Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 51


__ADS_3

Tia melirik ke arah Hans yang sudah pasang wajah cemburu. Tia tertawa geli di dalam hati. Ternyata masih ada yang cemburu padanya. Tia mengira tidak ada laki-laki yang mengharapkan dirinya seperti sang mantan suami.



"Mas, hal yang wajar sih aku terkejut. Walau bagaimanapun mas Ridho pernah menjadi bagian dari diriku. Namun, tidak semua perhatian itu diartikan sebagai cinta kembali. Aku sudah memutuskan untuk menerima mas Hans sebagai suamiku, untuk itu aku baru mulai akan menata hati, memberikan cinta ini hanya untuk mas Hans," ucap Tia sembari tersenyum dengan tulus.



"Terima kasih, Tia. Hati ini menjadi tenang setelah mendengar penjelasanmu. Semoga akan semakin bertumbuh cinta di antara kita," ucap Hans sembari melanjutkan kembali sarapannya.



Tia tersenyum, setelah itu dia kembali menyimak berita yang ada di televisi. "Apakah mbak Wulan melihat berita ini atau tidak ya? Bukankah dia ada di rumah sakit, huft ... jenguk atau tidak ya? Tapi hari ini harus ke pengadilan. Ah, besok saja aku menjenguk kak Wulan. Hari ini fokus mengambil akta cerai dan menjemput mama di rumah sakit," gumam Tia memikirkan agenda hari ini.



"Mas, hari ini setelah mengambil akta cerai kita ke rumah sakit untuk menjemput ibu ya," pinta Tia pada Hans.



"Boleh sih Tia. Tapi hari ini jam satu siang aku harus menghadiri rapat pimpinan. Kamu tidak apa aku antar saja? Nanti pulang bisa naik taksi. Bagaimana?" Hans menatap Tia penuh harap. Hari ini dia harus rapat dewan komisaris pemegang saham perusahaannya.



"Tidak apa-apa, Mas. Biar aku saja yang menjemput mama, dan sekali lagi aku pakai uang yang mas kasih itu ya. Nanti kalau usaha Tia maju maka Tia akan mengganti uang mas Hans yang sudah Tia pakai."


__ADS_1


Tia masih bersikukuh untuk mengembalikan uang Hans yang telah dia pakai untuk membiayai pengobatan sang ibu. Tia tidak ingin dianggap sebagai wanita yang memanfaatkan harta suami.



Hans hanya bisa mendesah pelan, dia lebih baik menyerah daripada harus berdebat dengan sang istri yang ternyata keras kepala. Namun, dalam hati Hans memuji kegigihan dan ketangguhan Tia. Belum pernah dia temui wanita seperti Tia yang memiliki keteguhan dalam berprinsip.



"Baiklah, Tia. Mas tidak akan memaksamu lagi. Apapun yang kau anggap itu baik, maka mas akan selalu mendukung. Berapa pun biaya yang kau butuhkan, mas siap untuk membantu. Mulai sekarang uang mas adalah uangmu juga, jangan pernah merasa sungkan untuk menggunakan uang dari mas. Ada hak mu di setiap uang yang mas kirimkan ke rekeningmu," ucap Hans. Raut wajah Hans menyiratkan harapan agar Tia mau menerima pemberiannya.


Hati Tia merasa terharu. Dulu saat bersama Ridho semua pengeluaran Wulan yang menghandle. Dia tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar bagaimana menggunakan ATM.


"Terimakasih, Mas. Tia akan menggunakan uang yang diberikan mas Hans dengan sebaik-baiknya." Tia menatap wajah Hans yang berubah lega. Hans menggenggam tangan Tia dengan lembut.




Tia tersadar kalau dirinya belum mengurus sang ibu mertua.



"Mas, sebentar ya. Aku lihat ibu dulu, biasanya pagi begini ibu sudah bangun," ucap Tia sedikit khawatir dengan keadaan sang ibu yang tidak biasanya belum bangun.



Hans juga tersadar, dia belum melihat ibunya. Gegas Hans bangkit dari duduknya dan mengikuti Tia dari belakang. Keduanya bersama menuju ke kamar sang ibu.

__ADS_1



Tok ... Tok ....



"Ibu ... Ibu, buka pintu, Bu. Ibu tidak sarapan bersama?"



Tia mengetuk pintu kamar Ningsih sembari memanggil namanya. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Hans dan Tia pun tampak khawatir dan panik. Takut terjadi apa-apa dengan sang ibu.



"Mas, tidak ada jawaban dari ibu. Bagaimana ini, Mas? Aku takut terjadi apa-apa dengan ibu," ucap Tia. Dia merasa bersalah karena hampir melupakan sang ibu.



Hans merengkuh Tia dalam dekapannya. "Tenanglah, Tia. Aku yakin ibu tidak apa-apa," balas Hans. Dia pun menggantikan Tia untuk mengetuk pintu tersebut.



Tok ... Tok ....



"Bu ... Bu ... Ibu tidak apa-apa 'kan?" panggil Hans dengan suara yang lebih keras.

__ADS_1


__ADS_2