
Malam itu Adira merasa sedikit dilema karena selama beberapa hari dia sakit, hingga Zein yang tidak membiarkan dia sedikit pun beranjak dari ranjang dan harus terus menggunakan kursi roda. Selama dia sakit dia tidur bersama diranjang itu dengan Zein, tapi sekarang ceritanya sudah beda karena dia sudah sembuh.
“ Benar Mas Zein membiarkan aku tidur di ranjang itu karena aku sedang sakit. Aku harus tahu diri dan jangan berharap berlebihan, aku akan tidur di sofa lagi ” putus Adira setelah berpikir panjang.
Dia membaringkan tubuhnya di sofa itu karena sudah mulai terbiasa tidur di ranjang yang jauh lebih empuk dari sofa ini membuat Adira susah untuk terlelap. Berulang kali dia membalikkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
Tak berapa lama Zein juga memasuki kamar karena ini sudah tepat waktu tidurnya. Dia merasa aneh melihat tidak ada Adira yang berbaring di ranjang, akhirnya dia melihat gadis itu yang kembali tidur di sofa.
“ Apa ini? Kenapa dia tidur di sofa itu lagi? Tapi benar juga sejak awal aku yang menyuruhnya untuk tidur di sofa. Lalu mengapa sekarang aku harus merasa peduli jika dia kembali tidur di sana. Aku membiarkan dia tidur di ranjang karena saat itu dia sedang sakit ” , Zein berdialog panjang dalam hati, lalu dia naik ke ranjang mencoba tidak mempedulikan walaupun Adira tidak tidur bersamanya lagi.
Berulang kali Zein berusaha memejamkan matanya yang sudah mengantuk sedari tadi. Tapi tidak sedikit pun dia dapat terlelap padahal tubuhnya benar-benar lelah saat ini.
“ Ahh...apa yang salah denganku, aku merindukan aroma rambutnya yang terasa manis ” guman Zein pelan. Dia kembali membulatkan tekadnya untuk segera tidur, tapi dia sama sekali tidak bisa terlelap.
Akhirnya dia beranjak dari ranjang keluar menuju balkon menyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya.
Zein berpikir dengan sedikit menghirup udara segar maka tubuhnya akan lebih tenang sehingga dia akan bisa terlelap tidur seperti biasa, tapi bahkan sampai rokok itu hanya tersisa puntung Zein sama sekali tidak merasakan tenang.
“ Apa ini semacam kecanduan yang membuatku harus menyesap aroma tubuh Adira disampingku maka aku bisa tertidur. Kesalahan besar aku membiarkan dia tidur di ranjang ku tak menyangka aroma tubuhnya akan meninggalkan bekas serumit ini ” Zein berbicara sendiri mengungkapkan hal yang saat ini dia rasakan.
Dia berjalan memasuki kamar menghampiri Adira tidak peduli lagi. Saat ini dia merasa sangat lelah jika Adira bisa membuatnya tidur nyenyak maka Zein akan membuat gadis itu berbaring di sampingnya.
Dengan sekali hentakan Zein mengangkat tubuh Adira dari sofa menuju ranjang.
Merasakan tubuhnya melayang Adira segera berteriak terkejut.
“ Ada apa Mas?! Lepaskan aku ” suara Adira sedikit meninggi karena dia benar-benar terkejut mendapati tubuhnya ada di dekapan Zein.
“ Tidurlah di ranjang aku takut kau akan jatuh ke lantai jika tidur di sofa ” ucap Zein sebagai alasan.
__ADS_1
“ Maksud Mas apa? Aku sudah lama tidur di sofa dan tidak pernah jatuh ” Adira tak terima dengan alasan Zein yang terasa terlalu dibuat-buat.
Zein membaringkan tubuh Adira di ranjang, tapi dengan sigap Adira bangkit kembali.
“ Kau sudah mulai berani menentangku ” tegas Zein sedikit menggertak.
Wajah jelas menunjukkan ekspresi tidak suka dengan sikap Zein.
“ Bukan begitu Mas..aku baik-baik saja tidur di sofa. Selama ini juga aku tidur di sana ” lirih Adira.
