Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Nama Yang Sangat Bagus


__ADS_3

“ Kamu yang harus memberi dia nama ” tukas Zein pasti setelah berpikir sejenak.


“ Aku? ” mata Adira sedikit membulat tak percaya.


Zein mengiyakan dengan cepat.


“ Ta-tapi..” Adira ragu dan tiba-tiba merasa gugup melihat mereka semua yang menatapnya dan menantikan jawaban darinya.


“ Berikan saja nama yang menurutmu baik dan kamu suka. Aku merasa tidak adil kalau mengambil kesempatan ini darimu padahal sebelumnya aku yang sudah memberi nama kepada Noah dan Lily. Jadi untuk anak kita aku ingin kamu yang memberi nama padanya ” Zein menggenggam tangan Adira meyakinkan dia.


Adira fokus berpikir sebelumnya dia memang sudah memikirkan banyak nama untuk anaknya. Mencoba mengingat-ingat dan memilih nama mana yang lebih dia suka untuk anaknya.


“ Mungkin Nona A bisa memikirkannya dulu kalau nanti sudah punya nama yang dipilih tinggal beritahu pada kami saja ” ujar Nadia tidak ingin terlalu memaksa dan membebani Adira.


“ Hmm..aku punya satu nama yang aku suka dan setiap melihat bayinya aku selalu memikirkan nama ini ”


Mereka semua menantikan Adira melanjutkan ucapannya dan memberitahukan nama apa yang akan dia sebutkan.


“ Ziel aku ingin memberi dia nama Ziel Mas ”


“ Nama yang sangat bagus aku langsung menyukai nama itu begitu mendengarnya. Kita akan memanggil dia Ziel ”


“ Yeahh adik Ziel ” seru Lily. Adira tersenyum bahagia melihat semua yang senang mendengar nama yang dia pilihkan. Keluarga itu sama sekali tidak mempertanyakan mengapa dia memilih nama itu dan langsung menerimanya dengan bahagia. Itu memberikan perasaan senang sekaligus terharu pada Adira.


Adira tidak memikirkan nama yang rumit karena melihat nama anak-anak Zein yang juga sederhana dan hanya terdiri dari satu kata. Dia hanya terlalu menyukai nama Ziel karena itu dia memberikan bayinya nama itu.


Mereka menyelesaikan makan malam itu dengan baik, Noah dan Lily sudah kembali untuk istirahat ke kamarnya masing-masing. Sementara Aidan dan Nadia memutuskan untuk menonton TV bersama Zein dan Adira di ruang keluarga karena memang mereka sudah bisa lebih santai sekarang di masa liburannya.


“ Aku akan menelpon Helena sebentar ya Mas ” ucap Adira setelah dia teringat sudah lama tak menanyakan kabar Helena dan juga tak memberi kabar pada Helena padahal dia tahu Helena sekarang tinggal sendiri di desa. Adira merasa bersalah untuk itu karena itu dia ingin segera menelpon sahabatnya itu.


Zein melihat Adira yang berdiri sedikit menjauh dari mereka sembari dia menggendong Ziel.


“ Halo Helen ” ucap Adira senang begitu mendengar suara Helena yang menjawab panggilannya.


“ Iya, kamu baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu? ”


Lidah Adira terasa kelu ingin melanjutkan bicara setelah mendengar Helena yang sepertinya selalu mengkhawatirkan dia.

__ADS_1


“ Dira kamu masih di sana kan? Kenapa diam saja semua baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? ” tanya Helena khawatir karena tak kunjung menerima jawaban dari Adira.


“ Hmm..tidak aku baik-baik..saja. Maaf ya aku baru menelpon sekarang ” Adira menutup mulutnya dengan satu tangannya berniat agar Helena tak mendengar suara isakannya setelah itu.


“ Ya ampun aku pikir tadi ada masalah. Baguslah kalau begitu, bayinya juga sehat kan ”


“ Dia sehat..oh kami juga sudah memberinya nama ”


“ Wah benarkah kalau begitu cepat beritahu aku siapa namanya aku juga ingin tahu ”


Helena terdengar sangat antusias.


“ Ziel kami memberi dia nama Ziel. Bagaimana..menurutmu ”


“ Nama yang sangat bagus dan juga menggemaskan. Aku suka nama itu, tapi kenapa kamu menangis memberi kabar bahagia ini harusnya kamu senang dong ” lirih Helena.


“ Eh..tidak mana ada aku menangis, aku bahkan cukup bahagia sekarang ” bohong Adira.


