
Pagi itu Adira sudah bangun sedari subuh karena terbangun begitu bayinya menangis. Menyusui sebentar sampai bayinya tertidur kembali Adira memutuskan untuk segera mandi.
Aroma sabun dan sampo yang baru saja dia gunakan masih tercium kuat di seluruh kamar itu.
Tok tok tok tok
Adira bangkit berdiri dari kursi riasnya menuju pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu itu.
“ Selamat pagi ” sapa Nadia tersenyum cerah dengan wajah yang masih nampak membengkak khas bangun tidur. Sekali lihat saja langsung tahu bahwa Nadia baru bangun tidur dan langsung datang ke kamar Adira.
“ Pagi ini sudah hampir setengah tujuh kamu belum bergegas ke sekolah ” ujar Adira karena dia paham betul rutinitas pagi yang biasanya dilakukan Nadia, Aidan, dan Lily sebagai anak yang masih sekolah.
“ Mulai hari ini kan kami sudah libur ujian akhir sudah selesai tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja ”
“ Ohhh ” Adira membulatkan mulutnya.
“ Aku boleh masuk ya..aku mau melihat adik bayinya ”
“ Boleh masuk saja cuma dia masih tidur ” Adira menyingkir dan membiarkan Nadia masuk.
Nadia berjalan cepat menuju box bayi dia asik memandangi bayi itu sambil sesekali tersenyum gemas. Dia menyentuh pipi bayi itu dengan ujung jari telunjuknya lembut agar tidak membangunkannya.
“ Imutnya...ah gemas sekali aku mau gigit pipinya ”
Adira hanya tertawa kecil mendengar itu.
“ Dira ” panggil Zein begitu dia membuka pintu.
Adira menoleh ke arahnya sambil menatap dengan sedikit terkejut karena kedatangan pria itu yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“ Nadia juga ada di sini ya ” ucap Zein begitu menyadari kehadiran Nadia yang sedang berdiri di samping box bayi.
“ Iya Daddy aku ingin bermain dengan adik bayinya sebentar, aku sudah izin kok dari Nona A tadi ” Nadia menatap sungguh-sungguh meyakinkan Zein dia tidak berbohong.
“ Benar Mas tadi Nadia sudah minta izin, oh hmm..itu ada apa tadi Mas nampak terburu-buru ”
“ Dokter akan datang pagi ini untuk memeriksa kondisi luka operasimu dan juga pemeriksaan untuk bayinya. Mungkin dia akan datang sekitar jam 9 tapi sepertinya aku tidak bisa menemanimu di sini karena di perusahaan ada rapat eksekutif ”
“ Tidak masalah Mas, aku bisa sendiri itukan hanya pemeriksaan. Mas tidak usah khawatir seperti itu ”
“ Tetap saja aku kurang tenang apa sebaiknya aku suruh Noah saja yang menghandel rapat itu ”
Adira menggeleng kuat.
__ADS_1
“ Jangan Mas kasihan Noah, setiap hari dia sudah sangat sibuk. Sampai harus pulang larut malam mana boleh membiarkan dia sendiri mengerjakan semuanya. Pokoknya sekarang Mas bersiap dan segera pergi ke kantor ”
Adira mendorong pelan tubuh Zein memaksa pria itu untuk keluar dari kamarnya.
“ Benar kamu bisa sendiri? ” Zein masih tidak yakin.
“ Iya Mas jadi tenang saja ya ”
“ Daddy tenang saja aku akan menemani Nona A, aku sudah libur jadi aku bisa menemaninya ” seru Nadia.
“ Baiklah Daddy titip Adira dan adik bayi, pastikan menjaga mereka ”
“ Perintah diterima siap dilaksanakan Daddy ” Nadia menghormat meniru layaknya seorang pasukan.
Akhirnya Zein pasrah dan keluar dari kamar itu.
“ Sampai jumpa nanti ya jika rapatnya selesai aku akan langsung pulang ”
“ Iya Mas ” jawab Adira pasti, lalu menutup pintu kamarnya karena bisa saja Zein malah berubah pikiran.
