Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Dia Itu Mantan Suamiku


__ADS_3

Derril dan Helena yang telah tiba di rumah sakit yang sudah diberitahu sebelumnya segera berlari ke dalam dan mencari dimana ruangan rawat Adira.


Sebelum berangkat Derril memberitahu Helena keadaan Adira karena dia tahu Helena merupakan orang terdekat Adira.


“ Yang mana ruangannya?! ” tanya Helena frustasi karena merasa mereka tak kunjung tiba di ruangan Adira.


“ Dua ruangan lagi dari sini ” Derril tetap berusaha menjawab dengan tenang.


“ Adira! ” teriak Helena begitu dia masuk ke ruangan rawat itu dan melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri.


Zein yang duduk menjaga Adira di samping brangkar segera berdiri melihat kedatangan kedua orang itu.


Dia bisa merasakan tatapan khawatir dan dalam dari pria itu.


Derril segera mendekat meraih tangan Adira berniat memeriksa keadaan wanita itu.


“ Apa yang kau lakukan? ” Zein segera menarik tangan Derril dan melepaskannya dari tangan Adira. Dia tidak terima pria itu menyentuh Adira sesukanya.


“ Aku seorang dokter, biarkan aku memeriksa keadaannya lagi ” Derril juga menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sikap Zein walau tidak sejelas pria itu.


Derril memeriksa denyut nadi Adira mencoba menghitung ritme napasnya.


“ Bagaimana keadaan Adira? ” Helena bertanya tidak sabar.


“ Keadaannya sudah membaik sepertinya sekarang dia hanya tertidur ” Derril juga menghela napas bersyukur semuanya baik.


“ Ohh..astaga Dira..harusnya aku tidak membiarkan kamu pergi sendiri tadi kalau tahu akan seperti ini ” Helena membelai rambut Adira lembut seakan tidak sanggup melihat sahabatnya berbaring lemah di sana.


“ Apa hubungan kedua orang ini dengan Adira? Jika pria ini suaminya lalu wanita ini siapa? Atau jangan-jangan pria ini bukan suaminya tapi suami wanita ini? Akan bagus jika dia bukan suami Adira karena sifatnya buruk ” , ucap Zein dalam hati.


“ Sebelumnya terima kasih Pak sudah menolong Adira, aku sahabatnya sekarang biar kami yang menjaganya Anda bisa pergi sekarang ” ucap Helena sopan kepada Zein, tanpa menanyakan identitas Zein karena baginya itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah bahwa Adira diselamatkan oleh pria itu dan sekarang mereka sudah ada disana untuk menjaga Adira.


“ Aku akan di sini sampai dia sadar ” tukas Zein datar.


“ Apa Anda tidak percaya dengan yang aku katakan? Aku dan Adira tinggal serumah kami sudah seperti saudara, aku tidak ingin merepotkan Anda lagi ” jelas Helena.


“ Tapi aku masih tetap harus di sini sampai dia sadar, karena aku ada urusan yang belum selesai dengannya ”

__ADS_1


Helena seketika panik.


“ Apa ketika kecelakaan itu Adira merusak sesuatu milik Anda? Oh astaga maaf Pak tapi berapa kerugian Anda akan segera saya ganti ” ucap Helena cepat.


“ Bukan, aku harap Anda bisa tenang dan kita tunggu sampai Adira bangun ” Zein hanya berkata tenang dan kembali fokus menatap Adira.


Helena dan Derril saling berpandangan berkomunikasi dengan tatapan mata mempertanyakan siapa sebenarnya pria itu, sampai dia tidak mau pergi sebelum Adira sadar.


Zein tetap duduk dengan tenang di kursi samping Adira, sementara Derril dan Helena menunggu sambil berdiri tidak tenang di dekat jendela.


Saat ini mereka bahkan terdominasi keberadaan Zein, sehingga tidak berani untuk menyuruh pria itu menyingkir karena yang berhak berada di samping Adira harusnya mereka. Tapi mereka berdua memilih diam.


~


~


~


Adira mulai mengerjapkan matanya pelan, sedikit menggerakkan tangannya meraba ke arah perutnya.


