Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Orang Asing Yang Baru Saling Kenal


__ADS_3

Pagi hari Adira berjalan sedikit cepat untuk membukakan pintu, karena sejak tadi ada yang mengetuk pintu rumah itu.


“ Siapa ya? Ini masih jam delapan pagi masa sudah ada tamu ” , batin Adira sembari dia membuka pintu itu.


“ Maaf ada apa-


Seketika Adira tidak dapat melanjutkan perkataannya setelah melihat orang yang berdiri di depannya.


“ Aku berada di alamat yang tepatkan ”


Adira semakin tak menyangka hal itu yang akan dia dengar.


“ Bukannya aku sudah menegaskan jangan pernah datang ke rumah ini lagi Mas! Untuk apa Mas Zein di sini? ” Adira mengeram kesal.


“ Benar, tapi aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja saat aku bertanya kepada orang-orang siapa yang bertanggung jawab untuk pengantaran susu. Mereka bilang aku harus datang ke rumah ini ”


“ Pengantaran susu? Apa sih maksud Mas aku sama sekali gak mengerti ”


Ini jauh sekali dari bayangan Adira bagaimana bisa pria itu datang lagi ke desa itu, padahal sebelumnya Zein jelas menyetujui tidak akan menganggu Adira lagi.


“ Iya seharusnya susu pesanan untuk ke mansion tua sudah diantar, tapi ini sudah lewat dari waktu yang di janjikan ” ujar Zein masih dengan ekspresi tenang seolah dia benar-benar datang ke rumah itu hanya untuk mengurus pengantaran susu.


“ Mansion tua...” Adira berbicara pada dirinya sendiri, mengingat lagi cerita Helena mengenai penghuni baru mansion itu.


“ Jangan bilang penghuni baru mansion tua itu Mas?! ” pekik Adira berharap dugaannya salah.


“ Iya aku pindah ke sana beberapa hari yang lalu ”

__ADS_1


“ Apa?! ” bahkan melihat Zein yang menjawab setenang itu pun mampu membuat Adira ingin meledak rasanya.


“ Mas pikir semua ini lelucon?! Seegois itu Mas sampai bahkan tidak mengizinkan aku melanjutkan hidupku dengan tenang?! ”


Rahang Adira menegang keras sembari wajahnya yang memerah menahan amarah.


“ Aku ingin kamu bahagia, tapi bukan berarti dalam kebahagianmu itu tidak ada aku ” Zein menatap Adira sungguh-sungguh, sementara wanita itu langsung berdecik remeh mendengar perkataan itu.


“ Hubungan kita sudah lama berakhir Mas, bahkan dari dulu juga tidak pernah ada karena kita masing-masing sudah berjanji akan berpisah. Mas ingat kan kesepakatan itu? Aku sudah memenuhi kesepakatannya karena itu aku tidak punya hutang lagi. Tapi kenapa Mas masih mengangguku? ”


“ Apa benar semuanya sudah berakhir? ” tanya Zein intens.


“ Iya ” jawab Adira pasti.


“ Baiklah karena semua sudah berakhir, mengapa kamu harus sepanik ini hanya karena aku pindah ke desa ini? ”


“ Mas pikir apa tanggapan orang-orang kalau tahu Mas mantan suamiku? Kehidupan di sini beda Mas dengan di kota. Aku sudah berusaha keras bertahan dari gunjingan orang-orang selama ini tentangku, apa itu masih belum cukup? ”


“ Karena itu aku waktu itu memintamu untuk berhenti menahan semuanya, kita bisa memulai semuanya dari awal. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun berbicara buruk tentangmu. Tapi kamu menolakku ”


“ Mas menyalahkan aku tentang itu, Mas gak sadar kalau semua yang Mas bilang itu cuma omong kosong semata bagiku. Anak ini anakku dengan pria lain dan bukan dengan Mas, jadi jangan menciptakan skenario seperti itu. Kapan kita pernah tidur bersama? ” tanya Adira penuh penekanan, karena dia sangat nyakin Zein tidak mengingat kejadian malam itu. Tidak tahu dari mana pria itu bisa tahu bayi yang di kandung Adira anaknya. Tapi melihat Zein yang sama sekali tak pernah membahas kejadian itu berarti benar dia tidak mengingat malam itu.


Zein terdiam ingin memberanikan diri mengatakan fakta bahwa anak itu adalah anaknya, tapi dia memang tidak tahu kapan tepatnya dia dan Adira menghabiskan malam bersama.


