
Lily tidak peduli yang dikatakan wanita itu, tapi dia tetap memeluk kelinci itu erat.
“ Waduh kamu bisa membunuhnya kalau seperti itu?! Dia tidak bisa bernapas! ” wanita itu segera merampas kelinci itu dari tangan Lily.
Tubuh Lily ikut bersamaan saat wanita itu menarik kelinci yang sedari tadi berusaha di pertahankan gadis kecil itu.
“ Benar-benar ya...anak-anak sekarang susah sekali dibilangin apa susahnya langsung berikan kelinci ini dari tadi, siapa Ibumu? Apa dia tidak mengajarimu bersikap sopan pada orang lain? ”
Lily tidak mengerti mengapa wanita itu mengucapkan kata-kata cercaan itu padanya, dia sendiri tidak pernah berada disituasi yang seperti saat ini. Hingga yang dia lakukan hanya menangis tersedu-sedu tak berani menatap wanita yang dianggapnya menyeramkan.
“ Malah menangis, aduh kau ini sebenarnya anak siapa? aku baru rasa baru pertama kali melihatmu di desa ini, apa sih yang dikerjakan orang tuamu sampai anaknya dibiarkan berkeliaran sendiri ”
“ Apa layak orang dewasa mengatakan hal sekejam itu didepan anak-anak? Pemikiran yang dangkal sekali mencerca orang lain di depan anak kecil ” dengan gerakan sigap Adira berjalan dan meraih tangan gadis kecil itu.
Lily memutar tubuhnya mengikuti arah Adira yang meraih tangannya, dia menunjukkan ekspresi terkejut sesaat. Namun dengan cepat dia mendekap tangan Adira kuat ingin melindungi diri dari wanita itu.
Adira melihat reaksi ketakutan Lily yang juga masih menangis, dia ingin menunduk dan membawa gadis kecil itu ke dalam dekapannya tapi apalah dayanya perutnya yang membesar membuatnya kesulitan untuk membungkuk sejajar dengan Lily. Yang dapat dilakukannya hanya membelai lembut rambut Lily berharap itu menenangkan anak itu.
“ Kenapa kau tiba-tiba datang dan langsung merasa aku yang sudah berbuat kasar pada anak ini, kau tidak tahu tadinya aku juga tidak mau marah kalau saja dia cepat memberikan kelinci ini. Harusnya dia diajarkan untuk tidak mengambil milik orang lain ”
“ Bisa berhenti berbicara seperti itu, dia hanya gadis kecil yang belum mengerti. Baginya kelinci itu mungkin menarik makanya dia memegangnya aku tidak tahu mengapa kau harus melakukan semua ini padanya ” Adira membalas wanita itu tak kalah sinis karena dia juga marah mendengar ucapan wanita itu yang diucapkan seakan Lily adalah seorang anak yang tertangkap mencuri.
“ Astaga..memangnya kau ibunya. Sudahlah sia-sia aku menghabiskan waktu bicara dengan orang seperti mu, urus sajalah dirimu sendiri tidak perlu berusaha menasehati orang lain. Kau sendiri saja wanita yang tidak jelas, tiba-tiba datang ke desa ini dalam keadaan hamil. Semua orang tidak tahu cerita tentang suamimu itu benar atau tidak, dasar tidak jelas ” hardik wanita itu sembari pergi dari sana.
Adira menutupi telinga Lily berharap ucapan wanita itu tak terdengar oleh anak itu. Dia juga tidak menyangka harus bertemu dengan Lily dalam situasi yang seperti ini. Awalnya dia sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya, sampai dia mendengar suara seorang wanita yang berbicara dengan keras. Lalu tak lama disusul suara tangisan anak kecil.
__ADS_1
Walaupun tidak berniat ikut campur dalam masalah itu, tapi Adira juga tidak bisa mengabaikan untuk tidak melihat apa yang terjadi di sana karena itu masih termasuk di pekarangan rumahnya. Tanpa dia sangka harus melihat seorang wanita membentak-bentak Lily yang sedang berdiri menangis di sana.
Tentu saja dia terkejut, tapi nyakin penglihatannya tidak mungkin salah karena itu pasti Lily. Ditambah dia tahu Zein sudah pindah ke desa ini, tidak menutup kemungkinan dia akan bertemu Lily walaupun harus dalam keadaan seperti ini.
“ Sudah Lily jangan menangis lagi ya ” suara lembut Adira membujuk Lily agar menghentikan tangisannya.
