
Arum menggeram kesal karena Ridho tidak bisa dihubungi. Di sisi yang lain para dewan komisaris mendesak untuk bertemu dengan Ridho sebagai direktur utama.
"Kemana tuan Ridho! Sungguh ini sangat membuatku kesal!" gerutu Arum sembari menghentakkan kaki.
Sementara itu Ridho masih asyik sarapan dengan Rosie, ponselnya belum dia nyalakan sedari bangun tadi.
"Kamu sudah kenyang, Sayang?" tanya Rosie manja pada Ridho. Melihat Ridho sudah membersihkan mulutnya, Rosie pun ikut menyudahi sarapannya.
"Maaf, aku harus segera ke kantor. Ini sudah sangat terlambat sekali. Ini uang untukmu," ucap Ridho sembari memberikan segepok uang ratusan ribu.
Mata Rosie berbinar melihat segepok uang ratusan ribu berada di pangkuannya.
"Terimakasih, Mas. Aku akan menunggu dengan sabar kabar dari mas Ridho," ucap Rosie dengan senyum yang masih mengembang.
__ADS_1
"Sudahlah, aku pergi dulu. Jangan lupa bayar sewa hotel ini dengan uang itu. Aku tidak mau ada tagihan di rekeningku," tegas Ridho tidak mau mengeluarkan uang lagi. Ridho segera keluar dari
Uang yang diberikan Ridho pada Rosie sudah termasuk bayar sewa hotel. Ridho sangat perhitungan dalam mengeluarkan uang.
"Astaga, segini masih dipotong bayar sewa hotel?! Ternyata hitungan sekali ni lelaki. Tahu begitu, semalam aku pakai pelindung dan memilih hotel yang biasa saja!" sungut Rosie menyesali kejadian semalam.
Rosie dengan berat hati, akhirnya mengemasi barangnya. Dengan ekspresi wajah menahan kesal, Rosie mengurusi pembayaran sewa hotel. Sisa uang yang diterimanya hanya tinggal lima juta saja.
Ridho melajukan mobilnya dengan terburu karena sudah terlambat. Hampir sepanjang jalan dia mendapat umpatan dari pengendara lain.
Mobil Ridho memasuki halaman kantornya. Banyak orang berkerumun di lobi kantor. Ridho mengerutkan alisnya, bingung karena baru pertama kali ini lobi hotelnya dipenuhi banyak orang yang memakai jas.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Ridho pada Security.
__ADS_1
Sang security itu pun menoleh ke arah sumber suara. Tampak berdiri di sampingnya sang bos yang sedang ditunggu kedatangannya.
"Bos? Syukurlah Anda segera datang. Bos dicari oleh para dewan komisaris," jawab sang security dengan wajah yang lega.
Mata Ridho membulat sempurna, dia sangat terkejut akan berita yang disampaikan oleh sang security.
"Maaf, Pak. Untuk apa mereka mencari saya? Bukankah semua baik-baik saja?" tanya Ridho terheran. Tidak biasanya para dewan komisaris pemegang saham mencari dirinya.
"Lebih baik Anda tanyakan pada nona Arum. Dia yang lebih tahu daripada saya, Tuan," jawab security itu tidak ingin salah dalam memberi informasi. Takut jika salah, pekerjaannya akan melayang.
"Baiklah, aku akan masuk lewat pintu belakang. Dari depan sepertinya tidak memungkinkan. Terimakasih, Pak," ucap Ridho dengan dahi dipenuhi keringat dingin. Dia tahu pasti ada masalah besar yang membuat para dewan komisaris itu mencari dirinya.
"Aku harus bergegas menemui Arum. Mengapa Arum tidak menghubungiku! Astaga ... Ponsel ku belum aku hidupkan dari tadi pagi." Ridho bermonolog sendiri di dalam hati.
__ADS_1
Ridho mengambil ponselnya yang dia simpan di dalam saku. Ridho tidak menyadari kalau bajunya berbau alkohol. Dia tidak pulang untuk mengganti bajunya, melainkan langsung ke kantor. Harapan Ridho dia akan mandi lagi dan berganti pakaian di kantor saja. Sungguh sangat kacau penampilan Ridho hari ini.