Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Memaafkan Diri Sendiri


__ADS_3

Noah menginjakkan kakinya ke tempat yang asing baginya. Setelah mengetahui niat Daddy nya untuk membawa Adira kembali, Noah sudah memutuskan tidak hanya tinggal diam saja. Dia sadar bahwa selama ini yang dia lakukan hanyalah diam sementara dia adalah anak sulung di keluarga Brown.


Noah berjalan memasuki pekarangan rumah itu, memastikan lagi kesamaan rumah itu dengan foto yang dikirimkan oleh anak buahnya yang dia kirim untuk mengikuti Zein dua hari yang lalu.


Dia tidak tahu bagaimana reaksi Adira saat melihatnya tapi dia nyakin harus bicara dengan wanita itu.


Tok! Tok! Tok!


Noah memutuskan untuk mengetuk pintu karena dia tidak menemukan bel pintu.


“ Tunggu sebentar...” terdengar suara sahutan dari dalam rumah.


Degg!!


Noah mengenali suara familiar itu adalah milik Adira.


“ Siapa? ” tukas Adira begitu membuka pintu dan belum melihat dengan pasti wajah tamunya itu.


Setelah dia mengangkat kepalanya dan melihat orang di depannya matanya segera melebar tak menyangka dia akan melihat Noah yang berdiri di depannya.


“ Aku ingin memencet bel tapi tidak bisa menemukan bel pintunya ada dimana, makanya aku mengetuk pintu ” ujar Noah datar.


“ Apa itu hal yang benar diucapkan di situasi seperti ini?! ” , batin Adira tercengang mendengar ucapan Noah.


“ Bagaimana bisa kau ada di sini?! Tidak..maksudku untuk apa kau ada datang ke sini?! ” Adira bahkan tidak bisa mengatakan hal-hal yang benar sekarang.


“ Aku ingin bicara denganmu ”

__ADS_1


Adira lebih terkejut mendengar jawaban santai Noah.


“ Sebenarnya apa yang salah dengan orang ini? Dia masih bicara dengan ekspresi datar seperti ini. Mengapa jadi aku yang merasa aneh dan terintimidasi? ”


“ Aku pikir tidak ada yang perlu kita bicarakan, pulanglah jangan membuang waktumu untuk datang jauh-jauh ke sini ” tolak Adira dia juga harus bisa mempertahankan pendiriannya.


“ Benar datang ke sini memang lumayan membuang waktu, Apalagi saat ini perusahaan sedang sibuk. Masalahnya mungkin kamu memilih tempat yang cukup jauh ” Noah menimang-nimang santai.


“ Hah?! Aku pikir aku yang salah karena mengira kau aneh, tapi ternyata tidak salah pergilah dari sini ” Adira bertambah kesal mendengar itu, dia tidak meminta Noah datang ke tempat ini, pria itu yang memilih datang dan membuang-buang waktunya. Tapi malah dengan santai mengatakan Adira yang salah memilih tinggal di sini.


“ Tunggu dulu aku sudah membuang waktuku datang ke sini, setidaknya izinkan aku bicara ” cegat Noah.


Adira berdecik kesal mendengar itu.


“ Makanya cepat pergi dan jangan buang waktumu di sini! Bikin kesal saja memangnya aku yang memaksa kau datang ke sini! ”


“ Aku salah lagi ya, kenapa tiba-tiba dia sudah marah. Apa ucapanku salah? Aku hanya membenarkan ucapannya ” , ucap Noah dalam hati.


Adira heran melihat perubahan sikap Noah dia bisa menangkap kecanggungan dan kaku dari pria itu.


“ Apa karena dia yang biasanya bersikap dingin tiba-tiba ingin menanggapi pembicaraan dengan santai makanya jawabannya jadi kacau seperti itu? ” , Adira semakin tak paham.


“ Berapa banyak pun aku berlatih untuk mengucapkan kata-kata yang baik, tetap saja tidak berhasil ” Noah sedikit menyesal sudah mengacaukan keadaan, dia memang tidak bisa memulai pembicaraan dengan baik, Apalagi memberi tanggapan yang hangat kepada lawan bicaranya.


