Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Ada Yang Ingin Membunuh Bayiku


__ADS_3

Jemari Adira menekan cepat layar ponsel itu.


“ Aku mohon...angkat telponnya aku mohon semuanya sangat buruk..keadaanku tidak baik-baik saja sekarang ” pinta Adira menangis sejadi-jadinya berharap panggilan telepon itu segera mendapatkan jawaban.


Setelah beberapa kali telepon itu tidak kunjung dijawab.


“ Ahh...hiks..aku mohon angkat telponnya...aku mohon ” tak menyerah Adira kembali menelepon


“ Halo Adira ada apa? ” jawab suara baritton yang khas itu seketika membuat mata Adira membulat dengan binar penuh harap disana begitu dia mendengar suara itu.


“ Hiks..hiks..a-aku..” seakan tidak sanggup ingin berbicara lebih banyak lagi tangis Adira malah pecah.


“ Adira! Ada apa? Apa yang terjadi? ”


“ Tolong aku...cepatlah kemari a-aku minta tolong hiks...Mas..”


Tidak merasa sanggup lagi hanya mendengarkan isak tangis Adira yang hanya dia dengar dari ponsel itu, Zein segera memutar laju mobilnya bergerak cepat menuju rumah Adira. Sebelumnya dia berniat pergi ke kota X untuk mengunjungi Aidan dan Nadia yang dia tinggalkan bersekolah di sana setelah pindah ke desa ini.


Seperti memiliki kekuatan super secepat kilat Zein tiba di rumah Adira, mengetuk pintu itu. Begitu pintu terbuka tanpa mempedulikan keberadaan Helena di sana dia langsung masuk yang ada dikepalanya sekarang hanya Adira dan Adira.


“ Adira ” panggilnya cepat menghampiri Adira yang terduduk lemah di ranjang itu.


“ Mas..a-anakku tidak bergerak..hikss..bagaimana ini aku tidak merasakannya..hikss Mas..” isak Adira tersedu-sedu.


Bukan tanpa persiapan sebelumnya Zein sudah menelpon semua dokter pribadi keluarga Brown untuk datang ke desa itu. Karena akan lebih cepat jika dokter-dokter itu yang di datangkan ke sana, daripada harus membawa Adira ke kota dengan kondisi seperti ini.


“ Kalian harus tiba secepatnya disini atau aku akan menghabisi kalian semua jika terjadi sesuatu pada istriku!! ” bentak Zein kuat di ponsel itu.


Zein melakukan beberapa hal pertolongan pertama yang dapat dilakukan setelah dikirimkan oleh dokter-dokter pribadinya. Dengan cepat Zein mengambil air hangat mengompres kedua kaki Adira.


Sementara Adira masih terus menangis, berulang kali Zein menenangkan dia.


“ Aku..tidak mau kehilangan anakku Mas..bayiku selamatkan bayiku..hiks..aku tidak peduli apapun yang penting bayiku selamat..Mas ”


“ Adira semua akan baik-baik saja, kalian berdua pasti baik-baik saja. Aku akan lakukan cara apapun kamu harus percaya padaku..aku tidak akan membiarkan kamu dan anak kita dalam bahaya..”

__ADS_1


Adira bahkan tak mengeluarkan kata bantahan lagi mendengar ucapan Zein, dia hanya menganggukkan kepala mencoba benar-benar percaya pada perkataan pria itu.


“ Nak..kamu harus kuat, kamu tahu Mama dan Daddy selalu menantikan kehadiranmu kan ” Zein membelai perut Adira lembut tidak peduli jika nantinya Adira akan marah karena tindakannya. Namun hatinya juga sangat sedih begitu mendengar Adira yang mengatakan anak mereka tidak menunjukkan pergerakan sama sekali.


“ Mas...” seru Adira seakan mendapatkan semangat hidupnya kembali.


“ Dia bergerak..aku merasakan bayinya bergerak tadi..hikss..sayangku..bayiku bergerak Mas..”


“ Aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana ya Tuhan..tolong lindungi Adira dan bayinya ” Helena tak kalah bersyukur dan segera menghampiri Adira, menerima kain kompresan itu dari Zein dan mengompres kaki Adira sambil menangis haru.


“ Mas berikan tanganmu..” pinta Adira, Zein mendekatkan tangannya dan Adira segera meletakkan tangan Zein diatas perutnya.


“ Bicara lagi Mas, bayinya bergerak ketika Mas bicara tadi ”


Menyakinkan diri sendiri bahwa itu benar Zein kembali memberanikan diri untuk berbicara lagi pada janin itu.


“ Sayang ini Daddy maaf karena setelah sekian lama Daddy baru datang ” ucap Zein lembut.