Adira mulai bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, dia berharap ini mimpi tapi suara dan tubuh pria itu benar-benar nyata.


“ Dira..kamu merasa sakit? Aku akan panggilkan dokter ya, dokter Derril juga ada di sini ” Helena yang sudah berada di samping Adira segera memeriksa keadaan wanita itu.


Adira menoleh ke arah Helena, hatinya merasa senang melihat sahabatnya itu sudah ada di sampingnya. Seolah perasaan aman itu kembali ke dalam dirinya.


“ Bawa aku pulang...aku mau pulang Helen ” lirih Adira terdengar seperti berbisik karena tubuhnya masih lemah.


“ Pulang? I-iya Dira..kita akan pulang tapi tunggu keadaanmu lebih baik lagi ya hanya sebentar saja kita akan langsung pulang setelahnya ”


Adira menggelengkan kepalanya lemah.


“ Aku mau pulang...sekarang kita pulang..sekarang ” Adira sangat ingin mendudukkan tubuhnya tapi ternyata dia tidak punya tenaga untuk itu.


Zein masih setia menatap Adira sendu, tidak bisa berkata apa pun walaupun dia tahu Adira tidak mengharapkan kehadirannya di sini. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Adira saat melihat sendiri betapa lemahnya wanita itu.


“ Dira..dengarkan aku, kamu percaya akukan aku doktermu jadi tolong dengarkan aku untuk sekarang kita belum bisa pulang, satu hari saja setelah satu hari aku berjanji akan membawamu pulang dan merawatmu dengan baik ” Derril berusaha menyakinkan Adira.

__ADS_1


Adira menatap dan mendengarkan Derril dengan sungguh-sungguh tapi dia merasa tidak boleh berada di sini lebih lama atau masalah besar akan segera terjadi.


Dia menggelengkan kepala lagi tak setuju dengan Derril, matanya memerah dan dipenuhi air mata yang menggenang sangking tidak inginnya dia berada lebih lama bersama Zein.


“ Dira...jangan menangis begitu, kamu merasa sakit? Beritahu padaku kalau ada yang sakit ” cemas Helena mengusap air mata di wajah Adira.


“ Aku..mau pulang..kita harus pulang ” lirih Adira lagi.


Helena sedikit menjauh dari Adira mendengus frustasi karena dia tidak tahan melihat Adira menangis itu membuat dia juga ikut meneteskan air mata.


Zein menyadari tatapan Adira yang sedari tadi menghindarinya, dan dia juga tahu alasan wanita itu selalu minta pulang.


Hingga tanpa berkata apa pun dia keluar dari ruangan itu, jika dia terus berada dalam ruangan itu maka Adira bisa saja nekad memaksa pulang sampai melakukan hal yang berbahaya.


Bahkan setelah kepergian Zein Adira masih menangis sampai Helena dan Derril kebingungan apa alasan wanita itu terus menangis.


“ Kalau begitu tunggu di sini aku akan coba tanyakan kepada dokter yang ada di sini, apa Adira bisa pulang hari ini. Tidak baik juga jika dia terus menangis ” putus Derril lalu keluar dari ruang rawat itu.


“ Sudah ya..jangan menangis lagi, nanti bayinya ikut sedih kalau Mamanya menangis terus ” Helena membelai rambut Adira lembut berusaha menenangkan Adira.


“ Dia..pria itu...hikss ”


Helena berusaha mendengarkan ucapan Adira tapi karena dia bicara sambil terisak-isak Helena jadi sulit untuk mengerti apa yang Adira katakan.


“ Pria yang mana? Apa ada seseorang yang berbuat jahat padamu? Katakan padaku aku akan membalas orang itu ”


“ Di-dia..dia itu mantan suamiku, ayo kita pulang Helen..” Adira berucap terbata.


Mata Helena membulat sempurna mendengar itu. Sekarang Helena tahu alasan Adira selalu meminta pulang dan mengapa wanita itu menangis.


“ Mengapa pria itu bisa menemukanmu? ” Helena bertanya tak percaya.


Adira menggelengkan kepala pelan.


“ Jangan biarkan dia tahu tentang anakku Helen..aku tidak mau..” pinta Adira sendu.


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2