
“ Tidak perlu berusaha mendekati anak-anak ku dan bersikap seperti ibu bagi mereka. Karena nantinya kau juga akan pergi ” ucapan Zein itu bagaikan sebuah pisau yang menancap dalam di hati Adira. Dia berpikir setelah semua usahanya Zein akan melihat ketulusan dari Adira, tapi ternyata Adira salah semua masih sama seperti saat Zein menegaskan batasan kalau Adira bukan ibu dari anak-anaknya.
“ Apa itu membuat Mas merasa senang jika aku menjauh dari anak-anakmu? Untuk waktu sesingkat itu aku tidak bisa mendekati mereka? ” Adira mengungkapkan pertanyaan yang selama ini dia pendam setiap pria itu mempertegas lagi batasan itu padanya.
“ Aku membiarkanmu dekat dengan Lily, hanya memikirkan bagaimana reaksi anak itu ketika kau akan pergi saja sudah merepotkan ”
“ Tapi mengapa saat pertama kali aku datang ke rumah ini Mas memaksa anak-anak untuk memanggilku ibu..harusnya sedari dulu Mas cukup mengenalkan aku sebagai pengasuh Lily. Dengan begitu a-aku akan lebih tenang untuk tidak mendekat pada anak-anak ” ucap Adira lambat karena cukup sulit baginya untuk mengutarakan hal itu pada Zein.
“ Karena aku tidak ingin anak-anakku bersikap tidak sopan pada wanita yang sudah ku nikahi ” tegas Zein.
“ Bukan berarti dengan memanggil Ibu maka anak-anak akan hormat padaku. Karena yang Mas mau aku hanya diam layaknya patung. Harusnya jika menginginkan hal itu rahasiakan saja pernikahan ini! ” emosi Adira meledak seketika hingga nada suaranya meninggi.
“ Kau pikir hanya kau yang menderita karena pernikahan sial*n ini?! ” Zein yang saat itu juga dalam keadaan marah tanpa sadar malah mengucapkan hal kejam itu.
Adira tak sanggup bicara apa pun lagi mendengar betapa Zein sangat membenci pernikahan mereka. Hatinya sakit sekali ketika dengan mudahnya Zein melontarkan kata-kata itu.
Adira mundur beberapa langkah menjauh dari pria itu kemudian langkahnya semakin cepat berlari keluar dari kamar itu. Adira merasa tidak sanggup jika harus mendengar hal lain yang lebih kejam yang bisa saja diucapkan Zein lagi padanya. Dia tidak ingin menangis di depan pria itu setelah perkataan Zein tentang pernikahan mereka.
Adira meringkuk di balik sebuah pohon di taman depan rumah, dia bersembunyi di sana agar tidak ada seorang pun yang melihatnya menangis.
Cukup lama dia menangis sendirian di sana.
“ Sering menangis seperti ini tapi masih bertahan di rumah ini. Kenapa tidak pergi saja ” ucap seseorang tiba-tiba dari balik pohon, tempat Adira menangis.
Adira terkejut dia segera menyeka semua air mata di wajahnya, berdiri dan ingin melihat siapa orang itu.
“ Noah ” lirih Adira suaranya serak karena menangis cukup lama, mungkin karena tidak fokus Adira jadi tidak mengenali suara Noah.
__ADS_1
Noah menyodorkan sebuah sapu tangan kepada Adira tanpa melirik ke arah wanita itu. Adira dengan enggan menerima sapu tangan itu tapi tak mengenakannya.
“ Aku tidak menyangka ambisimu pada uang sangat besar bahkan saat kau tersiksa di rumah ini. Kau tetap tidak pergi ” Noah mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi datarnya.
“ Ambisi..pada uang ya? ” ungkap Adira berucap pada dirinya sendiri, air matanya kembali mengalir dengan derasnya mendengar perkataan Noah padanya.
“ Itu alasanmu masuk ke rumah inikan. Jangan membuat hidupmu sia-sia hanya untuk hal tak berguna seperti itu. Berada di rumah ini terus akan menjadi neraka untukmu ” ucap Noah melangkah santai meninggalkan Adira tanpa peduli Adira yang terisak mendengar perkataannya.
