
Siang hari setelah kejadian itu Helena memanggil Dokter Derril datang ke rumah itu. Sebenarnya Adira juga sedikit terkejut melihat kedatangan dokter Derril karena sebelumnya Helena tidak memberitahu Adira.
“ Apa terjadi sesuatu? Atau apa kamu mulai merasa sakit? ” tanya Derril cekatan berniat memeriksa Adira.
“ Oh..tidak Dok, aku tidak merasakan sakit ”
“ Aku memanggil Dokter supaya dia bisa diperiksa baik itu tekanan darahnya atau apa pun itu, Dok. Tadi malam tubuhnya gemetaran hebat karena ketakutan, aku takut hal itu berakibat buruk untuknya ” Helena menggantikan Adira menjelaskan karena sepertinya Adira tidak berniat mengatakan hal itu pada Dokter Derril.
“ Gemetaran? Mengapa hal itu bisa terjadi? Hal apa yang membuatmu ketakutan? Benar yang dikatakan Helena di kondisimu Sekar tidak baik kamu tertekan. Kemarikan tanganmu permisi sebentar ya ” Derril memasangkan alat pengukur tekanan darah pada Adira, walaupun semua pertanyaan nya tidak mendapat jawaban dari wanita itu.
“ Nampaknya tekanan darahmu menurun bisa jadi juga karena itu tubuhmu gemetaran, apa aku bisa tahu penyebab kamu ketakutan seperti itu? ”
“ Begini Dok-
“ Tidak Dokter, aku hanya tiba-tiba merasa panik tidak menentu saja. Aku tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi ” cepat Adira menyela Helena bicara dan menarik pelan tangan Helena memberi kode agar gadis itu tidak menceritakan yang terjadi.
“ Kadang memang ada peristiwa seperti itu aku sarankan jangan terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal yang bisa mengganggumu fokus saja dan terus berpikir positif bahwa persalinanmu akan berjalan lancar ”
“ Baik Dok, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Saya benar-benar telah merepotkan Dokter ”
“ Tidak perlu merasa sungkan Adira itu sudah tugasku, apalagi ini sudah mendekati hpl mu jadi kapan pun kamu merasa ada yang aneh segera panggil aku ”
*hari perkiraan lahir
Adira menganggukkan kepala pelan.
“ Baiklah aku akan memberikan vitamin untukmu, itu akan sangat membantu memulihkan kondisimu ” Derril mengeluarkan beberapa butir pil lalu memasukkan pil itu ke sebuah botol kecil.
“ Di konsumsi 2 kali sehari ya hanya pagi dan malam saja ”
“ Baik Dok ” jawab Adira sembari menerima obat itu.
“ Kalau begitu kembalilah istirahat aku akan permisi pulang sekarang, kebetulan masih ada beberapa pekerjaan di puskesmas ”
“ Mari saya antar Dok ” ajak Helena.
“ Oh iya Helena apa benar tidak ada yang terjadi pada Adira? ” tanya Derril begitu dia berada di luar pekarangan rumah itu bersama Helena.
“ Tidak ada Dok, seperti yang Adira katakan tadi dia hanya tiba-tiba terkena serangan panik ”
__ADS_1
“ Mungkin ada baiknya aku tidak menceritakan hal ini pada Dokter Derril, memang tidak alasan meragukan dia karena selama ini dia sudah baik sekali. Tapi Adira pasti tidak suka jika sampai tahu aku menceritakan hal itu pada Dokter Derril ”
Derril mengangguk-anggukkan kepalanya, sekilas Helena sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi wajah Derril yang baginya nampak sangat serius. Hingga tanpa sadar Helena tak mengalihkan pandangannya dari Dokter itu.
“ Hem...” Derril terbatuk kecil.
“ Oh..baik terima kasih ya Dokter hati-hati di jalan ” ucap Helena cepat begitu tahu nampaknya Derril menyadari tatapan Helena.
“ Baiklah sampai jumpa ” jawab Derril lalu dia mulai berjalan meninggalkan rumah itu, Helena masih belum masuk namun dia menunggu sampai sosok Derril benar-benar tak terlihat lagu.
“ Mengapa aku merasa aneh sekali melihat reaksi Dokter Derril tadi, itu tidak seperti biasanya. Apa hal itu wajar? ” guman Helena bertanya-tanya.
Lalu Helena memutuskan masuk ke dalam rumah.
