
“ Adira jika ada kesempatan baik melalui handphone atau langsung aku sangat ingin bertemu suamimu ” ucap Derril saat Adira sudah berniat mengayuh sepedanya.
“ Semoga ada kesempatan seperti itu ” balas Adira kemudian mengayuh sepedanya menuju rumah.
“ Bertemu dengan suamiku? Aneh sekali..itu semua hanya ilusi saja, apa aku terlalu berlebihan menjabarkan tentang suami itu tadi sampai dokter Derril penasaran ”
Setibanya di rumah Adira memarkirkan sepeda itu ditempat biasa. Lalu dia memasuki rumah.
“ Aku pulang ” ucapnya sebagai ucapan salam.
“ Astaga Dira kenapa kamu pulang terlambat apa terjadi sesuatu di jalan tadi? Kamu tidak apa-apakan? ”
Adira yang diserbu pertanyaan itu sudah tahu dengan jelas bahwa Helena pasti sudah sangat cemas karena dia tak kunjung pulang tadi.
“ Tidak aku baik-baik saja hanya berbincang sebentar dengan beberapa orang ” bohong Adira karena jika dia mengatakan singgah di rumah dokter Derril maka sahabatnya itu akan semakin giat bekerja sebagai mak comblang gratis.
“ Aku takut sekali sampai mengira kau di culik-
“ mantan suamimu ”, lanjut Helena dalam hati karena dia hampir saja salah bicara lagi.
“ Dasar mulut gak punya filter ” rutuk Helen memukul bibirnya beberapa kali.
“ Kau kenapa sih? ” Adira heran melihat tingkah aneh Helena.
“ Apa? Bukan apa-apa aku baik-baik saja, sebaiknya setelah istirahat segeralah makan kamu sudah melewatkan waktu makan ini, tidak baik untuk janinmu ”
“ Iyaaa ” jawab Adira panjang, kemudian dia masuk sebentar ke kamarnya mengganti baju yang sudah tertempel keringat itu.
Selesai memakan nasi goreng yang dimasakkan Helena untuk sarapan, Adira melihat ada asam jawa di lemari es merasa sangat ingin memakan itu dia menikmati asam jawa itu layaknya permen.
“ Astaga Dira..” Helena segera menahan tangan Adira.
“ Sudah berapa banyak yang kau makan? ” ungkap Helena melihat banyaknya biji asam yang terletak di meja.
“ Tidak apa-apa Helen aku ingin makan lagi ini terasa enak kok ”
“ Tidak..tidak berhenti, ini asam tidak baik memakannya terlalu banyak nanti perutmu sakit ” Helena segera mengambil semua asam jawa itu dari Adira.
__ADS_1
“ Yaa..Helen berikan asamnya aku masih mau ” pinta Adira sedikit memelas agar Helena goyah.
“ Gak boleh, kamu sudah makan banyak sekali. Aku akan berikan besok lagi untuk hari ini sudah cukup banyak ” tolak Helen cepat.
Adira hanya mendengus kesal tapi akhirnya dia menurut juga setelah melihat betapa banyak biji asam di meja, dia sendiri baru menyadari ternyata sudah memakan sebanyak itu.
“ Astaga..bagaimana wanita ini bisa mengurus empat anak mantan suaminya, sedangkan mengurus dirinya sendiri saja tidak beres. Aku harus memberikan perhatian lebih padanya kalau tidak siapa lagi yang akan mengingatkan dia ” , ucap Helena dalam hati.
~
~
~
“ Siapa yang membersihkan kamarku?! ” teriak Nadia panik ketika dia baru saja pulang dari sekolah.
“ Mengapa kamarku jadi seperti ini?! Dimana semua kertas memo ku?! ” tanyanya dengan suara meninggi kepada para pelayan.
“ Sa-saya yang membersihkan kamar Nona Nadia ” ucap seorang pelayan gugup dan ketakutan.
“ Maaf Nona muda tapi semua kertasnya sudah saya buang ke tempat sampah..dan hari ini semua sampah sudah di jemput truk sampah ” pelayan itu hanya bisa menunduk ketakutan.
“ Arghh...” kesal Nadia, karena tanpa kertas memo pengingat yang di tempel di setiap sudut kamarnya maka dia bisa lupa dan kesulitan untuk mencari semua barang miliknya.
