Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Di sini Sangat Hangat


__ADS_3

“ Aku juga tidak masalah jika kamu suka menyebutku dengan sebutan anak itu..aku rasa tidak buruk juga ” Derril mengaruk kepalanya pelan sembari tertawa kecil.


“ Apa? ” Adira tercengang berharap tadi telinganya salah mendengar.


“ Ya sudah lupakan saja aku hanya bicara melantur, aku pulang ”


“ Dokter pasti lelah setelah perjalanan dari kota, selamat malam dan terima kasih untuk hadiahnya, Dok ”


Derril tersenyum dan mengangguk pelan.


“ Bagaimana bisa aku tidak jatuh hati pada wanita ini? Dia sangat lembut semua yang ada pada dirinya adalah hal baik. Aku bahkan tidak peduli jika saat ini dia istri orang dan mengandung anak pria lain. Aku tidak bisa menepis perasaanku padanya ”


Adira menatap sebentar Derril yang berjalan keluar dari pekarangan rumahnya, lalu tak lama dia masuk ke dalam rumahnya.


Dia langsung melihat Helena yang berdiri bersandar di ambang pintu kamarnya. Tanpa diduga pun Adira tahu sahabatnya itu ingin bicara dengannya, dan itu pasti topik yang tidak nyaman untuk Adira.


“ Lain kali saja Helen..hari ini sudah cukup melelahkan ” lirih Adira, Helena bergerak menepi dan memberi jalan agar Adira bisa masuk ke dalam kamar.


“ Kamu akan terus terjebak di masa lalu seperti ini? Aku sudah bilang padamu jika tempat ini sudah diketahui mantan suamimu ayo kita pindah ke tempat lain ” Helena mengucapkan itu dengan penuh penekanan.


“ Aku tidak terjebak Helen dan aku tidak ingin pindah dari sini hanya karena mereka tahu tempat ini. Itu sama saja aku selalu melarikan diri dan bersembunyi ”


“ Kamu akan tenang jika mereka selalu datang seperti hari ini? Dira pikirkan lagi pindah dari sini juga bukan hal buruk ”


“ Aku tidak peduli mereka mau datang atau tidak, tapi aku tidak akan membuang semua yang sudah aku bangun untuk melanjutkan hidup selama ini. Aku harap kamu mengerti Helen ” Adira menghela napas panjang, dia mendudukkan tubuhnya pelan di ranjang tidurnya.


“ Aku hanya tidak mau kamu goyah karena keluarga mantan suamimu lagi dan memutuskan kembali ke keluarga itu untuk kembali menderita ”


“ Tidak Helen, itu tak akan pernah terjadi ” bantah Adira tegas.


“Nyakin? Lalu selama ini mengapa kamu tidak mau menjalin hubungan dengan pria lain. Itu karena kamu masih mencintai mantan suamimu ”


“ Helen..tidak pernah ada perasaan seperti itu, aku sudah mengatakannya berulang kali padamu ”


“ Ya sudah kalau memang kamu tidak mencintai mantan suamimu, mulailah hubungan dengan pria lain. Bukannya dokter Derril pernah mengungkapkan perasaannya padamu ” tegas Helena menatap serius Adira.


“ Bagaimana bisa aku mencoba dekat dengan pria lain..seorang wanita yang sedang hamil..berharap pria lain yang bertanggung jawab untuk anakku ”

__ADS_1


“ Kamu yang menutup mata selama ini Derril jelas menunjukkan ketulusannya untuk menerimamu apa adanya. Dia juga tidak masalah dengan kehamilanmu. Tapi pikirkan lagi apa alasannya adalah kehamilanmu atau kamu masih mencintai mantan suamimu? ” setelah mengucapkan kata-kata itu Helena keluar dari kamar Adira.


Meninggalkan Adira di sana yang hanya bisa terdiam, semakin Helena mendesak Adira semakin Adira tak sanggup membantah. Dia sendiri tidak tahu apakah yang dikatakan Helena selama ini benar bahwa dia masih mencintai Zein.


~


~


~


Zein memarkirkan mobilnya di depan hotel yang sudah di pesan tadi. Hotel itu memang bukan hotel mewah hanya hotel sederhana yang cukup layak untuk menginap di sana. Karena terpaksa Zein harus menghentikan perjalanan mereka malam sudah terlalu larut, sedangkan untuk sampai ke rumah mereka masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi.


Karena itu dia memutuskan mereka akan menginap di hotel pinggiran kota itu.


“ Kita akan menginap di sini semalam lalu melanjutkan perjalanan besok pagi ” ucap Zein untuk pertama kali karena bahkan selama perjalanan tadi dia hanya diam tak bicara satu kata pun.


Noah, Aidan dan Nadia segera keluar dari dalam mobil, karena Daddynya hanya diam mereka juga tidak berani berbicara.


Begitu mereka masuk petugas hotel langsung mengantarkan mereka ke kamar yang dipesan.


