
Adira menatap heran mengapa tiba-tiba gadis itu juga datang ke dapur.
“ Apa Helena memarahi mereka lagi? ”
“ Ya sudah, kamu bisa memotong bawangkan ” Adira menyerahkan mangkok berisi bawang itu pada Nadia.
Nadia segera mengangguk bersemangat. Tapi baru beberapa menit gadis itu memotong bawang itu dia sudah berulang kali mengipasi matanya yang perih.
Dia juga berulang kali mengendus-endus karena hidungnya yang mulai berair.
Adira yang melihat itu merasa lucu dan sedikit kasihan, tapi dia ingin sedikit menjahili Nadia.
“ Berikan padaku ” Aidan meraih pisau itu dari tangan Nadia, karena dia sudah selesai dengan sayuran tadi.
“ Kenapa? Aku bisa kok kak ”
Nadia merenggut cemberut karena Aidan nampak tidak nyakin padanya.
“ Tidak mungkin aku biarkan ingusmu jatuh ke mangkuk ini nanti. Sudahlah biarkan aku yang lanjutkan ”
Nadia akhirnya pasrah saja dan mulai menenangkan diri dengan tetap mengipasi wajahnya. Aidan dengan sangat lihai memotong bawang itu layaknya chef profesional.
“ Ternyata kau pintar masak juga ” puji Adira melihat kemampuan Aidan.
“ Hehehee..aku bulan yang lalu ikut kursus masak ” Aidan sedikit salah tingkah karena di puji seperti itu.
“ Kursus masak? Memangnya sejak kapan kamu tertarik dalam bidang masakan? ” seingat Adira, Aidan dulu tidak pernah suka memasuki dapur.
“ Sebenarnya sejak aku punya niat kuliah keluar negari, nanti di sana kan aku akan hidup sendiri tentu saja harus bisa masak. Tapi gak mungkin juga aku bilang alasan ini pada Nona A bisa-bisa dia marah lagi ” , Aidan memikirkan hal itu sejenak.
“ Ah..aku hanya tiba-tiba berpikir memiliki kemampuan memasak itu penting untuk bertahan hidup ” jawab Aidan dengan alasan yang umum saja.
“ Itu karena Kak Aidan akan kuliah di luar negeri, dia bahkan sudah mendaftar ” tukas Nadia karena dia tahu Aidan berbohong.
“ Nadia..” desis Aidan dia melotot tajam kepada adiknya itu.
“ Huftt...jadi begitu ” lirih Adira.
“ Nadia awas saja nanti ya! Aku akan jitak kepalamu sampai bisa cerdas..gak paham baca situasi ” Aidan hanya bisa merutuk dalam hati.
__ADS_1
Adira melanjutkan kegiatan memasaknya serius, dengan bantuan Aidan dan Nadia makanan itu bisa tersaji dengan cepat di meja makan.
Noah sangat buruk dalam urusan dapur karena itu dia hanya membantu menyiapkan peralatan makan di meja makan.
Sedari tadi Helena tetap mengawasi ke empat anak itu, karena melihat mereka yang berbuat baik emosinya sedikit dia tahan.
Dia jelas masih punya rasa kemanusiaan tidak mungkin membiarkan anak-anak itu pulang dalam keadaan kelaparan, sementara Helena tahu jalur perjalanan dari desa itu tidak mudah di lalui.
Adira akhirnya bisa duduk dengan tenang di meja makan itu, nampaknya suasana sudah lebih damai karena Helena juga tidak protes seperti sebelumnya lagi.
Mereka makan dalam diam sambil sesekali obrolan yang keluar hanya untuk menawarkan makanan kepada yang lain.
~
~
~
Zein mengemudikan mobilnya menembus jalanan dimana sangat sering menjumpai lubang-lubang akibat aspal yang sudah tidak merata.
Dia masih dengan rasa terkejut saat tiba-tiba Adira menelponnya tadi. Seingat Zein waktu Adira masih menjadi istrinya mereka berkomunikasi lewat telpon hanya sebanyak tiga kali, itupun karena waktu itu Zein dalam perjalanan bisnis dan Adira menelpon karena Lily rindu pada Zein.
Lalu tadi tiba-tiba dia menerima panggilan telepon yang dimana matanya saja sampai membulat sempurna membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Adira berbicara singkat dan langsung ke intinya, dia bilang anak-anak datang ke rumahnya dan mau Zein segera datang untuk menjemput anak-anak itu pulang. Karena jika dibiarkan hanya anak-anak yang pulang Adira tidak nyakin perjalanan akan aman.
Itulah sebabnya Zein segera menuju desa tempat tinggal Adira, dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Noah, Aidan dan Nadia bisa pergi ke desa itu.
