Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Tuduhan Pembunuhan


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu Adira akhirnya mulai menghabiskan waktu dan tidak hanya berada di kamar Lily.


Dia merasa keadaan tubuhnya sudah kembali normal, dan setelah dia bertemu dengan Zein. Adira nyakin Zein memang tidak mengingat sama sekali kejadian itu.


Saat ini Adira tengah menemani Lily menyelesaikan mengerjakan tugas sekolahnya, dia menuntun Lily agar tidak terjadi kesalahan untuk tugasnya.


“ Nyonya!! Nyonya! ” seorang pelayan berlari dengan panik ke arah mereka tiba-tiba.


“ Ada apa? Kenapa berteriak-teriak seperti itu? ” ungkap Adira yang juga merasa terkejut.


“ Ma-maaf Nyonya tapi diluar ada polisi! Mereka berkata mencari Nyonya!! ” pelayan itu terlihat sangat panik.


“ Baiklah aku akan temui mereka ” balas Adira kemudian beranjak dari sana.


“ Maaf Pak sebelumnya ini ada masalah apa? ” tanya Adira kepada dua orang polisi yang memang mendatangi rumah itu.


“ Kami datang ke sini atas perintah penangkapan Saudari Adira Brown ” polisi itu menunjukkan sebuah surat dan bergerak ingin menahan tangan Adira.


Dengan cepat Adira menjauh dari polisi itu.


“ Jaga sopan santun Anda Pak, saya juga memiliki hak untuk melihat sebentar surat penangkapan itu. Jika memang aku harus di tahan maka yang berhak menggiring saya adalah polisi wanita ” tukas Adira tegas. Kedua polisi itu kemudian mundur, lalu menyerahkan surat penangkapan itu pada Adira.


“ Tuduhan pembunuhan?! ” kaget Adira membaca surat penangkapan itu.


“ Anda bisa memberikan pembelaan dan berhak di dampingi pengacara saat interogasi nanti ” ucap polisi itu, setelah dia memanggil rekan polisi wanitanya.


Polisi wanita itu menggiring tangan Adira dan berniat untuk memborgol tangan Adira.


“ Tidak perlu aku akan ikut dengan tenang ke kantor polisi, Anda tidak perlu memborgol saya karena itu akan membuat saya layaknya penjahat ” tolak Adira.


“ Mama! Jangan bawa Mama! ” Lily berlari mengejar Adira begitu melihat Adira akan dibawa oleh polisi-polisi itu.


“ Lily tunggu di sini sebentar ya, Mama ada urusan dengan bapak dan ibu polisi ini. Nanti Mama kembali secepatnya ” Adira menenangkan Lily dan memberikan perintah kepada pelayan untuk membawa Lily masuk ke rumah.


“ Mama! Lily mau ikut Mama! ” teriak Lily berontak sambil menangis.


Adira masuk ke mobil polisi itu dengan dua polisi wanita di samping kiri dan kanannya.


“ Bisakah kita segera pergi dari sini ” ucap Adira takut jika semakin lama mereka pergi maka Lily akan tetap berlari mengejar mereka.

__ADS_1


Setibanya di kantor polisi Adira segera di bawa ke ruangan untuk di tanyai identitasnya.


Dia terkejut ketika tiba di ruangan itu dan polisi itu memberitahu siapa yang melaporkan Adira kepada kepolisian.


Adira menatap nanar ke arah Nadia yang duduk di sana sebagai pelapor. Jika di tanya apakah Adira terkejut, tentu saja tapi lebih dari pada rasa terkejut. Hatinya lebih sakit saat mendengar jawaban nyakin Nadia ketika ditanyai polisi apakah dia tetap nyakin untuk melaporkan Adira.


Dan Nadia menjawab dengan pasti bahwa dia nyakin.


Beberapa hari tidak bertemu dengan Nadia karena gadis itu pergi ke rumah neneknya, Adira merasakan tatapan kebencian yang semakin besar dari gadis itu.


Sesaat setelah polisi selesai menanyai mereka bergantian, penyelidikan identitas dan kebenaran laporan itu selesai.


Seorang wanita paruh baya masuk dan mendampingi Nadia. Sekali lihat pun Adira mengenali wanita itu adalah wanita yang dia temui di acara bisnis dan saat itu Zein memberitahu dia adalah ibu mertuanya.


Dan sudah pasti dia adalah nenek dari anak-anak nya Zein.


