Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 121


__ADS_3

Tia menatap sendu pada lelaki yang selama ini dicarinya. Penantian yang begitu lama akan sosok ayah, pada akhirnya akan terwujud.


"Ayah? Apakah kau ayah kandungku?" tanya Tia pada Gunawan. Dia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang ditangkap oleh lensa mata Tia.


Gunawan hampir saja menitikkan air matanya, dia tidak sanggup lagi jika harus berbohong di depan anak kandungnya. Gunawan mengangguk lemah, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Iya, Nak. Aku ayah kandungmu, orang yang begitu pengecut dan tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya pada ibumu. Aku malu disebut laki -laki! Maafkan ayahmu ini, Nak!!" ucap Gunawan menunduk. Dia tidak mampu memandang Tia karena malu dan merasa diri bukan ayah yang bertanggung jawab.


"Sudahlah, Yah. Tia ikhlas menerima takdir Tia. Hanya saja Tia ingin bertanya, sampai kapan mama akan membenci Tia? Tolong, Yah. Katakan pada mama bahwa semua ini hanyalah kesalahan ayah di masa lalu. Tia ingin merasakan kasih sayang mama walau hanya sedikit saja," ucap Tia lirih, air mata sudah membasahi pipinya.


Gunawan terperangah mendengar kata-kata Tia yang begitu memilukan hati. Siapa yang tidak merasa sakit hati jika hidup satu atap dengan sang ibu, tapi tidak pernah dianggap ada. Selalu mendapat perlakuan tidak adil dari sang ibu.


Sedari kecil Tia hanya bisa melihat saudaranya merasakan kebahagiaan dan kasih sayang dari sang ibu, sedangkan dirinya selalu sendiri, menjadi sosok yang selalu disalahkan bukan karena kesalahan diri melainkan kesalahan orang lain.


Tangis Gunawan pun akhirnya pecah, sosok yang dulu merasa menjadi orang yang banyak disukai wanita itu, akhirnya dipermalukan oleh takdir. Dulu sebelum menjadi mandor, Gunawan hanyalah buruh yang suka gonta-ganti pacar. Berkat kecerdasan dan kegigihannya dia berhasil naik jabatan menjadi mandor. Itupun berkat bantuan dari Clara.


"Maafkan ayah, Nak. Semenjak malam itu, hidup ayah selalu tersiksa. Rasa bersalah membuat ayah menyadari semua kelakuan buruk ayah. Wajah mama mu yang menangis kesakitan selalu terbayang di ingatan ayah. Ayah juga merasakan karma dari dosa ayah yang sudah berbuat jahat pada mama mu," ucap Gunawan menangis.


Hari ini Gunawan membiarkan dirinya menumpahkan segala rasa yang ia pendam di hadapan sang putri.


"Ayaaah ...." Tia merentangkan kedua tangannya ingin memeluk sang ayah.


Gunawan mendongak ke arah sang putri, dia pun dengan suka cita memeluk sang putri yang baru saja ia ketahui itu. Hans hanya diam mematung, memberi waktu pada dua orang ayah dan anak itu untuk saling melepaskan beban di dalam hati yang selama ini membuat mereka susah untuk tidur nyenyak.


"Tia ... Maafkan ayah, Nak!" Gunawan memeluk erat putrinya dengan penuh kasih sayang. Hatinya merasa damai saat memeluk Tia dibandingkan memeluk Sinta.


"Iya, Ayah. Tia sudah merasa senang karena ayah mau mengakui Tia sebagai anak. Tidak ada yang Tia inginkan lagi selain pengakuan dan kasih sayang dari ayah," ucap Tia dengan sesenggukan.


Hans yang melihat pun tidak kuasa mencegah bulir air mata turun dari kelopak matanya. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan.


"Iya, Sayang. Ayah akan melakukan hal yang terbaik untukmu. Demi kamu ayah siap kehilangan semua. Ayah ingin hidup berdua denganmu. Tapi ayah harap kamu bersabar hingga sampai waktu itu tiba, ayah akan menjadi sosok kakek dan ayah yang baik untuk anak dan untukmu, Sayang. Kamu mau kan menunggu? Kamu fokus pada kesehatan calon cucu ayah saja. Biar yang lain, ayah yang akan urus," ucap Gunawan sembari mengusap rambut Tia.