“ Harusnya kamu tidak perlu sampai memanggil Dokter Derril ke sini ” protes Adira.
“ Tetap saja lihatlah baru setelah diperiksa kita tahu bahwa kondisi tekanan darahmu menurun. Dengan begitukan kamu bisa diobati ”
“ Entahlah Helen.. rasanya aku tidak ingin keluar dari rumah atau tidak ingin ada orang lain yang datang ke rumah ini. Rasa takut bahwa kemungkinan dia pelakunya memenuhi otakku..”
“ Dira tapi kamu kan tahu betapa baiknya Dokter Derril selama ini, tenang saja aku tidak menceritakan kejadian itu padanya. Tapi kita juga tidak boleh jadi berprasangka burukkan ”
“ Iya baiklah ” jawab Helena tahu betapa sahabatnya itu orang yang tidak enakkan.
~
~
~
Sudah tiga hari berlalu tapi bukannya membaik kondisi tubuh Adira justru malah semakin menurun. Bahkan dua hari sebelumnya dia masih bisa menggerakkan tubuhnya untuk turun dari ranjang, hari ini untuk bangun dari tidurnya saja Adira rasanya tak bertenaga sekujur tubuhnya lemas.
“ Adira kamu baik-baik saja? ” tanya Helena panik melihat Adira yang membuka matanya namun dengan tatapan sayu.
“ He...tolong..a-aku bangun ” suara Adira bahkan hampir tak terdengar, tapi Helena mengerti yang dikatakan Adira.
Helena membantu mendudukkan Adira bersandar pada ranjang. Dia memeriksa suhu tubuh Adira tapi suhu tubuhnya normal.
“ Apa kamu merasa kesakitan? Perutmu terasa sakit? ” Helena takut saat ini Adira sudah mulai kontraksi.
__ADS_1
Adira menggeleng pelan dia tidak merasakan sakit sama sekali bahkan bisa dibilang tubuhnya serasa mati rasa dan tak bertenaga.
“ Aku akan telepon Dokter Derril sekarang juga, tahan sebentar Adira ” Helena kalang kabut setelah menemukan ponselnya secepatnya dia menelpon Dokter itu.
Sangat mengecewakan Helena kembali dengan perasaan sedih ke samping Adira.
“ Ada apa? ” lirih Adira pelan.
“ Bagaimana ini Dira Dokter Derril sekarang sedang pergi ke kota, padahal hanya dia satu-satunya Dokter di desa ini ”
Adira menggelengkan kepalanya pelan berusaha mempertahankan kesadarannya.
“ Helen..a-aku merasa buruk..bayinya..aku tidak merasakan pergerakan bayinya ”
“ Ya Tuhan ” Helena menutup mulutnya dengan kedua tangan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Dia tidak tahu harus berbuat apa jika mereka memutuskan pergi ke rumah sakit yang ada di kota. Mereka masih harus menyewa mobil ke desa sebelah karena keterbatasan transportasi di desa itu.
Adira meraba-raba perutnya dia tahu beberapa hari ini pergerakan janinnya berkurang. Tapi hari ini dia bahkan tak bisa merasakan pergerakan janinnya sama sekali.
Air matanya berjatuhan membasahi wajahnya.
“ Sayang..ini Mama kenapa kamu tidak menunjukkan reaksi sama sekali..”
“ Bergeraklah..tunjukkan pada Mama kamu baik-baik saja..sayang..ah..hiks anakku..bukannya kamu selalu bereksi kalo Mama mengelus perut..sayang..anakku aku mohon ” isak Adira
Helena juga tak bisa menahan air matanya untuk tidak terjatuh saat itu.
“ Tidak..ini semua tidak benar..Mama tahu kamu masih ada di sana..Helen ambilkan ponselku..aku tidak akan membiarkan ini terjadi ”
Dengan terburu-buru Helena langsung memberikan ponsel itu pada Adira.
Jemari Adira menekan cepat layar ponsel itu.
“ Aku mohon...angkat telponnya aku mohon semuanya sangat buruk..keadaanku tidak baik-baik saja sekarang ” pinta Adira menangis sejadi-jadinya berharap panggilan telepon itu segera mendapatkan jawaban.
**Semoga suka ceritanya teman-teman☺
Jangan lupa like, komen, beri hadiah dan vote untuk novel ini agar performanya meningkat. Makasih banyak teman-teman atas dukungannya😁
__ADS_1
Happy Reading 😘**