Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 149


__ADS_3

Clara berjalan mundur untuk menghindari Gunawan hingga tubuhnya merapat ke tembok. Rasa takut kini telah menyelinap merasuk ke dalam tubuhnya.


"Bagaimana? Apa kau merasa takut? Apakah kau bisa rasakan hal yang sama dengan wanita itu rasakan?" tanya Gunawan tepat di dekat telinga Clara.



"Pa, aku mohon ... Hentikan! apapun yang kau inginkan aku akan mengabulkannya. Tapi aku mohon jangan kau paksa aku?" ucap Clara dengan gemetar.



"Hahaha ... Kau takut bukan? Tapi ... Maaf, Clara. Jangan kau kira aku tertarik dengan tubuhmu, bekas orang lain bukan? Memang nasibku malang sekali. Di usiaku ini tidak bisa memiliki pendamping yang bisa mengerti dan memahami aku! Sudahlah ... Kita akan bertemu di pengadilan!"



Gunawan melepaskan tubuh Clara begitu saja dan melangkah pergi membawa semua kekecewaan dalam diri. Tujuan hidup Gunawan kini hanyalah sang buah hati. Gunawan masih bersyukur memiliki keluarga. Mungkin ini adalah maksud dari rencana Sang Pencipta di balik peristiwa malam naas itu. Gunawan masih memiliki anak kandung.



Tubuh Clara luruh ke lantai, dia tidak mengira jika harga dirinya akan terhempas di depan lelaki yang dulu menjadi bonekanya.



"Pa ... Jangan pergi, Pa ...!" teriak Clara meraung meminta Gunawan agar tidak meninggalkannya. Namun, Gunawan sama sekali tidak mendengarkan teriakannya. Dia melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.



"Pa ... Papa, berhenti ... Pa!" teriak Clara dengan suara serak.

__ADS_1



Brak!



Gunawan menutup pintu dengan keras. Dia memutuskan untuk kembali ke Lampung saat itu juga. Gunawan sudah meminta Rustam untuk memesankan tiket pesawat.



"Papa!!" Clara berteriak seperti orang tidak waras. Ada semacam rasa tidak ingin kehilangan diri Gunawan. Clara melipat kakinya dengan tangan melingkar di kaki dan wajah tertunduk.


Tiga jam berlalu.


Triing ...




"Hallo, Sinta." Clara menjawab panggilan Sinta dengan suara serak setelah menangis dengan durasi waktu yang cukup lama.



"Hallo, Ma. Mama masih di Jakarta? Loh ... Kenapa suara mama serak?"


__ADS_1


Suara Sinta terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan sang ibu. Sinta merasa pasti ada yang tidak beres.



"Eh, tidak ada apa-apa, Sin. Mama baik- baik saja kok," jawab Clara tidak ingin membuat anaknya merasa sedih. Selama ini Sinta dan Clara selalu dekat, bahkan Clara terlalu ikut campur dalam kehidupan sang anak. Clara ingin memberikan yang terbaik untuk Sinta.



"Tapi, Ma. Sinta yakin mana saat ini sedang tidak baik-baik saja. Katakan, Ma. Apa yang terjadi antara papa dan mama?"



Deg!



Clara membulatkan matanya sempurna. Dia terkejut mengapa Sinta bisa tahu apa yang telah terjadi antara dirinya dan Gunawan.



"Apa maksudmu, Sinta? Mengapa kau bisa berkata kalau mama sedang tidak baik-baik saja?" tanya Clara penasaran bagaimana sang anak bisa tahu jika dia sedang ada masalah dengan Gunawan.



"Ma, papa baru saja pulang dan dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Lalu papa berpamitan pada Sinta kemudian pergi begitu saja. Sinta tanya dimana mama, papa hanya diam tidak menjawab," ujar Sinta menjelaskan mengapa Sinta bisa berpikir sudah terjadi sesuatu dengan sang ibu dan ayahnya.


__ADS_1


"Sinta, apa kau tahu apa yang dibawa papamu pergi?" Clara ingin tahu apakah Gunawan membawa barang dari rumahnya.


__ADS_2