“ Nad, aku lihat Lily sebentar ya kamu bisa tetap di sini menjaga bayinya kan. Takutnya saat aku pergi dia malah terbangun ”
“ Oke aku akan menjaga di sini ”
Adira membuka pelan pintu kamar Lily ingin memastikan apakah gadis kecil itu sudah bangun atau belum. Ternyata Lily memang belum bangun.
Adira duduk di tepi ranjang Lily mengusap rambut Lily lembut untuk membangunnya.
“ Euhmm...” lenguh Lily pelan tapi belum membuka matanya.
“ Lily ayo bangun Nak kamu kan harus sekolah ”
Adira mentoel-toel pipi Lily gemas. Lily malah bermanja layaknya seorang anak kucing yang imut. Dia memeluk pinggang Adira dan menelusupkan wajahnya ke arah Adira.
“ Eh..apa ini kamu masih belum mau bangun ”
Lily menggelengkan kepalanya.
“ Tapi nanti Lily terlambat sekolah bagaimana? Bu guru bisa marah loh sama Lily nanti ”
Lily segera mengangkat kepalanya menatap Adira dengan sungguh-sungguh. Adira mengangguk kepala meyakinkan kembali kepada Lily untuk dia segera bangun.
“ Mama bantu Lily bersiap mau ke sekolah ya ” pinta Lily sambil memasang wajah imutnya.
__ADS_1
Bagaimana Adira bisa menolak saat gadis kecil itu sangat pandai melihat kelemahan Adira terhadap keimutannya. Lily memanfaatkan itu dengan sangat benar.
“ Iya Mama bantu tapi kalau adik bayi kita menangis tidak apa-apa ya Mama pergi sebentar melihat adik bayi nanti Mama minta pelayan yang bantu Lily, bagaimana? ”
“ Sepakat ” sorak Lily antusias lalu dia segera bangun. Setelah memandikan Lily Adira membantu Lily memakai seragamnya juga menyiapkan buku yang akan Lily bawa ke sekolah hari ini, lalu beberapa barang lainnya yang di perlukan.
Setelah mengepang rambut akhirnya Lily sudah siap untuk berangkat sekolah.
“ Sebelum berangkat mau menyapa adik bayi sebentar? ” tanya Adira yang dibalas anggukan bersemangat dari Lily.
Adira keluar bersama Lily dari kamar itu, dia membawa tas sekolah Lily di tangannya.
“ Masukkan bekal makan siang Lily ke tasnya ya, setelah itu datang saja ke kamarku ya. Baru antarkan Lily ke sekolah ” ucap Adira kepada pelayan yang memang bertugas mengurus semua keperluan Lily juga bertugas mengantar dan menjemput Lily ke sekolah.
“ Baik Nyonya ” jawab pelayan itu cepat
Kemudian Adira melanjutkan langkah mereka menuju kamarnya. Lily sangat antusias dia berlari kecil menghampiri box bayi itu.
“ Selamat pagi Lily ” sapa Nadia sambil mengecup pelan pipi Lily.
“ Pagi Kak Nadia, bagaimana Lily cantikkan hari ini ” Lily memutar tubuhnya sedikit pamer kepada Nadia.
“ Tentu saja Lily selalu cantik tapi hari ini Lily memang sangat cantik ” puji Nadia.
Membuat senyum Lily memancar sempurna.
“ Tadi Mama yang membantu Lily berkemas, lihat kak kepang rambut Lily Mama juga yang buat ”
“ Wahh pantas saja sangat cantik ”
“ Mama adik bayi masih tidur ya. Setiap Lily datang adik bayi selalu saja masih tidur ” keluh Lily dengan mengerucutkan bibirnya.
“ Hahahaha itu karena adiknya masih bayi jadi harus banyak tidur biar cepat besar. Nanti setelah adik sedikit lebih besar Lily bisa bermain bersama ” tawa Adira mendengar celotehan polos Lily.
“ Oh iya ya..soalnya Daddy juga bilang adik bayi baru keluar dari perut Mama. Jadi dia masih kecil makanya suka tidur ”
“ Iya Lily pintar sekali ”
Tapi baru saja mereka membicarakan hal itu, bayinya langsung terbangun lalu menangis.
“ Mama adik bayi menangis cepat Ma, sepertinya ada semut menggigitnya karena itu dia langsung menangis ”
Happy Reading😘
__ADS_1