Lily mengangkat kepalanya menatap Adira, pipinya basah dengan mata memerah dan sembab. Jelas sekali tatapannya menelisik memastikan kembali bahwa yang ada di dekatnya saat ini adalah Mama Adiranya.
“ Mama ” lirih Lily
Adira menatap dalam bola mata membulat Lily yang seolah tak percaya yang di depannya adalah Adira. Adira berpikir mungkin Lily terkejut melihat perubahan tubuh Adira, dimana dia muncul sebagai seorang wanita yang sudah hamil tua di depan gadis itu. Pasti Lily terkejut dengan tampilan Adira yang sangat berbeda dari sebelumnya.
“ Hmm..Lily kenapa bisa sendiri di sini? Daddy ada dimana? ” berusaha menetralkan perasaannya Adira menyadari akan lebih baik jika dia segera mengembalikan Lily kepada Zein.
Lily menggeleng pelan.
Adira menggigit bibirnya pelan, bingung harus bagaimana bereaksi menanggapi Lily yang masih terus memanggilnya Mama. Dia mengusap air mata yang masih membasahi pipi Lily dengan lengan bajunya lembut.
“ Ya sudah, kita cari Daddy sama-sama ya ” Adira mengenggam tangan Lily dan merasakan gadis kecil itu yang membalas erat genggaman itu. Jika dulu dia dengan mudah bisa memeluk dan mengendong Lily saat bepergian sekarang kondisi tubuhnya tidak memungkinkan lagi.
“ Dari pada mencari ke sana kemari dengan tidak jelas, lebih baik aku langsung antarkan Lily ke mansion tua saja. Kemungkinan besar Mas Zein mungkin ada di sana ” , batin Adira.
Setelah dia mengajak Lily berdiri di pinggir jalan menunggu delman yang lewat. Akhirnya tak berapa lama ada satu delman yang lewat, Adira melambaikan tangan agar kusir menghentikan delman itu.
“ Ke mansion tua ya Pak ” ucap Adira kemudian membantu Lily menaiki delman.
__ADS_1
“ Mama Lily takut..”
“ Tidak apa-apa Lily duduk ya, semuanya akan baik-baik saja ” ucap Adira tersenyum, sementara dia harus membiarkan gadis kecil itu naik ke delman terlebih dahulu sementara dia berusaha menyusul dengan sedikit kesusahan.
“ Hati-hati Bu ”
“ Iya ayo jalan Pak ” Adira membalas peringatan dari kusir itu setelah dia duduk dengan posisi yang nyaman di samping Lily. Dia menepuk-nepuk pelan tangan Lily seolah menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Untuk Lily tentu saja ini menakutkan karena baru pertama kali dia menaiki delman.
Setelah sampai di depan mansion tua, tidak tega membiarkan Adira sendirian turun dari delman itu. Kusir itu membantu menurunkan Lily terlebih dahulu agar Adira dapat lebih leluasa.
“ Makasih banyak Pak ” ucap Adira sambil memberikan ongkos delman itu. Setelah membalas ucapan Adira segera kusir itu menggerakkan delmannya meninggalkan tempat itu.
Adira berdiri menatap bangunan mansion tua itu, masih tidak percaya akan dia sendiri yang datang menemui Zein padahal sebelumnya dia dengan jelas mengatakan pada pria itu agar tidak muncul dihadapannya.
“ Mama ” suara Lily yang memanggil sejenak menyadarkan Adira dari lamunannya.
“ Ah..oh iya hm..mungkin Daddy sudah ada di sini kan. Sebaiknya kita masuk saja ” Adira menjawab tergagap karena dia sendiri tidak nyakin.
Dengan pelan dia membukakan pintu pagar mansion itu yang kebetulan tidak terkunci, lalu melangkah bersama Lily.
“ Mas Zein ” panggilnya begitu dia benar-benar sudah masuk ke pekarangan mansion tua.
**Selamat tahun baru teman-teman🥳
Maaf ya teman-teman karena baru update sekarang, setelah sekian lama teman-teman menunggu🙏🏻🙏🏻 Maaf juga karena tidak bisa membalas komentar teman-teman satu persatu, karena sebelumnya akun aku bermasalah kayak hilang gitu.
__ADS_1
Baru ini akhirnya setelah berusaha diperbaiki akhirnya kembali, sedih banget teman-teman pasti kecewa karena novel ini udah lama banget ngak update. Mohon maaf ya teman-teman, semoga akunnya ngak hilang lagi🙏🏻
Happy reading😘**