“ Itu sebelum kau sakit, sekarang belum tentu kau tidak bisa jatuh dari sofa yang sempit itu dan mengakibatkan kau terluka ”
Adira makin merasa Zein mengada-ada dari mananya sofa itu disebut sempit sementara sofa itu sudah cukup lebar layaknya kasur.
“ Aku tidak suka mengulangi perkataanku tidurlah di ranjang selagi aku masih bersikap lembut ”
“ Gadis ini keras kepala sekali ”
Zein menarik tubuh Adira ke arahnya dan membuat jarak mereka sekarang sangat dekat.
Mata Adira membulat sempurna menatap Zein dengan tatapan tak percaya pria itu melakukan kesalahan hal seperti itu.
“ Aku menyuruhmu tidur di ranjang agar tidak terjatuh. Kalau kau berada di ujung ranjang maka akan sama saja ” padahal sebenarnya karena Zein ingin Adira berada dekat dengannya sehingga dia bisa menikmati aroma yang menyerbak keluar dari tubuh Adira sepuasnya. Bagi Zein tidak ada orang lain yang memiliki aroma tubuh seperti tubuh Adira yang selalu beraroma manis seperti buah ranum.
“ Mas habis merokok ” ungkap Adira tanpa sadar setelah mencium aroma rokok yang pekat dari napas Zein. Dia pernah dengar dari Nadia kalau Zein hanya akan merokok saat stres tertekan atau ada masalah besar yang mengganggunya.
“ Kau merasa terganggu dengan aromanya ” Zein sedikit menyesal melupakan untuk setidaknya menghilangkan aroma rokok itu. Dia tahu Adira yang masih sangat muda tentu tidak nyaman dengan aroma rokok.
“ Kenapa Mas Zein merokok? ” tanya Adira merasa khawatir jika benar seperti yang dikatakan Nadia maka saat ini Zein pasti sedang dalam masalah.
__ADS_1
Zein mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Adira.
“ Ada saatnya aku sangat ingin merokok walau hanya beberapa batang ” jawab Zein.
“ Ternyata benar Mas Zein merokok sebagai pelarian jika sedang dalam masalah. Rokok memang mengakibatkan candu dan itu tidak baik untuk kesehatan ” , ucap Adira dalam hati karena mengkhawatirkan kondisi Zein dia takut ada masalah yang benar-benar membuat pria itu stres.
“ Aku akan menggosok gigiku sebentar ” Zein dapat membaca raut tidak suka dari wajah Adira.
“ Tidak Mas ” larang Adira. Zein mengurungkan niatnya untuk pergi mendengar gadis itu melarangnya.
“ Untuk kali ini tidak masalah bagiku, tapi bisa Mas berhenti merokok. Aku tidak suka jika Mas merokok ” pinta Adira.
Zein tertegun bingung mengapa gadis itu sampai meminta dia berhenti merokok.
“ Mas bisa menganggap aku ke lewat batas, tapi aku tidak suka Mas merokok itu saja ” Adira berusaha membuat Zein tidak salah paham dengan niatnya.
“ Baiklah aku tidak akan merokok di sekitarmu ” jawab Zein setelah melihat gadis itu sungguh-sungguh dengan permintaannya.
“ Kenapa? Apa Mas Zein memang tidak bisa berhenti? ” Adira tetap tidak puas dengan jawaban Zein, jika hanya disekitar Adira berarti Zein tetap akan merokok dan itu sama saja.
“ Aku tidak bisa menghentikan jika keinginan untuk merokok itu datang. Jadi aku tidak bisa menjanjikan akan sepenuhnya berhenti ” balas Zein.
Adira nampak muram mendengar hal itu.
“ Kenapa tiba-tiba kau mempedulikan hal itu? ” tanya Zein tak dapat mengerti mengapa Adira harus merasa sedih jika dia tidak berhenti merokok.
“ Aku tahu rokok itu bisa mengakibatkan kecanduan dan itu tidak baik untuk kesehatan. Karena itu aku tidak suka Mas terus merokok ” tutur Adira jujur.
Happy Reading😘
__ADS_1