Adira menyadari dia sedang berada sendiri di rumah hari ini, maka kedatangan Noah akan aman. Karena kalau Helena ada di sini maka sudah dipastikan anak itu akan ditendang pergi dari rumah ini secepat kilat oleh Helena.


“ Ikut denganmu waktumu hanya setengah jam ” ucap Adira lalu mengajak Noah duduk di kursi tamu sederhana yang ada di dalam rumah.

__ADS_1


“ Tempat ini tidak nyamankan, karena itu jangan datang ke sini lagi ” tukas Adira begitu melihat Noah yang melihat sekeliling rumah seolah menganalisa keadaan rumah itu dengan ekspresi datar.


“ Tidak justru aneh aku baru tahu rumah sederhana seperti ini ternyata bisa terasa nyaman ” balas Noah.


“ Dia ini yang terlalu jujur atau apa sih? ” , kesal Adira dalam hati karena selalu tak bisa menerka apa yang dipikirkan Noah.


“ Ingat waktumu hanya sebentar jadi cepat katakan kamu ingin bicara apa? ” Adira bersikap dingin kepada Noah karena itu bentuk tembok pertahanan yang dia bangun agar tidak terlihat lemah lagi di depan anak itu. Dia tahu jelas Noah tidak menyukai nya dan selalu menganggap Adira sebagai wanita yang serakah.


“ Aku tahu Daddy datang ke sini dan berniat untuk mengajakmu kembali ke rumah ”


“ Tenang saja aku menolak hal itu, aku tidak akan pernah kembali ke rumah kalian lagi. Tidak ku sangka kamu harus sampai datang ke sini memperingatkan aku ” potong Adira tak mendengar Noah menyelesaikan perkataannya.


“ Kamu salah aku datang ke sini bukan untuk melarang kamu kembali ke rumah, tapi aku memohon agar kamu mau kembali ke rumah ” Noah tetap mengucapkan hal itu tanpa ada perubahan sama sekali tetap datar dan dingin.


Sikap dingin Noah yang merupakan sifat aslinya sepertinya berpengaruh juga kepada Adira.


“ Aku tidak akan kembali ke rumah ini sampai kapan pun juga, tak peduli apa pun alasannya ” Adira membalas tak kalah dingin.


Suasana di sana bagaikan sebuah ruangan yang di penuhi salju dingin yang membuat orang lain yang ada disana mungkin akan menggigil kedinginan. Tatapan Adira dan Noah sama-sama bertarung mengeluarkan kilatan kasat mata.


“ Harusnya aku minta maaf dengan benar tapi aku tidak tahu cara minta maaf, karena itu bukan hal yang biasa aku lakukan. Sejak kecil aku memiliki sikap buruk dalam bergaul dan berbicara. Mommy bilang itu karena aku terlalu introvert. Aku mungkin tidak mengatakannya dengan baik padamu, dan terdengar tidak tulus tapi aku benar-benar minta maaf untuk semua perbuatan dan perkataanku yang telah menuduhmu tanpa alasan. Aku yang membuatmu sangat menderita tinggal di rumah waktu itu ” tutur Noah perlahan tidak terburu-buru dan hanya mengalir saja sesuai yang bisa dia katakan.


Adira mendengarkan anak itu dengan tetap diam, dan tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari Noah.


“ Kamu memang tidak harusnya memaafkan aku, karena perbuatanku benar-benar jahat. Hanya saja setelah kepergianmu rumah rasanya seperti mati tidak ada kehidupan sama sekali ” lanjut Noah.


“ Menurutmu aku pergi dari rumah ini karena belum memaafkan kesalahan kalian, tidak. Aku memutuskan pergi karena aku sudah memaafkan dan mengikhlaskan semuanya. Bukan hanya kalian tapi aku juga belajar untuk memaafkan diriku. Karena itu aku pergi dan melanjutkan hidup, sekarang pilihan ada pada kalian bukan maaf dariku yang penting Tapi apakah kalian sudah bisa memaafkan diri sendiri? ” ucap Adira serius.

__ADS_1


“ Bagaimana cara memaafkan diri sendiri? ” tanya Noah menantikan jawaban Adira sungguh-sungguh.


Happy Reading 😘


__ADS_2