“ Lucu sekali kan...aku jadi sedikit risih Mas menganggap janin yang aku kandung milikmu, padahal beberapa kali aku katakan sudah menikah kembali begitu bercerai dari Mas. Jadi tolong terima fakta anak ini bukan anakmu ” tegas Adira.


“ Lalu bagaimana kamu menjelaskan usia kandunganmu? Jika di hitung kamu bahkan sudah hamil sebulan sebelum kita bercerai, apa aku salah? Kalau pun kamu langsung menikah setelah bercerai tapi janin yang kamu kandung sekarang tetaplah anakku ” Zein membalas perkataan Adira tanpa goyah sama sekali berapa kali pun Adira menyangkal kebenaran itu.

__ADS_1


“ Mas pasti menganggap aku baik dan poloskan, tapi maaf Mas dugaan itu salah besar. Aku sudah berhubungan dengan suami kedua ku bahkan saat kita belum bercerai ” Adira bisa melihat perubahan ekspresi Zein setelah mendengar ucapan itu, tapi dia hanya bisa menahan diri mengucapkan semua kebohongan yang juga merusak harga dirinya. Karena pasti Zein akan menganggapnya sebagai wanita murahan. Namun Adira memilih itu sebagai pilihan terbaik dari pada dia harus kembali berada dalam posisi sulit terombang-ambing hubungan antara Adira dan anak-anak Zein.


“ Aku tahu itu semua hanya kebohongan ” sangkal Zein setelah dia mampu menyakinkan diri bahwa hal itu pasti kebohongan.


“ Aku tidak peduli Mas mau menganggap itu kebohongan sekali pun, lalu jika Mas pikir dengan tinggal di desa ini akan membuat perubahan. Maka Mas harus kecewa karena itu tidak akan mengubah apa pun. Terserah Mas mau tinggal di desa ini atau tidak aku tak peduli, satu hal yang aku tegaskan jangan pernah mengatakan pada siapapun Mas mantan suamiku. Karena hidupku sudah sulit kalau ada drama baru lagi aku tidak akan tahan ” Adira melontarkan setiap kata itu cepat dan penuh penekanan.


“ Baiklah, mari kita lakukan seperti kita adalah orang asing yang baru saling kenal. Karena sekarang aku tinggal di desa ini kita tidak bisa menghindari kemungkinan untuk bertemu. Seperti sekarang aku ingin susu pesananku segera di antar. Putri bungsuku terbiasa minum susu untuk sarapan ” kata-kata terakhirnya sengaja di ucapkan Zein untuk melihat reaksi Adira jika mendengar tentang Lily.


Adira mengepal tangannya kuat kepalanya sedikit menunduk menyembunyikan ekspresi wajahnya saat ini, tidak ingin Zein melihat keraguan dalam dirinya jika menyangkut Lily.


“ Semoga Mas mengingat ucapan Mas tadi, tunggu sebentar..” Adira menutup pintu, dengan sikap dingin dia berniat memberikan susu yang sesuai di pesan Zein. Sebenarnya Adira sempat melihat list pesanan susu yang di suruh Helena untuk dia periksa. Jadi dia tahu berapa botol susu yang di pesan dengan alamat mansion tua. Tapi siapa sangka ternyata orang dibalik pesanan itu adalah Zein.


Alasan mengapa pengantaran susu itu terlambat bisa saja karena pekerja yang bertugas mengantar melewatkan mansion tua, karena tidak terpikir ada pesanan dari bangunan yang sudah lama tak di huni itu.


“ Ini Mas sesuai dengan jumlah pesanan ” Adira langsung menyerahkan paper bag yang berisi botol-botol susu itu pada Zein.


“ Aku harap lain kali pengantarannya tidak salah lagi ”


Adira tersenyum miring mendengar sindiran Zein.


“ Aku juga berharap Mas tidak mengikuti aku diam-diam seperti waktu itu. Karena hanya orang yang berniat jahat yang menguntit wanita hamil di pagi hari ” balas Adira sinis karena nyakin orang yang mengikutinya sampai membuat dia ketakutan waktu itu adalah Zein, setelah mengetahui pria itu pindah ke desa. Setelah mengucapkan hal itu Adira segera menutup pintu tanpa berniat mengucapkan selamat tinggal pada Zein.


“ Menguntit? Sebenarnya apa maksudnya? ” Zein mengedikkan bahu tak mengerti maksud tuduhan tiba-tiba Adira.


Mohon bantuannya untuk like, komen, dan berikan hadiah untuk novel ini. Terima kasih banyak teman-teman😊


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2