"Baiklah, Ayah. Tia akan sabar menunggu dan Tia berjanji akan merawat calon cucu ayah dengan baik," ucap Tia mengusap air matanya. Dia tidak ingin membuat sang ayah merasa terbebani dengan melihat kesedihan di matanya.


"Benar, Ayah. Bolehkan saya panggil ayah bukan paman lagi?" seloroh Hans membuat Tia dan Gunawan tersenyum.


"Ke sinilah, Nak. Kita sekarang adalah satu keluarga. Ayah titipkan Tia dalam perlindungan. Besok ayah akan pergi ke Jakarta, ada yang harus ayah urus. Tante Clara, istri ayah sekarang menginginkan ayah untuk mengambil semua aset yang dimiliki oleh Ridho. Bukankah Ridho itu adalah suami pertama mu, Tia?" tanya Gunawan mengurai pelukannya.


Tia membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika sang ayah tahu tentang masa lalunya.


"Tenang, Tia. Mas yng sudah memberi tahu siapa Ridho dan siapa Wulan. Bagaimana hubungan mereka dengan kita, ayah sudah tahu," ucap Hans menenangkan hati Tia. Hans paham arti tatapan Tia yang menuntut penjelasan dari Hans.


"Benar, Tia. Kau jangan marah, Hans sudah menceritakan semua pada ayah. Dan asal kalian tahu, Ridho itu adalah keponakan ayah, dalam hal ini Ridho adalah sepupu Tia. Nah, istri Ridho yang bernama Wulan sekarang koma karena kecelakaan mobil," jelas Gunawan.

__ADS_1


"Apa? Mbak Wulan kecelakaan?!" pekik Tia terkejut.


"Tunggu! Apakah ini Wulan yang sama dengan yang diceritakan oleh Hans? Wulan istri pertama Hans? Benar begitu?" tanya Gunawan tersadar kalau Wulan itu adalah wanita yang sama, yang telah merusak rumah tangga Tia.


Hans dan Tia saling bertukar pandang. Mereka tidak menyangka ternyata hubungan di antara mereka, Wulan dan Ridho begitu rumit.


"Benar, Ayah. Mbak Wulan adalah kakak tiri Tia. Dia anak sulung mama dan papa Cahyo," jawab Tia dengan nada yang juga hampir tidak percaya.


"Astagaa ... Wanita itu telah merusak rumah tangga kedua putri ayah. Seperti apa wanita itu sebenarnya, mengapa dia begitu tega merampas kebahagiaan saudaranya sendiri!!" desis Gunawan sembari mengepalkan kedua tangannya.


Hans menunduk, dia tidak menyangka jika keputusannya untuk menceraikan Wulan ternyata membawa maka petaka bagi kehidupan dua wanita lain.


"Mbak Wulan mungkin sudah dibutakan oleh harta, Yah. Sedari kecil dia selalu dimanja mama. Apapun kesalahan yang ia perbuat selalu mendapat pembelaan dari mama. Sedangkan aku yang tidak melakukan kesalahan, malah selalu kena hukuman dari mama," ucap Tia.


Gunawan tidak menyangka Wulan adalah anak dari wanita yang sudah ia ruda paksa dulu. Mungkin benar apa yang dikatakan Tia jika Wulan terlalu dimanja dan selalu dibela kedua orang tuanya hingga menjadi sosok dewasa yang labil dan tidak memiliki kedewasaan dalam berpikir.


"Sudahlah, Tia. Wulan mungkin sudah mendapatkan karmanya. Saat ini dia terbaring koma di ruang sakit. Katanya, dia juga dirawat di rumah sakit ini. Tapi entahlah, ayah juga tidak tahu kebenarannya. Istri ayah --Clara yang menceritakan semuanya pada ayah," ujar Gunawan mengatakan apa yang ia tahu dari Clara.


Tia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk melonggarkan jalan napas yang sudah mulai terasa sesak. Dia sama sekali tidak menyangka jika Wulan juga merusak rumah tangga adik tirinya.