“ Kamar yang tersisa hanya satu, kita akan pakai ini karena tidak punya pilihan lain ” Zein juga tidak menyangka walaupun hotel ini sederhana tapi ternyata merupakan penginapan terbaik yang paling banyak di gunakan para pengunjung daerah itu.


Zein sudah menjelaskan kepada petugas hotel bahwa mereka adalah keluarga jadi tidak masalah jika menggunakan satu kamar bersama.


Aidan bahkan sampai tercengang melihat kamar hotel yang baginya cukup sempit apalagi ranjang yang ada di kamar itu baginya sangat kecil.


Dia meraba kasur itu dan secepat kilat menggelengkan kepala, ini pertama kalinya dia menginap di hotel seburuk ini.


“ Aku ingin tidur di ranjang tidak mau di lantai ” pinta Nadia menatap Aidan yang bisa di lihatnya ingin tidur di ranjang itu.


“ Mana bisa kamu tidur di lantai, aku sensitif saat tidur. Aku tidak akan bisa tidur di lantai ” tolak Aidan cepat.


“ Masa Kakak tega membiarkan aku tidur di lantai? Harusnya sebagai laki-laki Kakak mengalah dong ”


“ Wah enak saja tidak perlu mengungkit kesetaraan gender hanya untuk tidur di kasur ”


“ Kalau kalian berisik kita akan diusir dari hotel ini ” ucap Noah yang langsung bisa membuat kedua adiknya itu terdiam.

__ADS_1


Zein hanya diam menatap anak-anaknya sudah lama sekali dia tidak melihat anak kembarnya itu berdebat seperti itu. Dia sendiri sudah tahu Aidan dan Nadia adalah dua orang yang sering adu mulut, lalu Noah akan berperan besar dalam menengahi perdebatan itu.


“ Kalian berdua bisa tidur di ranjang berdua, Noah dan aku akan tidur di lantai ” ucap Zein lalu menggelar selimut tambahan yang dia sengaja minta dari petugas hotel tadi di lantai sebelah ranjang itu.


Aidan dan Nadia saling menatap tajam untuk sesaat mereka lupa mengapa mereka bisa terjebak dalam hotel ini.


Noah bergerak pelan lalu membaringkan tubuhnya di samping Zein yang sudah berbaring terlebih dahulu tadi. Noah tidak tahu mengapa Daddy nya itu tidak mengungkit sama sekali tindakan mereka yang sudah pergi menemui Adira tanpa izin.


Nadia melihat Daddy dan kakaknya yang sudah berbaring di lantai itu, dia jadi kehilangan minat untuk tidur di ranjang. Nadia berjalan mendekat ke arah Zein, lalu berbaring pelan di samping Daddy nya itu.


“ Kenapa tidur di sini? Lantai nya dingin nanti kamu bisa flu ” ungkap Zein menatap Nadia yang sudah berbaring di sampingnya.


“ Di sini sangat hangat ” Nadia memeluk erat tangan Zein.


Zein melepaskan pelan tangannya dari dekapan Nadia. Sesaat Nadia langsung sedih dan kecewa, tapi segera berubah bahagia saat Daddy nya menarik pelan tubuhnya dan memeluk Nadia dengan satu lengannya itu dengan erat.


Nadia tersenyum dan membalas pelukan Daddy nya itu. Zein merindukan saat-saat Nadia bersikap manja seperti ini, baginya ini seperti dulu saat Nadia masih putri kecilnya yang suka merengek.


Waktu memang cepat berlalu Zein bahkan sampai tidak sadar sejak kapan bayi-bayinya itu tumbuh dewasa secepat ini.


Aidan sudah duduk di ranjang berniat untuk membaringkan tubuhnya, namun hatinya tidak tenang jika bersikap egois dan hanya dia sendiri yang tidur di atas ranjang itu.


Dia segera menarik selimut itu lalu menggelar nya di samping Nadia.


“ Geser sedikit aku juga ingin di peluk ” protes Aidan mendesak Nadia dari belakang.


“ Daddy lihat Kak Aidan selalu mengangguku ”


“ Aidan, kemarilah ” Zein melebarkan tangannya dan mengusap kepala putranya itu dengan lembut. Aidan membaringkan kepalanya di lengan Daddy nya itu sambil tersenyum senang.


Zein melihat Noah yang masih berbaring berlawanan arah dengan mereka. Zein menarik tubuh Noah dengan lengan yang sebelahnya dan mendekap putra sulungnya itu.


Cepat Noah membenamkan kepalanya agar tidak terlihat oleh Daddy nya, dia tidak mengeluarkan suara apa pun.


Tapi Zein bisa merasakan cairan hangat yang mengalir membasahi lengannya. Zein hanya diam tidak mempertanyakan hal itu hanya mengerti seberapa pendiam dan dinginnya Noah tapi anak itu juga bisa menangis.


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2