Dan benar saja dia merasakan lonjakan seperti sebuah tendangan kecil dari perut Adira.


Adira mengangguk-anggukkan kepala membenarkan kepada Zein bahwa itu benar-benar pergerakan bayinya. Zein tak sanggup berkata-kata lagi merasakan keajaiban yang begitu besar dia hanya terus mengelus-elus perut Adira lembut.


Tangisan Adira masih ada tapi dia menangis dengan perasaan haru bercampur sedih yang tak dapat ia gambarkan.


Ponsel Zein berdering dan untungnya itu dari para dokter yang mengatakan telah tiba di depan rumah Adira. Jangan bingung mengapa para dokter itu bisa tiba secepat itu, karena mereka semua di berangkatkan dengan beberapa helikopter pribadi milik Zein.


Dokter-dokter itu masuk dengan membawa berbagai peralatan medis yang telah disiapkan. Tidak perlu diragukan semua dokter pribadi keluarga Brown adalah para ahli.


Dengan pergerakan cepat mereka sudah mulai memeriksa Adira, dengan semua perlengkapan mereka tes darah, pemasangan oksigen, bahkan usg janin dapat dilakukan di kamar itu.


Adira menutup matanya tak percaya dia masih bisa mendengarkan suara detak jantung janinnya.


“ Baik Tuan untuk sekarang tidak perlu yang harus ditakutkan, kami juga sudah memberikan penanganan yang tepat ” jelas seorang dokter itu pada Zein.


“ Bagaimana bisa kondisinya menurun drastis seperti ini? Beberapa hari sebelumnya dia baik-baik saja ”

__ADS_1


“ Kalau untuk pemeriksaan fisik kami tidak melihat ada kelainan pada Ibu maupun janinnya Tuan, hasil pasti penyebab kondisi Nyonya akan diketahui dari hasil tes darah ”


“ Segera laporkan hasil pemeriksaannya padaku dan jangan sampai ada pemeriksaan yang terlewat. Kalian harus memastikan kondisinya baik-baik saja ” tegas Zein.


“ Baik Tuan kami akan pastikan hal itu ”


Zein tahu dia tidak perlu meragukan kinerja dokter-dokter pribadi yang sudah dia lihat pekerjaannya selama bertahun-tahun.


“ Tuan, apa kami boleh tahu daftar obat dan makanan yang akhir-akhir ini di konsumsi oleh Nyonya ”


Zein melirik ke arah Helena karena pasti yang tahu baik hal itu adalah gadis itu, dia yang tinggal serumah dan merawat Adira selama ini.


“ Tentu bisa Dok, saya akan menuliskan apa saja daftar obat dan makanan yang di konsumsi Adira ” jawab Helena cepat, setelah nyakin tidak ada daftar obat atau makanan yang tertinggal Helena memberikan list itu pada dokter.


“ Nona bisa kami melihat obat dan vitamin yang Nona tuliskan di sini ”


“ Tunggu sebentar Dok, saya tidak nyakin apa semua obat itu masih ada yang tersisa tapi mungkin aku masih menyimpan kemasannya. Juga kalau vitamin sepertinya masih ada pil yang tersisa ”


Helena segera memberikan semuanya kepada dokter itu.


“ Kalau boleh tahu dari mana semua obat ini berasal? ” tanya dokter itu lagi serius pada Helena.


“ Itu semua obat yang diresepkan dokter yang bekerja di puskesmas desa ini. Untuk obat sendiri Adira tidak pernah mengkonsumsi obat tanpa periksa kepada dokter terlebih dahulu ” ungkap Helena sejujurnya.


“ Baik, terima kasih Nona. Tuan kami akan memeriksa semua obat-obatan dan juga jenis makanan yang di konsumsi Nyonya. Bisa jadi itu ada penyebab kondisinya seperti ini, terutama kondisi janin yang tiba-tiba melemah ”


Zein menganggukkan kepala membalas ucapan dokter itu, kemudian para dokter itu mulai dialihkan Helena ke ruang tamu. Setidaknya untuk lebih memberi ruang bagi Adira karena tidak bisa di pungkiri kamar yang ditempati Adira tidak cukup luas. Apalagi setelah beberapa alat medis yang sudah berada di kamar itu semakin menambah sempit.


“ Mas..” panggil Adira lirih.


“ Iya ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu ” jawab Zein cepat menghampiri Adira, dia bisa melihat mata Adira yang masih membengkak karena banyak menangis tadi.


“ Ada yang ingin membunuh bayiku..”


**Jangan lupa berikan like, komen, beri hadiah dan vote juga untuk meningkatkan performa novel ini😁

__ADS_1


Happy Reading😘**


__ADS_2