"Apakah benar Mbak Wulan juga merusak rumah tangga anak ayah yang lain?" tanya Tia hati-hati. Dia tidak ingin menambah keruhnya suasana hati Gunawan.


"Benar, Tia. Tante Clara telah memergoki Steve -- suami Sinta berselingkuh dengan Wulan di sebuah kamar hotel yang selalu disewa Steve jika ada perjalanan bisnis di Jakarta. Tante Clara sangat murka, dia pun memviralkan Wulan di media sosial. Namun, Wulan bukannya menyesali perbuatannya, melainkan dia datang ke rumah sakit ini untuk memberi tahu kebenaran perselingkuhannya dengan Steve pada Sinta."


"Benar, dia sempat muncul di halaman majalah bisnis sebagai pebisnis muda yang sukses. Tapi asal kau tahu, kesuksesan Steve semua berasal dari Sinta. Steve tidak memiliki apa-apa saat menikah dengan Sinta. Dia hanya seorang pelayan kafe yang satu kampus dengan Sinta."


"Jadi Steve yang sama dengan Steve klien saya, Yah. Mungkin dia kenal dengan Wulan saat menghadiri acara pesta pernikahan Hans dan Tia," ucap Hans sembari mengingat bagaimana Steve terlihat begitu akrab dengan Wulan.


Alis Gunawan bertautan, menyatukan garis keriput di area mata Gunawan. "Jadi Steve dan Wulan hadir di pernikahan kalian? Dan mereka setelah kenalan langsung ke hotel berdua? Intinya Steve sudah berpengalaman dengan wanita manapun. Tidak aku sangka aku memiliki menantu yang pandai berkhi4nat!"


Gunawan memejamkan mata lalu mengambil napas dalam-dalam. Dia merasa telah ditipu oleh Steve selama ini, dan Steve menikahi Sinta hanya untuk bisa mendapatkan kekayaan keluarga Sinta.


Tia menepuk bahu Gunawan untuk meredakan amarah yang ada di dalam hati Gunawan. Bagaimana tidak, dua putrinya tersakiti oleh kelakuan seorang wanita yang sama. Seperti apa wujud Wulan yang mampu membuat lelaki bisa berpaling kepadanya.


"Ayah, sudahlah. Semua sudah terlanjur terjadi. Toh, Tia Sekarang hidup bahagia dengan mas Hans. Di balik penderitaan yang Mbak Wulan beri, ternyata ada kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Asal kita sabar, Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik lagi," ucap Tia kembali menenangkan hati ayahnya.


Gunawan tersenyum ke arah Tia. Dia merasa memiliki sosok yang bisa membuat hatinya merasa tenang dan menghangat kembali. Dulu dia tidak bisa sepenuhnya memberikan kasih sayang pada Sinta karena disibukkan oleh urusan pekerjaan di kantor. Clara selalu mendesak dirinya kalau tidak usah memerhatikan keluarga hanya mengurus perusahaan saja sehari-hari Gunawan lakukan.


"Baiklah, Tia. Kalau begitu ayah pulang dulu karena harus berkemas untuk keberangkatan besok pagi. Percayakan semua ini pada ayah. Ayah akan melakukan hal yang terbaik yang bisa ayah lakukan. Sementara ini kita seperti ini dulu, ayah tidak ingin kau celaka jika Clara tahu bahwa kau anak kandung ayah. Kamu mau bersabar kan?" Gunawan mengulangi sekali lagi pertanyaannya.


"Baik, Ayah. Selamat jalan dan ayah harus berhati-hati," ucap Tia sambil tersenyum manis. Senyum yang sangat mirip dengan Gunawan.


Gunawan mengacak rambut Tua lalu mengecup keningnya.

__ADS_1


"Ayah pergi dulu, Assalamu Alaikum," ucap Gunawan pamitan.


"Wa'alaikum salam," jawab Hans dan Tia serempak.


Hans mengantar Gunawan hingga ke pintu. Gunawan membalikkan badannya menghadap Hans.


