
Setelah seminggu berlalu akhirnya Adira dan bayinya di izinkan untuk pulang. Karena itu setelah mengemasi beberapa barang yang harus di bawa Adira sekarang tengah duduk menunggu Zein keluar dari ruangan dokter untuk urusan administrasi dan laporan kesehatan mereka.
“ Dira kamu kenapa? Aku perhatikan sedari tadi kamu hanya diam saja ” ujar Helena dia memang menemani Adira duduk di sana sambil mengendong bayi Adira. Dia merasakan perubahan emosi sahabatnya itu, beberapa hari yang lalu saat dia belum di izinkan pulang dari rumah sakit. Adira sangat ingin cepat-cepat keluar dari sana, namun begitu hari yang di nanti telah tiba dia justru nampak kurang bahagia.
Adira menarik napas sejenak.
“ Entahlah..jujur aku merasakan dilema, keluar dari rumah sakit memang hal yang membahagiakan karena bayiku juga sudah sehat. Hanya saja...sekarang aku harus pulang kemana Helen? Ini tidak sama seperti rencanaku harusnya jika Mas Zein belum tahu kebenaran tentang bayinya..tapi sekarang benar-benar rumit ”
“ Tentu saja kita akan pulang ke rumah kita di desa kenapa juga kamu kesulitan karena masalah itu. Sekarang kamu punya tempat pulang, ke rumah kita. Kamu juga tahu hal itu kan ”
“ Jika kamu masih ragu dan takut untuk kembali ke keluarga Brown atau karena keluarga itu masih tidak mau menerima kamu dan anakmu. Ikut denganku Dira ” ucap Helena penuh penekanan.
“ Helen apa aku memang wanita yang tidak punya pendirian? ”
Helena menggelengkan kepalanya kuat.
“ Dari awal aku memang sudah berencana tidak akan mau kembali ke keluarga Brown lagi maupun...berhubungan dengan Mas Zein. Situasi sekarang malah berbanding terbalik dengan semua rencanaku, dari selama aku di sini Mas Zein dan juga anak-anak semuanya meminta aku kembali. Aku harus bagaimana? Kalau kembali ke desa juga Mas Zein tidak akan menyerah semudah itu dia bahkan rela tinggal di mansion tua itu ”
Helena masih diam menimang-nimang apa yang harus dia katakan kepada Adira juga mencoba memahami situasi sahabatnya itu.
“ Dira sekarang aku tanya dan aku harap kamu jawab jujur. Apa kamu masih mencintai pria itu? Maksudku Tuan Zein Brown apa kamu masih mencintainya? ”
Lidah Adira terasa keluh hingga dia tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Semua yang dirasakannya selama melihat pria itu rasa bahagia, sedih, benci, dan juga kemarahan apa pantas di sebut cinta. Karena bagi Adira keberadaan Zein di dekatnya ibarat sebuah pemantik yang selalu bisa kapan saja membuatnya meledak.
“ Kamu tidak bisa menjawab pertanyaan itu ”
“ Bu-bukan begitu Helen ”
“ Baiklah kamu tidak menjawab tapi juga tidak menyangkal. Seharusnya tanpa aku bilang pun kamu sudah tahu sendiri bagaimana sebenarnya perasaanmu pada mantan suamimu itu ”
“ Aku merasa semua ini tidak benar seakan melewati jalan yang jika aku bertemu rintangan lagi, maka saat itu juga aku tidak akan bisa bangkit lagi Helen ”
__ADS_1
“ Kamu takutkan? ”
Adira meremas jemarinya kuat mendengar pertanyaan itu.
“ Kamu takut jika kamu memilih kembali baik Zein maupun anak-anak nya akan mengecewakanmu lagi. Karena jika itu terjadi kamu merasa tidak akan sanggup bertahan. Sedikit tidaknya aku memahami hal yang kamu cemaskan Dira ”
“ Sama sepertimu aku juga takut kalau saja mereka yang pernah menyakitimu kembali menyakitimu aku pasti akan sangat menyesal tidak menghentikan kamu mengambil keputusan itu. Tapi Dira sekarang dengarkan aku ”
Adira menatap Helena serius sama seperti raut wajah tenang namun penuh keseriusan yang di tunjukkan Helena.
“ Jangan demi anakmu juga jangan demi anak-anak Zein yang memohon kamu untuk kembali. Hanya demi dirimu pikirkan bahwa kamu mengambil keputusan itu hanya untuk kebahagiaanmu sendiri ”
Tap tap tap tap tap tap tap
Suara langkah kaki yang perlahan semakin mendekat ke arah mereka. Membuat Adira menoleh ke arah suara itu. Nampak Zein yang melewati lorong rumah sakit itu melangkah menuju ke arah mereka.