Akhirnya setelah perjalanan panjang dia tiba di depan rumah Adira, dia hanya bisa menaiki mobil sebatas ini karena untuk halaman rumah Adira tidak bisa di masuki kendaraan seperti mobil.
Dia melangkah pasti menuju pintu dan mengetuk pintu itu.
Adira sedari tadi bahkan saat memasak sudah menantikan kedatangan Zein, dia sudah mempersiapkan dirinya untuk itu. Karena bagaimana pun dia sendiri yang memutuskan untuk menelpon pria itu.
“ Biar aku saja yang buka ” ucapnya cepat bangkit berdiri begitu mendengar suara ketukan pintu.
“ Ya sudah..” Helena bingung mengapa tiba-tiba Adira harus terburu-buru seperti itu hanya untuk membukakan pintu.
Helena menatap Noah, Aidan, dan Nadia secara bergantian. Ketiga orang itu masih duduk tenang menikmati teh sehabis makan tadi, sebenarnya Helena memikirkan saat yang tepat untuk segera menyuruh mereka pergi. Tapi juga bingung karena timingnya tidak tepat.
__ADS_1
Adira menarik napas sejenak lalu membuka pintu itu. Zein langsung bisa melihat sosok Adira yang senantiasa selalu nampak mempesona baginya.
Wanita itu tidak tersenyum atau menunjukkan ekspresi ramah untuk menyambut Zein, tapi hanya ekspresi datar.
“ Mereka ada di dalam, Mas tunggu sebentar aku akan memanggil mereka ke sini ” ucap Adira bahkan tidak menawarkan Zein untuk masuk ke rumah itu, karena nyakin akan rumit kalau sampai Helena juga turun tangan untuk masalah ini.
“ Baiklah ” Zein hanya bisa pasrah dia tahu tidak sedikit pun dia punya hak untuk meminta kebaikan lagi dari Adira. Adira tetap memperlakukan anak-anaknya dengan baik saja sudah kebaikan yang cukup besar bagi Zein.
“ Noah, Aidan..hmm Nadia ikut denganku keluar, Daddy kalian sudah datang ” Adira mengucapkan itu dengan berusaha tetap tenang.
“ Daddy?! ” lonjak Aidan dan Nadia secara bersamaan. Sementara Noah hanya menunjukkan ekspresi terkejut sekilas.
“ Iya ” jawab Adira singkat lalu melanjutkan langkahnya lagi, dan anak-anak itu segera menyusul dia secepat kilat.
“ Akhirnya mereka pergi ” seru Helena tiba-tiba senang.
Noah, Aidan, dan Nadia berdiri di hadapan Zein dengan sedikit menunduk menghindari tatapan langsung Daddy nya.
“ Kalian jelaskan nanti ” ucap Zein kepada anak-anaknya.
“ Adira terima kasih sudah menelpon aku untuk datang menjemput mereka, dan maaf karena mereka merepotkan ”
Adira hanya menganggukkan kepala pelan. Aidan menatap Adira dengan tatapan memelas, seolah bertanya mengapa Adira harus menelpon Daddynya, bisa-bisa mereka kena hukuman nanti. Tapi Adira berusaha mengabaikan tatapan Aidan.
“ Iya iya sebaiknya cepat pergi dari sini, lagian rumah inikan bukan tempat penitipan anak ” sinis Helena tiba-tiba muncul dari belakang Adira.
“ Haduh..mulut pedas gadis ini masih sama saja ” , batin Adira sedikit frustasi karena mulai sudah masalah yang dia hindari.
“ Aku akan pastikan mereka tidak datang dan melakukan hal seperti ini lagi ” Zein menekankan janji itu, sambil menatap Adira.
“ Baiklah hati-hati di perjalanan Mas ” ucap Adira sebagai perpisahan.
Helena menarik tangan Adira agar sahabatnya itu menjauh dari mantan suaminya.
“ Hai Adira ” Derril menyapa dengan riang melewati Zein dan anak-anaknya yang sedang berdiri di depan pintu itu, dengan berani dan santai Derril langsung mendekat ke arah Adira.
“ Kalian kedatangan banyak tamu hari ini? ” tanya Derril sambil mengalihkan pandangan kepada ke empat orang itu.
**Author minta maaf ya teman-teman🙏🏻 Bukannya aku gak mau update setiap hari tiga bab seperti sebelumnya tapi udah dua minggu ini aku tiba-tiba sakit. Bukan tiba-tiba sih, tapi mungkin karena kelelahan di real life juga akhirnya kondisi down, jadi benar-benar sakit sampai gak bisa update.
__ADS_1
Sedih banget apalagi baca komenan teman-teman yang nungguin novel ini up, sekali lagi maaf banget ya teman-teman. Author bakal usahain tetap jaga komitmen dan bertanggung jawab untuk update novel ini seperti sebelumnya 😊
Happy Reading😘**