Nadia mengidap hipotirodisme penyakit yang memengaruhi hormon tiroid seseorang hingga penderitanya akan sangat mudah melupakan sesuatu.
“ Kamu kan yang menulis memo-memo itu, buatkan lagi yang sama persis dan tempelkan kembali dikamarku ” Nadia memerintahkan hal itu kepada kepala pelayan yang ditugaskan setelah Vera di pecat.
“ Maaf Nona tapi bukan saya yang menulis semua memo itu ” jawab pelayan itu jujur.
“ Lalu siapa diantara kalian yang menulis memo itu? ”
Semua pelayan yang berkumpul di sana saling memandang satu sama lain seolah bertanya dan menyuruh siapa yang menulis memo itu segera mengaku.
“ Tidak ada satu pun dari mereka yang menulis memo itu ” ucap Aidan tegas keluar dari kamarnya, bersandar di dinding dengan santai menatap Nadia dengan tatapan datar.
“ Apa Kakak tahu siapa yang menulis memo itu? ” tanya Nadia serius.
__ADS_1
“ Kalian semua kembali bekerja ” Aidan memerintahkan para pelayan itu untuk pergi dari sana.
Kemudian dia mendekat ke arah Nadia.
“ Kamu pasti kacau setelah semua kertas memo itu hilangkan ” ucapnya penuh penekanan.
“ Tentu saja aku tidak tahu dimana barang-barang yang aku simpan berada sekarang, biasanya aku akan membaca kertas memo itu dan segera mengingat kembali dimana aku menyimpannya ” jelas Nadia walaupun dia merasa kalut dan frustasi.
“ Berarti dia memang hebat sampai bisa menuliskan semua kebiasaan mu menyimpan sesuatu, padahal kamu sendiri melupakan kebiasaan itu ”
“ Kak aku punya penyakit tolong mengertilah..” lirih Nadia merasa kata-kata Aidan tidak membantu sama sekali.
“ Adira yang menulis semua memo itu diam-diam, dia tidak tahu kamu punya penyakit. Yang dia pikir kamu memiliki kebiasaan lupa makanya dia menulis kertas-kertas memo itu agar kau tidak berteriak-teriak kalau tak bisa menemukan barang-barangmu ” Aidan memberitahu hal itu karena merasa kasihan pada Nadia.
“ Adira yang menulis semua memo itu? ” Nadia seakan bertanya pada dirinya sendiri.
“ Ini kalau kamu masih tidak percaya ” Aidan menyerahkan kertas memo yang masih belum di tempelkan.
Nadia membuka lembar demi lembar kertas memo itu dan semua tulisan yang ada di sana sesuai dengan memo yang pernah tertempel di kamarnya.
* Tas tangan kecil terdapat di lemari bagian atas, coba raih dari atas kursi. Hati-hati jangan sampai jatuh
*Naskah drama berada di samping buku belajar, jika tidak ketemu coba lihat laci paling bawah di dekat meja rias *
*Buku-buku pelajaran mungkin tertinggal di sekolah. Jangan lupa untuk selalu membawa pengingat di tas
Seperti itulah isi dari kertas-kertas memo itu.
“ Adira takut kalau tiba-tiba kertas memo yang ada dikamarmu hilang makanya dia membuat salinan ini. Sebelum pergi hari itu dia memberikannya padaku, dengan mengatakan jika ada kertas memo yang hilang tinggal cari salinannya dan tempel kembali ke kamarmu. Tapi karena semua sudah hilang aku hanya bisa memberikan semua salinan itu padamu tempelkan saja sendiri ” ungkap Aidan panjang lebar.
“ Mengapa dia sampai mau melakukan ini? Untuk apa dia menulis semua memo itu? ” Nadia merasa tidak percaya dan juga tidak mengerti mengapa Adira sampai mau melakukan hal yang merepotkan seperti itu hanya agar Nadia tidak melupakan barang-barang nya.
“ Tanya saja pada dirimu sendiri apa selama ini butuh alasan khusus makanya dia menyayangimu ” tukas Aidan.
**Maaf ya teman-teman mungkin bab terakhir untuk hari ini akan aku up malam🙏🏻
Happy Reading😘**
__ADS_1