“ Hais..dasar memangnya siapa yang coba kau bohongi sekarang. Sudah jangan menangis lagi aku baik-baik saja di sini jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu, kamu dengarkan ”


“ Nona A ” panik Aidan dan Nadia begitu mendengar isakan Adira. Zein memberi isyarat agar mereka tidak mendekat dan memberikan ruang untuk Adira karena Zein tahu alasan Adira menangis sedari tadi dia selalu memperhatikan Adira.


Aidan dan Nadia akhirnya membatalkan niatnya untuk menghampiri Adira dan tetap setia memperhatikan Adira dari tempat mereka.


“ Helen..aku merindukanmu..” sendu Adira, Helena yang mendengar itu hanya bisa menggigit bibirnya kuat berusaha untuk tidak menunjukkan betapa dia juga ingin menangis karena dia juga begitu merindukan Adira dan merasa kesepian berada sendiri di rumah itu.


“ Astaga..wanita ini masih tetap cengeng begini padahal sudah punya anak. Bagaimana bisa bayi ini sekarang malah sudah punya bayi ” ucap Helena berusaha bercanda.


“ Ti-tidak lucu tahu...leluconmu masih sama saja selalu garing ” Adira terkekeh dengan suara paraunya.


“ Aku juga merindukanmu kapan-kapan aku akan berkunjung jangan sedih begitu, seperti kita tidak pernah berpisah saja. Nanti aku juga akan menikah jangan terlalu banyak bermanja seperti ini padaku ya ”


“ Iya iya sana secepatnyalah menikah biar aku tidak menyusahkanmu ”


“ Datanglah berkunjung ke sini jangan tidak datang aku akan marah kalau begitu ” lanjut Adira.


“ Iya aku akan berkunjung begitu peternakan tidak sibuk aku pasti datang ”

__ADS_1


“ Ya sudah kalau begitu aku tutup ya ”


“ Iya ” balas Helena, kemudian Adira menyelesaikan panggilan itu.


Adira mengambil tisu yang ada di meja dan menyeka air matanya. Zein menepuk-nepuk pundak Adira untuk menenangkan dia.


“ Apa sebaiknya kita mengajak Helena tinggal di sini? ”


Adira segera menggeleng menolak ide Zein. Karena dia yang lebih mengenali bagaimana sahabatnya itu.


“ Dia pasti ngak mau. Aku juga tidak menyarankan hal itu bisa saja di sini Helena nantinya jadi tidak nyaman. Lagian peternakan yang sudah dia jalankan tidak mungkin ditinggalkan terbengkalai di desa ”


Zein mengerti hal itu karena itu dia tidak berniat memaksakan.


“ Apa Nona Helena hanya tinggal sendiri sekarang? ” tanya Nadia.


“ Benar, karena itu aku sedikit sedih takutnya dia kesepian. Tapi aku juga tidak bisa banyak membantu ”


“ Loh, tapi waktu aku tanyakan waktu itu dia bilang akan tinggal dengan saudaranya yang lain. Makanya aku mengizinkan dia untuk pulang sendiri waktu itu ” tukas Nadia.


“ Astaga..Helen kamu bahkan sampai berbohong seperti itu agar orang lain tidak mengkhawatirkanmu ”


Adira menggelengkan kepalanya pelan.


“ Begini saja kalau Helena mau berkunjung dan menginap lama di sini juga tidak masalah. Untuk masalah peternakannya tidak perlu khawatir aku akan urus masalah itu. Jadi dia bisa meninggalkan desa dengan baik Mas ”


“ Makasih Mas nanti aku akan memberitahu pada Helena ”


“ Sebenarnya aku sedikit takut pada Nona Helena dia sangat menyeramkan saat marah waktu itu. Juga beberapa hari waktu di rumah sakit juga sikapnya sangat dingin hampir sama dengan Kak Noah aku saja merinding mengingatnya ”


“ Oh..maksud Kak Aidan mengatakan itu karena tidak suka Nona Helena datang ke sini begitu ” desis Nadia melihat Aidan yang bahkan tak bisa membaca situasi dan malah mengatakan hal itu.


“ Aku ngak bermaksud begitu benar Nona A bukan itu maksudku, aku hanya teringat saja maaf ya tolong jangan salah paham aku juga suka kalau Nona Helena datang berkunjung ”


“ Iya ” balas Adira paham itu bukan karena Aidan tidak suka, tapi karena dia itu tipikal orang yang tidak segan mengungkapkan pandangannya begitu saja tanpa perlu menyembunyikan.


Happy Rending😘

__ADS_1


__ADS_2