
Adira selama beberapa hari hanya bisa menggunakan kursi roda akibat kakinya yang dipenuhi luka. Walaupun lukanya sudah jauh lebih membaik Zein belum mengizinkan Adira untuk tidak menggunakan kursi roda.
“ Mas sepertinya aku sudah tidak perlu memakai kursi roda lagi ” ungkap Adira yang juga merasa mulai bosan hanya bisa berbaring atau duduk seharian.
“ Tunggu sampai lukanya sembuh ” balas Zein tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di depannya.
Sejak Adira mengalami kecelakaan itu Zein lebih sering mengerjakan pekerjaannya di kamar daripada ruang kerja.
“ Sudah sembuh Mas...perbannya saja sudah dilepas ” Adira sendiri merasa terlalu bersikap manja.
“ Lukanya belum kering. Lalu bagaimana nanti kalau berdarah atau infeksi? Cakaran anjing memiliki racunnya sendiri ”
Adira mencoba membuktikan kepada Zein bahwa kakinya sudah benar-benar membaik, dia berdiri perlahan dari kursi roda itu.
“ Mas bisa lihat sendirikan aku sudah bisa berjalan seperti biasa ” Adira melangkahkan kakinya.
“ Berhenti memaksakan diri ” geram Zein baginya luka Adira belum pulih.
“ Kakiku tidak sakit Mas ” Adira menunduk sedih karena Zein memarahinya padahal dia merasa sudah sembuh.
Zein mencoba menenangkan dirinya setelah melihat Adira bersedih, sejujurnya dia bahkan masih menganggap Adira belum pulih sedikit pun karena luka itu masih terlihat sangat jelas. Tapi harusnya Zein sadar luka itu menjadi sangat mencolok karena kulit Adira yang sangat putih, sehingga luka itu nampak seperti noda yang memberikan cela.
Zein menarik tangan Adira pelan dan mengarahkan Adira untuk kembali duduk di ranjang.
“ Aku akan periksa lukamu terlebih dahulu ” ucap Zein memilih melunak menghadapi Adira.
Adira mengangkat kepalanya menatap Zein bingung harus bagaimana melaksanakan perintah pria itu.
Perlahan Zein meraih kedua kaki Adira meletakkan kaki Adira diatas pahanya.
“ Jangan seperti itu Mas..” Adira merasa tidak sopan jika kakinya harus diletakkan diatas paha Zein.
Zein diam tak menanggapi memperhatikan lagi luka Adira memang lukanya sudah tertutup sempurna hanya bekas luka yang masih belum sepenuhnya mengering.
“ Kalau kau berjalan memang sama sekali tidak sakit? ” Zein memastikan lagi hal itu.
“ Tidak sakit lagi Mas, aku janji akan berjalan dengan pelan supaya Mas tidak perlu khawatir kakiku akan luka lagi. Sepertinya aku sudah banyak merepotkan Mas ”
__ADS_1
“ Aku akan izinkan untuk tidak memakai kursi roda tapi tidak dengan berkeliaran sembarangan. Tetaplah berada dalam rumah, kalau kau melanggar hal itu terima konsekuensi dariku ” tegas Zein.
“ Iya Mas ” meskipun senang Adira juga merasa takut seolah Zein memperingatkan dia dengan tegas untuk tidak pergi berkeliaran.
Dengan lembut Zein meletakkan kaki Adira kembali ke ranjang. Lalu dia beranjak kembali ke sofa.
“ Aku harus melakukan sesuatu pada bekas luka itu. Gadis itu tidak seharus dibiarkan dengan bekas luka semencolok itu ” , batin Zein.
~
~
~
“ Aduh aku meletakkan naskahku kemana! ” Nadia meremas rambutnya kesal.
Awalnya Adira yang sedang mencoba menidurkan Lily mengabaikan suara Nadia yang sudah terdengar marah-marah sejak tadi. Tapi karena gadis itu tak kunjung diam akhirnya Adira menghampiri dia ke kamarnya.
“ Kamu kenapa? ” tanya Adira melihat keadaan kamar Nadia yang sudah kacau sama seperti keadaan Nadia sekarang.
“ Untuk apa kau datang ke sini?! ” rutuk Nadia kesal dengan kedatangan Adira.
“ Hais! Ya sudah pergilah aku akan diam ” Nadia masih mondar-mandir di dalam kamarnya, kepalanya celinguk melihat ke arah kolong ranjang.
Dari gelagat Nadia Adira tahu gadis itu pasti sedang mencari sesuatu.
“ Kau sedang mencari apa? Aku akan bantu mencarinya ” Adira tak tega melihat Nadia yang nampak risau itu.
“ Pergilah percuma juga bukannya bakal ketemu ” Nadia tetap bersungut-sungut. Adira menahan dirinya untuk tidak langsung marah mungkin itu karena Nadia sedari awal sudah kesal makanya dia bersikap sangat sinis.