“ Ke-kenapa kalian semua hiks..seperti ini padaku?! Hikss..aku hanya ingin melunasi uang yang diambil orang tuaku hiks..hiks..a-aku tidak menginginkan lebih dari itu ” tangis Adira kuat dia memukul dadanya beberapa kali karena terasa sangat sesak berusaha menahan tangisannya tapi tangisan itu terus keluar tanpa dapat dia kendalikan.
~
~
~
“ Ada apa? Kamu masuk tanpa mengetuk ” ucap Zein bingung melihat Noah yang masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu, itu bukan kebiasaan Noah.
“ Daddy mencintai Nona Adira? ” tanya Noah tanpa basa-basi.
Zein tak menyangka Noah akan menanyakan pertanyaan itu secara frontal tanpa sedikit pun keraguan.
“ Pertanyaan mu aneh sekali aku tidak akan menjawabnya ” jawab Zein menyembunyikan keterkejutannya dan tetap tenang.
Noah masih berdiri tegak tanpa goyah sedikit pun meski dia dan Zein bertatapan langsung. Aura dingin dan sifat keras dari kedua orang itu seolah bersaing di ruangan itu.
Diantara semuanya hanya Noah yang berani membantah dan bertemu Zein tanpa sedikit pun rasa takut.
__ADS_1
“ Daddy seharusnya bisa menjawab dengan mudah pertanyaan itu ” balas Noah dingin.
“ Noah ada hal-hal yang tidak bisa aku ungkapkan padamu meskipun aku Ayahmu ” Zein tidak sedikit pun melunak.
“ Daddy tidak mencintai dia oleh karena itu mudah bagi Daddy membuat Nona Adira menangis. Meskipun membuat wanita menangis bukan sikap Daddy ” Noah mengucapkan itu penuh penekanan.
Ekspresi wajah Zein yang tadinya tenang seketika berubah mendengar ucapan Noah.
“ Daddy tidak mengerti kenapa tiba-tiba kamu jadi melantur seperti ini ” Zein berusaha menegur Noah seolah perkataan anak sulungnya itu tidak benar.
Tapi itu tidak membuat Noah merasa takut karena saat itu dia sangat marah. Tidak dapat menahan lagi permasalahan demi permasalahan yang terjadi di rumah ini. Hingga membuat dia yang selama ini diam tak tahan untuk langsung memprotes Daddynya.
“ Ceraikan dia, aku sudah cukup muak melihat keadaan menyedihkan di rumah ini setiap harinya. Melihat gadis itu juga berada di rumah ini hanya untuk menangis aku semakin muak Daddy ” ucap Noah tegas dan tidak mempedulikan reaksi Zein dia segera pergi dari ruangan itu.
Zein memijit pelipisnya merasa kepalanya berat , begitu banyak hal yang membuat dia merasa bingung dan itu melelahkan.
Dimana sekarang nampaknya Noah sudah menyadari situasi pernikahan Zein dengan Adira. Zein juga tidak menyangka bahkan anaknya yang pendiam itu sampai menyuruh Zein untuk menceraikan Adira.
“ Harusnya aku tidak pernah membawa dia ke rumah ini, maka dia tidak akan perlu menanggung kebencian anak-anakku apalagi sampai harus mengalami serangan sabotase itu ” Zein mulai menyesali tindakannya.
“ Solusi apa yang harus aku ambil untuk menyelesaikan masalah ini, atau memang menceraikannya adalah jalan terbaik untuk semuanya ” Zein bahkan berada disaat dimana merasa sangat bingung, dia yang dulunya tanpa ragu-ragu mengambil keputusan. Saat ini sebelum mengambil tindakan pada Adira dia bahkan sampai harus berulang kali mempertimbangkan apakah Lily akan bisa tenang setelah itu. Atau akankah Aidan akan menerima keputusan yang Zein buat dengan tenang.
Dia memikirkan anak-anaknya yang akan sulit untuk bisa berpisah dari Adira.
“ Tapi jika terus berada di rumah ini gadis itu hanya akan menjalani hidupnya dalam kesedihan ” ucap Zein tak bisa membayangkan harus membiarkan Adira menjalani kehidupan menyedihkan dirumahnya.
**Jangan lupa like, komen, hadiah, dan vote untuk novel ini. Author akan usahain update secara rutin 🥰
__ADS_1
Happy Reading😘**