“ Apakah kamu merasakan kebahagiaan jika bersama pria itu? Tidak peduli betapa beratnya tapi jika bersama dia kamu merasa bahagia dan aman. Itu cinta..kesempatan tidak akan terus ada Dira, jika kamu tidak memutuskan sekarang bisa saja semuanya hilang dan kamu terlambat untuk membangun kembali ” bisik Helena intens. Sementara telinga Adira seakan menangkap suara itu dengan jelas sampai kata-kata itu terus berputar di kepalanya. Dengan tatapannya yang tak berpaling dari Zein.
“ Urusan dengan dokter sudah selesai kita pulang sekarang ”
Helena menganggukkan kepalanya pelan. Melihat itu Adira merasa yakin kalau keputusan yang dia ambil saat itu sudah benar. Hingga tanpa ragu dia meraih tangan Zein yang mengajaknya berdiri dari duduknya.
Zein menyadari tatapan dalam dan penuh harap dari Adira juga betapa seperti sebuah pancaran kebahagiaan yang terbersit di sana. Dia ingin bertanya apa yang membuat wanita itu merasakan kebahagiaan itu namun Zein memilih mengurungkan niat itu. Lalu terus melangkah bersama Adira dengan Helena yang mengikuti dari belakang sambil menggendong bayi Adira.
“ Mereka pasti bahagiakan...setelah semua kesulitan yang mereka lalui untuk bersatu. Aku harap mereka tidak akan berpisah lagi. Karena memang untuk menyadari bahwa orang itu sangat kita cintai adalah setelah sebuah kehilangan. Aku ingin menahan Adira terus bersamaku tapi wanita itu sekarang sudah dewasa dan dia layak untuk semua kebahagiaan itu ” , ucap Helena dalam hati sambil menatap Adira dan Zein dari belakang.
~
~
~
__ADS_1
Adira keluar dari mobil dengan bantuan Zein, dia menatap bangunan mewah yang ada di depannya. Itu dulu juga adalah rumah yang sama dimana dia pernah menikah dengan Zein dan berakhir bercerai. Adira tidak menyangka dia benar-benar kembali lagi ke rumah itu.
“ Kita masuk ” ucap Zein lembut yang melihat Adira terdiam.
Begitu pintu rumah di buka suara ledakan pita dan suara riuh terompet bersamaan dengan coffeti yang berjatuhan menghujani kedatangan Adira. Adira menatap tak percaya begitu melihat semua anak-anak Zein menyambutnya dengan meriah.
Sangat berbeda dengan dulu ketika dia pertama kali datang ke kediaman keluarga Brown itu yang di dapatnya hanyalah pemandangan pertengkaran hebat Zein dengan anak-anaknya dan suasana dingin di rumah itu.
Berbanding 180 derajat dengan yang ada didepan matanya saat ini.
“ Mama Lily kangen sekali ” seru Lily sambil menghambur memeluk Adira.
“ Mama juga...sangat merindukan Lily setiap hari merindukan Lily ” Adira membalas pelukan Lily, tidak disangka dia bisa kembali merasakan pelukan hangat gadis kecil yang begitu dia rindukan. Sampai tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.
“ Lily juga Ma, karena itu Lily ingin jadi anak baik supaya Mama pulang. Jangan pergi lagi ya Ma Lily janji akan jadi anak baik ”
Mendengar itu rindu dan juga haru yang dirasakan Adira seakan meluap-luap hingga ia tidak bisa menyembunyikan suara isakannya karena menangis. Lily dengan lembut menepuk-nepuk bahu Adira memberikan ketenangan kepada Adira.
Hi Hi Teman-Teman Readers😄
Author minta maaf banget karena lama up dan kalo up juga bolong-bolong. Karena beberapa hari yang lalu author memang lagi pulang kampung makanya agak sedikit stuck ide untuk nulis. Mungkin karena terlalu have fun sama keluarga juga, author minta maaf ya teman-teman.
Rasa senang banget karena banyak yang suka sama novel ini. Author gak bisa janji bakal up konsisten tapi author selalu berusaha yang terbaik untuk menyelesaikan novel ini dengan baik.
Lalu karena season 1 udah mendekati akhir tanda kutip season 1 kisah Adira dan Zein ya teman-teman.
Nah, untuk season 2 author bakal lanjutin kisah Helena dan Noah. Semoga nanti teman-teman suka😄 Teman-teman penasaran gak sama kisah Helena sama Noah?
Oh iya takutnya malah salah sangka season 2 tetap di lanjut dengan novel ini ya teman-teman jadi author gk niat buat novel baru. Tapi lanjutin di novel ini juga 😙
Terima kasih banyak atas dukungan like, komen, hadiah dan vote dari teman-teman. Jangan bosan untuk terus dukung novel ini ya teman-teman 😉
__ADS_1
Salam hangat dari author Mystorios_Writer yang masih banyakkkkk kekurangan ini🥀
Happy Reading 😘