Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Tidak


__ADS_3

Jantung Adira berdetak tak menentu mendengar ucapan Zein tapi dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


“ Aku baru sadar setelah kamu pergi bahwa aku sangat mencintaimu bahkan terlampau besar sampai aku tidak tahu harus bagaimana lagi merindukanmu..”


” Apa aku juga masih mencintai pria ini? Atau hanya bingung sesaat karena semuanya yang terjadi terlalu tiba-tiba...apakah perasaan tidak nyaman saat melihat dia bersedih adalah cinta? Aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaanku ”


“ Mas...a-aku ingin istirahat..” lirih Adira pelan.


Dengan perasaan tidak rela Zein melepaskan pelukannya dari Adira. Dia juga paham tidak mungkin Adira bisa membalas pengakuan cintanya secepat itu sementara setelah semua yang terjadi di hubungan mereka.


“ Berbaringlah perlahan ” Zein membantu Adira membaringkan tubuhnya dalam posisi menyamping.


Setelahnya dia menarik selimut di atas tubuh Adira sampai menutupi pinggang Adira.


“ Terasa nyaman? ”


Mendengar Zein yang memastikan kenyamanannya Adira hanya menganggukkan kepala pelan dan segera memejamkan matanya, berusaha mengabaikan keberadaan Zein yang saat itu duduk di depannya dengan jarak yang cukup dekat.


Semakin berusaha untuk tidur justru Adira rasanya sama sekali tak bisa terlelap, bahkan setelah hampir setengah jam berlalu.


“ Masih tidak bisa tidur? ” walaupun Adira terus memejamkan matanya tapi dia tahu Adira belum tertidur.


“ Hmm ” balas Adira berdehem kecil.


Adira segera membuka matanya lebar begitu merasakan tangan Zein yang meraba perutnya.


“ Mas mau apa?! ”


“ Tidak baik jika kamu belum tidur juga..pejamkan kembali matamu aku hanya akan membantumu tidur ”


“ Ta-tapi Mas..”


“ Tenanglah Adira ”

__ADS_1


Di tengah keterkejutannya tapi Adira juga merasa nyaman setelah Zein mengusap-usap pelan perut dan pinggangnya secara perlahan entah mengapa itu bisa menenangkannya. Hingga perlahan dia mulai kembali memejamkan matanya, lambat laun rasa kantuk mulai muncul sampai dia akhirnya terlelap. Hembusan napas lembut yang terdengar dari Adira menandakan wanita itu sudah benar-benar terlelap.


Zein merapikan kembali selimut Adira, menyisihkan anak rambut yang mengenai wajah Adira berharap itu tidak akan membangunkannya. Setelahnya Zein menatap sebentar wajah tenang Adira yang saat ini sedang terlelap lalu mengecup kening Adira lembut.


“ Terima kasih sudah bertahan selama ini Adira, aku berjanji akan memberikan kebahagiaan padamu ”


~


~


~


Adira mengerjapkan matanya sejenak, sebelum mulai terbiasa merasakan cahaya matahari yang memancar lembut ke arahnya pertanda hari sudah pagi.


Dia melihat ke sekeliling jelas sekali dia nampak mencari seseorang.


“ Mantan suamimu itu pergi untuk menjemput putri bungsunya, setidaknya itu yang dia bilang sebelum pergi tadi ” ucap Helena sembari membenarkan tirai jendela kamar Adira.


Adira yang tidak menyadari keberadaan Helena langsung menoleh ke arah Helena.


“ Baguslah jika dia tidak ada di sini lagi ” ucap Adira acuh.


“ Wah..kau pikir siapa yang mau kau tipu, masih pura-pura begitu di depanku. Kau pikir aku tidak bisa menebak sebenarnya perasaanmu masih sama seperti dulu pada mantan suamimu. Karena itu dengan sangat percaya kamu menelponnya untuk menolong kita ”


“ Aku tidak terpikir solusi lain lagi yang ada di kepalaku hanya bagaimana cara agar anakku selamat, itu saja..”