“ Harusnya Nyonya jangan mengorbankan anak ini, dia bahkan belum lulus sekolah memiliki catatan pernah melaporkan seseorang dengan tuduhan pembunuhan bukanlah hal baik apalagi jika nantinya tuduhan itu palsu ” Adira berucap tenang karena dia nyakin wanita paruh baya itulah yang telah mendorong Nadia melakukan hal itu, Adira bisa merasakan kebencian yang besar dari wanita yang bahkan tidak dia ketahui namanya itu saat mereka pertama bertemu.


“ Aku akan mengurus cucuku, dari pada itu urus saja dirimu karena sebentar lagi kau akan menghabiskan waktumu di penjara ” tukas Glory dengan kasar.


“ Hati-hati di perjalanan pulang Nadia ” Adira kemudian pergi bersama para polisi yang meminta dia untuk ikut ke ruang interogasi.


Adira duduk di kursi yang hanya ada satu di ruangan tertutup itu. Sebuah meja yang memberi dia jarak dengan seorang detektif yang di tugaskan untuk menanyainya.


“ Nona Adira saya harap kerja samanya, saya akan menanyakan beberapa pertanyaan pada Anda ” ungkap detektif itu.


Adira hanya diam tak menjawab ucapan itu.


“ Sejak kapan Anda mengenal Tuan Zein Brown, yang saat ini adalah suami Anda? ” tanya detektif itu serius.


“ Posisiku di sini masih menjadi saksi, aku punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan Anda. Dan saya akan memilih untuk tetap diam ” ucap Adira tenang dia mengetahui dengan jelas prosedur dari sebuah kasus hukuman. Saat ini surat penangkapan itu sudah dibatalkan menjadi surat perintah pemanggilan saksi. Sebagai seorang saksi dan bukan tersangka Adira punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan detektif itu.


“ Aku tidak menyangka wanita muda seperti Anda ternyata mengerti hukum dengan sangat baik ” ungkap detektif itu melihat jawaban dan reaksi tenang Adira.


“ Saya tidak tahu harus berterima kasih atau tidak atas pujian itu ” Adira membalas ucapan detektif itu sekenanya, karena andai saja dia memilih menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan di ajukan maka bisa saja dia malah terjebak pada pertanyaan yang memang sengaja dibuat untuk menyudutkan dia.


~


~

__ADS_1


~


“ Dimana istriku?! ” teriak Zein marah begitu dia tiba di kantor polisi itu.


“ Maaf Pak saya harap tetap mengikuti prosedur, ini kantor polisi bukan tempat Anda bisa berteriak sesukanya ” tegur seorang polisi kepada Zein.


Mengepal tangannya kuat, Zein memberitahu kepada polisi itu siapa dirinya dan mengapa dia datang kemari.


“ Saat ini Nyonya Brown sedang di interogasi sebagai saksi, selama 24 jam ke depan dia tidak di izinkan untuk pergi atau bertemu dengan orang lain sampai proses interogasi selasai ” jelas polisi itu.


Zein tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa menunggu sampai saat Adira akan keluar dari tempat itu.


Karena Adira memilih untuk diam detektif itu meninggalkan dia sendiri di sana. Sampai akhirnya dia di izinkan untuk keluar.


“ Saudari Adira Brown untuk saat ini Anda di izinkan untuk pulang. Ketika kasus ini diselidiki dan kami membutuhkan kehadiran Anda mohon kerja samanya kembali ” ucap polisi yang membebaskan Adira.


Adira berjalan keluar dengan tenang dari tempat itu.


“ Adira! ” panggil Zein cepat begitu melihat gadis itu.


“ Kau baik-baik saja? ” Zein meraih tangan Adira, dengan cepat Adira menepis tangan Zein.


“ Tidak saat ini aku sangat hancur tidak sedikit pun aku merasa baik-baik saja ” balas Adira dingin.


“ Aku tidak tahu mengapa Nadia melakukan hal ini, tapi aku bisa pastikan laporan itu akan segera di cabut ”


Adira memandang sekilas ke arah pria itu.


“ Apa aku masih kembali ke rumah itu? ” tanya Adira intens.


“ Maksudmu menanyakan itu apa? ” Zein tak mengerti mengapa Adira bisa berkata seperti itu.


“ Orang yang di benci sebagai pembunuh ibu mereka apa masih layak untuk menginjakkan kaki di rumah itu ” ungkap Adira sebagaimana saat perasaannya yang merasakan sakit dan kekosongan yang besar.


**Semoga suka dengan episode ini, jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya 😄


Kalau ada unek-unek yang mau dikeluarkan silakan ya akan author tampung semua kekesalan teman-teman 😅


Happy Reading😘**

__ADS_1


__ADS_2