesal berkutat dengan debu dalam ruangan arsip, wanita itu pun memutuskan untuk mengakhiri pencariannya.
"Lho, dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi," ucap Bu Yayasan yang tiba-tiba saja berpapasan dengan asisten yayasan tersebut.
"Aku baru saja keluar dari ruangan arsip karena mencari berkas tentang baby sitter bernama Luna."
Kening Bu Yayasan mengernyit. "Seingatku, tidak ada satupun baby sitter di sini yang bernama Luna. Apakah kau salah mendengar nama baby sitter itu? Dan, siapa yang memintamu untuk mencari berkas tentang Luna itu?"
Asisten yayasan menghela napas panjang. "Tadi siang Bu Tia menghubungi yayasan dan mencari Ibu, lalu aku tanyakan padanya ada keperluan apa. Dia bilang ingin tahu seberapa lama baby sitter bernama Luna itu berada di bawah naungan yayasan. Karena aku tidak ingin sampai salah menjawab, aku berinisiatif untuk mencari berkas itu di ruangan arsip. Siapa tahu saja aku hanya tidak hafal semua nama baby sitter."
Ibu Yayasan menggelengkan kepala. "Tidak, kau memang benar. Di sini tidak ada baby sitter yang bernama Luna. Itu bukanlah nama baby sitter yang kita kirim ke rumah Bu Tia."
Ibu Yayasan kembali menggelengkan kepala. "Mungkin Pak Hans mencari baby sitter di tempat lain, tapi mungkin istrinya menduga bahwa baby sitter itu dari sini. Nanti kalau seumpama Bu Tia menghubungi kembali, bilang saja yang sebenarnya."
"Baik, Bu."
Mereka sepakat untuk tidak menghubungi terlebih dahulu. Bukan karena bermaksud untuk tidak bertanggung jawab, tetapi karena untuk menghindari kesalahan yang mungkin tidak dilakukan oleh pihak yayasan. Bu Yayasan juga menerangkan pada asistennya bahwa baby sitter pengganti yang seharusnya datang ke rumah Bu Tia, tidak bisa datang karena mendadak mengalami kecelakaan kecil yang mengakibatkan baby sitter itu tidak bisa bekerja untuk sementara waktu.
Bu Yayasan memang berniat akan memberitahukan kabar ini kepada Tia dan Hans, tetapi karena kesibukan di yayasan membuatnya kerap kali tidak ingat untuk memberitahu. Baru saja satu minggu yang lalu, baby sitter pengganti itu mengabari tidak bisa datang ke rumah Tia. Akhirnya karena merasa tidak enak Bu Yayasan memilih menghubungi Tia terlebih dahulu.
Triiing ...
Triing ....
__ADS_1
Tia yang sedang sibuk membuatkan minuman untuk menyambut kepulangan Hans pun terpaksa berhenti sejenak. Dia mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam saku dasternya.
"Hallo, Assalamu 'alaikum dengan siapa ini?"
"Wa'alaikum salam, Bu Tia. Kamu dari yayasan ingin mengabarkan bahwa tidak ada baby sister dari yayasan kami yang bernama Luna. Baby sister yang dipesan oleh tuan Hans dulu satu Minggu sebelumnya sudah memberi tahu tidak bisa datang karena mengalami kecelakaan. Untuk itu kami bisa pastikan bahwa Luna bukan baby sister dari yayasan kami. Mungkin tuan Hans mengambil dari yayasan lain."
Deg!
Deg!
Tia terkejut karena Luna bukan berasal dari satu yayasan dengan mbak Yuni. Dia berasal dari yayasan lain. Setahu Tia, Hans hanya mengambil baby sister dari yayasan itu saja.
"Ba ... Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya. Mungkin suami saya mengambil dari yayasan lain. Terima kasih dan maafkan saya yang sudah mengganggu sore Anda," ucap Tia pada akhirnya.
"Sama -sama, Bu Tia. Assalamu 'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tubuh Tia mendadak oleng setelah mendengar informasi dari sang pemilik yayasan penyalur baby sister yang Hans gunakan sebelumnya. Beruntung Tia berpegang pada meja makan hingga ia tidak terjatuh. Tia mengambil napas dalam-dalam lalu meminum air putih yang ada di meja makan tersebut.
__ADS_1
"Aku harus bertanya pada mas Hans, dari mana dia mengambil Luna. Semoga semua kecurigaan salah dan hanya kecemasan ku yang berlebihan saja," gumam Tia lalu dia pun kembali meminum air putih di dalam gelas hingga tandas.