“ Benar juga, tanpa mantan suamimu tidak tahu akan bagaimana yang terjadi padamu saat itu. Untunglah semuanya belum terlambat dan ternyata mantan suamimu itu orang yang cekatan dalam menyelesaikan masalah. Kau ini sudah tahu mantan suamimu masih mencintaimu kan makanya kau nyakin dia akan menyelamatkan mu? ”


“ Tidak seperti itu Helen, aku hanya nyakin saja bahwa saat itu yang bisa menolong hanya Mas Zein dan aku tahu dia tidak mungkin mengabaikan keselamatan anaknya sendiri ”


“ Saat itu dia mana tahu anak yang kau kandung memang anaknya ”


“ Benar, tapi tanpa aku bantah pun dari pertama bertemu saja Mas Zein sudah sangat nyakin ini anaknya. Karena itu dia tidak bisa mengabaikan hal itu ”

__ADS_1


“ Lalu bagaimana sekarang? Mantan suamimu sudah tahu anak yang kau kandung anaknya. Dia juga tinggal di desa ini. Apa yang akan kau lakukan? ”


Adira menghela napas sejenak karena dia sebenarnya juga tidak tahu akan bagaimana nantinya.


“ Aku rasa tidak akan ada yang berubah..mau bagaimana pun aku dengannya sudah bercerai. Hubungan kami sudah sepenuhnya berakhir, untuk masalah anak sendiri aku akan mendiskusikan padanya nanti. Jika sudah begini tidak mungkin aku melarangnya untuk memberikan tanggung jawabnya sebagai ayah pada anakku ”


“ Kau nyakin dengan keputusan itu? ” tanya Helena serius sembari dia menyapukan sapu tangan yang sudah di basahi untuk membersihkan tubuh Adira.


“ Itu keputusan yang terbaik untuk saat ini, aku juga tidak ingin terlibat lagi dengan mereka. Tapi aku juga tidak bisa egois merampas hak Mas Zein atas anaknya dan membuat anakku kehilangan kasih sayang dari ayahnya aku tidak tega melakukan itu..”


“ Hufft..memang hubungan kalian cukup rumit aku juga tahu hal itu. Mari anggap nantinya kalian yang telah bercerai ini menjalani kehidupan akur hanya dengan perantaraan hak asuh anak, apa kau nyakin kalian tidak saling menyiksa diri dengan berbohong pada perasaan masing-masing? ”


“ Helen..kau terdengar seakan memberikan saran agar aku kembali kepada Mas Zein ”


“ Iya memang itu yang ku lakukan sekarang ” tegas Helena tanpa ragu.


“ Bagaimana bisa kau menyarankan itu setelah tahu apa yang terjadi diantara kami? ” Adira balik bertanya tak percaya dengan ide Helena.


“ Aku tahu jika kalian memang saling mencintai dan tidak ingin saling menyakiti apa salahnya kembali bersama? ”


“ Itu namanya aku egois Helen, bagaimana nanti dengan anak-anaknya Mas Zein? Apa kamu pernah memikirkan itu? Aku tidak ingin lagi melakukan keputusan yang mengorbankan kebahagian anak-anak itu ”


“ Kalau kau ingin dengar sisi baiknya aku akan bilang bahwa anak-anak itu sendiri yang memohon dan berharap kau mau kembali menjadi Ibu mereka. Seperti yang kau lihat selama mereka beberapa kali datang ke rumah ini ”


“ Lalu kalau kau ingin dengar sisi buruknya Adira...anak-anak itu sudah dewasa sebentar lagi mereka akan memulai kehidupannya masing-masing dan meninggalkan Zein sendiri karena mereka sudah dewasa. Jadi kalau kamu kembali pun yang kau jalani hanya kehidupan pernikahanmu saja ”


“ Aku mengabaikan anak-anak itu? Atau berharap mereka pergi? Begitu maksudmu, kalau itu maksudnya maaf saja aku tidak akan melakukan hal jahat itu ”


“ Huh...baiklah aku menarik kembali kata-kataku, tidak mungkin juga aku berharap kau menelantarkan anak-anak itu. Tapi coba pikirkan lagi apa kau tetap tidak berubah pikiran jika anak-anak itu sendiri yang memintamu kembali dan mau kau jadi Ibu mereka ”


“ Tidak ” jawab Adira cepat dan tegas.


**Mohon berikan hadiah dan vote untuk novel ini agar performanya meningkat😊

__ADS_1


Terima kasih banyak teman-teman😁


Happy Reading 😘**


__ADS_2