“ Padahal aku tulus mau membantu, kalau barangnya ketemukan bagus ” ucap Adira tak menyerah.
“ Aku mencari naskah musikalku puas....lagian aku tidak butuh bantuanmu ” tolak Nadia cepat.
Adira memilih diam tak menjawab Nadia yang sedang dalam mood yang buruk, dia mulai mencari disekitar kamar Nadia. Mulai dari memeriksa laci, lemari, kolong tempat tidur, kardus-kardus yang berserakan di lantai karena Nadia sudah mencari di sana. Lalu tumpukan buku yang ada di meja belajar.
“ Aku sudah cari di sana tapi tidak ada jangan malah membuat buku-buku itu berantakan ” tegur Nadia karena memang dia sudah mencari di tumpukan buku itu tapi tidak menemukan naskahnya.
__ADS_1
Adira tetap fokus mencari sampai saat dia membuka sebuah buku yang nampak tebal, dia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang diklip di sana. Di sampulnya tertulis judul sebuah drama musikal.
“ Apa ini naskah yang kau cari? ” Adira menunjukkan kertas itu kepada Nadia.
Mata Nadia melotot tak percaya naskah yang dia cari berhasil ditemukan oleh Adira.
“ Darimana kau menemukannya? ” tanya Nadia masih merasa tidak percaya.
“ Itu terselip di dalam buku ini, mungkin kau lupa meletakkannya di situ ” simpul Adira.
Nadia membolak-balikan naskah itu memastikan naskahnya lengkap dan sekaligus karena dia merasa senang naskah itu berhasil ditemukan.
“ Tapi jelas-jelas tadi aku sudah mencari di tumpukan buku itu ”
“ Mencari itu pakai mata bukan pakai mulut! Apa aku bilang saja langsung pada anak ini ” , batin Adira setelah dia tadi menerima semua kekesalan Nadia padahal dia yang mencari kurang teliti hingga naskahnya tidak ketemu.
“ Jangan teriak-teriak lagi, aku akan memeriksa Lily sudah tidur atau belum ” Adira melangkah keluar merasa tidak perlu terlalu menyalahkan atau mencoba menjelaskan lebih pada Nadia karena pasti gadis itu sudah bisa mengerti sendiri kalau itu semua karena kelalaiannya sendiri.
Nadia menghela napas panjang dia memandangi seluruh isi kamarnya yang sudah seperti kamar pecah karena dia mengacak-acak semua untuk menemukan naskahnya tadi.
“ Aku masih harus membereskan semua barang-barang ini. Kapan penyakit ini akan sembuh ” dia mengusar rambutnya merasa kesal disaat bersamaan.
Adira kembali ke kamar Lily ternyata gadis kecil itu sudah terlelap tidur.
“ Diantara semua hanya Lily yang bersikap tenang. Dari siapa sikap tenang dan penurut ini kamu dapatkan ” Adira mencubit pelan pipi Lily gemas melihat muka polos Lily yang sedang tertidur pulas.
Walaupun Lily masih kecil tapi entah mengapa Adira selalu merasa anak itu memiliki sisi yang membuat Adira bisa merasa hangat dan nyaman disaat yang bersamaan.
Dari bagaimana Lily bersyukur untuk hal-hal kecil yang Adira lakukan, sikapnya yang penurut dan baik. Tentu berbeda dengan Aidan dan Nadia yang selalu menggebu-gebu tak sabaran. Sedangkan Noah sangat pendiam dan dingin. Itu yang membuat Adira bertanya-tanya dari siapa sifat itu Lily dapat. Jika melihat dari Zein nampaknya Aidan, Nadia, dan Noah yang lebih mirip sifatnya.
“ Ahh...mungkin sifat Lily menurun dari ibunya Nyonya Starla. Aku jadi sedikit penasaran bagaimana dulunya sifat Nyonya Starla. Apalagi Aidan pernah bilang kalau hanya dia satu-satunya wanita yang bisa menenangkan Mas Zein ” guman Adira lembut.
**Halo teman-teman aku akan jelaskan sedikit alur novel ini gak akan secepat misalnya Zein akan langsung jatuh cinta dengan Adira lalu mereka hidup bahagia, tidak.
Alur novel ini gak akan terburu-buru seperti itu, melainkan author akan menuliskan dalam novel ini bagaimana perjuangan Adira untuk bisa dekat dengan ke empat anak sambungnya yang masing-masing memiliki karakter khusus, perjalanan asmara Adira dan Zein yang terpaut usia yang jauh, dan apakah mereka nantinya bisa bersatu?
Jadi aku harap teman-teman bisa paham dengan alur ceritanya, dan tidak berpikir novel ini membosankan.
__ADS_1
Happy Reading 😘**