"Hans, tolong kau jaga Tia baik-baik. Jangan sampai dia menderita lagi. Aku sebagai ayah malu karena belum bisa membahagiakan Tia. Jika ada apa-apa, tolong kabari ayah. Simpan nomer ayah ini ya," ucap Gunawan memberikan kartu namanya pada Hans.


Gunawan menatap kemeja Hans yang sudah lusuh karena belum sempat ganti. Gunawan sebagai seorang ayah pun tergugah.


"Iya, Ayah. Hans akan mengabari perkembangan Tia. Jika nanti sudah diijinkan pulang ke Jakarta, maka ayah orang pertama yang Hans kabari," ucap Hans dengan senyum yang tulus.


"Hans, maafkan ayah. Nanti ayah akan kirim baju ganti untukmu, lihatlah kau terlalu sibuk mengurusi Tia hingga lupa mengurus dirimu sendiri. Ayah akan membeli baju untukmu dan Tia dan akan ayah kirim ke rumah sakit ini," ucap Gunawan memerhatikan penampilan Hans yang tidak terurus dua hari ini.


Hans terperangah melihat sang ayah mertua yang begitu perhatian padanya. Jujur Hans pun merasa sangat bahagia tatkala Gunawan adalah ayah mertuanya. Hans bisa ikut merasakan kasih sayang seorang ayah karena Hans sudah ditinggal sang ayah saat dirinya duduk di bangku SMU.


"Terima Kasih, Ayah, sungguh ini luar biasa. Aku tidak menyangka jika ayah begitu perhatian kepada menantu ayah." Hans mengucapkan terima kasih kepada Gunawan.


Gunawan tersenyum lalu menepuk bahu Hans. Hans pun membalas dengan senyuman juga.


"Baiklah, ayah pergi dulu." Gunawan berbalik lalu melangkahkan kakinya menyusuri lorong menuju ke lobby rumah sakit dan ke tempat parkiran.


Hans pun kembali masuk ke kamar.


"Ayah sudah pergi, Mas?" tanya Tia pada sang suami.


"Sudah, baru saja. Tia, apakah kamu merasa bahagia setelah bertemu dengan ayahmu?" tanya Hans mengambil tempat duduk di samping Tia.


Tia menghela napas panjang, mengeluarkan semua yang terasa sesak di dada.


"Iya, Mas. Tia sangat bahagia. Ternyata Allah mengabulkan doa kita. Tidak Tia duga jika kita dekat sekali dengan ayah. Perjalanan jauh kita tidak sia-sia," ucap Tia memandang Hans dengan tatapan penuh syukur.


"Benar, Tia. Mas juga merasa sangat bahagia memiliki ayah mertua rasa ayah kandung. Semoga urusan ayah dimudahkan dan cepat selesai."


"Aamiin ... Mas, apa mas tidak ingin menengok mbak Wulan? Kata ayah dia juga dirawat di rumah sakit ini," ujar Tia menatap sang suami.


Hans terdiam, di sana sekali tidak memikirkan Wulan. Entah bagaimana keadaan Wulan, Hans enggan untuk mencari tahu. Sudah cukup Wulan menorehkan luka di hati Tia dan dirinya.


"Tia, maafkan mas jika menyinggung mu. Mas ingin agar kita fokus pada kesehatan mu dan juga janinmu. Kamu tahu kan, jika kandungan mu baru berbentuk kantung yang belum sempurna. Mungkin kita di sini akan lama, karena tidak mungkin bagi kita untuk pulang ke Jakarta dalam kondisi seperti ini. Mengenai pekerjaan mas, mas akan kerjakan dari sini. Bagaimana kau setuju kan?" jelas Hans meminta pengertian Tia agar tidak mengurusi urusan orang lain terlebih dahulu.


Tia terdiam, dia meresapi apa yang dikatakan oleh suaminya. Memang benar saat ini kondisi Tia belum bisa untuk diajak kemana-mana, dia harus benar-benar bed rest. Tidak boleh banyak bergerak dan melakukan aktivitas yang berat.


"Baiklah, Mas. Tia akan menuruti semua kata-kata mas Hans. Tapiii ...."

__ADS_1


__ADS_2