Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Aku Tidak Ingin Dia Mengingat Kejadian Itu


__ADS_3

Hati Adira sakit mengalami semua hal itu terutama mengetahui fakta baru bahwa ini kali pertama mereka berhubungan badan.


“ Lalu mengapa Mas Zein mengatakan pada semua orang telah menid*ri aku ” rutuk Adira tak dapat menerima.


Adira berbaring di samping Lily, sebenarnya harusnya mereka berdua berada di perkemahan tapi karena saat menuju tempat perkemahan, terjadi kecelakaan beruntun yang mengakibatkan jalanan macet hingga mereka harus kembali walau setengah perjalanan.


Tubuh Adira yang terasa cukup lelah membuat dia langsung terlelap sembari memeluk anak sambungnya itu.


~


~


~


Zein memijit keningnya pelan untuk sekadar mengurangi rasa nyeri yang menjalari kepalanya.


Memandang kondisi kamarnya yang nampak kacau dia mendesis kecil.


“ Tidak ku sangka aku semabuk itu sampai mengakibatkan kekacauan seperti ini ” Zein mulai beranjak pelan dari ranjang, saat dia menyisihkan selimut matanya menangkap noda darah yang ada di sprei.


Segera dia meraba tubuhnya mencoba mencari bagian mana yang terluka ternyata luka itu ada di tangannya.


“ Itu pasti karena aku memecahkan vas bunga ini ” sesal Zein lalu dia bergerak cepat merapikan kamarnya. Mulai dari menggantikan sprei dan membersihkan bekas pecahan vas dengan teliti, dia takut jika tidak segera di bersihkan malah melukai orang lain.


Zein benar-benar melupakan tadi malam tanpa sedikit pun mengingat apa yang terjadi. Dia hanya tahu saat terbangun dia sudah dalam keadaan kacau.


Saat Zein mandi dan membasuh tubuhnya di bawah pancuran shower punggungnya terasa perih seakan ada luka-luka kecil di sana.


“ Apa aku sampai berbaring di pecahan vas itu makanya punggungku juga terluka ”


Dia sama sekali tidak menyadari luka itu akibat Adira yang menancapkan kukunya tajam pada punggung Zein.


Zein keluar kamar untuk setidaknya mendapatkan secangkir teh yang bisa meredakan mabuknya.


“ Daddy ” panggil Lily dari arah belakang.


“ Lily? ” Zein heran mengapa putri kecilnya yang seharusnya berada di perkemahan malah ada di sini.


Karena melihat Lily yang ingin duduk Zein membantu anak itu.

__ADS_1


“ Bukannya Lily pergi ke perkemahan? ” tanya Zein kemudian.


“ Perkemahannya gak jadi, Dad. Waktu itu ada kemacetan busnya jadi tidak bisa melanjutkan perjalanan. Makanya aku sama Mama pulang lagi ke rumah ” tutur Lily lembut.


“ Kapan kalian sampai di rumah? Mama Adira ada dimana? ”


“ Kemarin sore, Daddy. Mama sedang tidur di kamarku, biarkan Mama tidur dulu ya Dad sepertinya Mama kelelahan karena harus menemani Lily padahal perkemahannya malah tidak jadi ” Lily nampak sedikit merasa bersalah saat dia bangun dan mendapati Adira yang tidur nyenyak di sampingnya dengan wajah kelelahan yang sangat jelas.


“ Iya tapi nanti bangunkan Mama Adira untuk makan. Tidak baik melewatkan sarapan pagi, kalau begitu Daddy pergi ke ruang kerja dulu ” Zein membawa teh yang telah dia siapkan sendiri ke ruang kerjanya.


“ Kenapa Adira malah tidur di kamar Lily? Dia tidak mungkin masuk ke kamar dan melihat keadaan kamar yang kacau karena aku mabukkan. Lagian bagus juga dengan begitu maka dia tidak perlu merasa terganggu ”, batin Zein.


~


~


~


Mata Adira terbuka perlahan saat merasakan sentuhan tangan kecil di dahinya.


“ Mama sudah bangun ” seru Lily begitu melihat Adira membuka matanya.


Lily tadi takut Mamanya sakit oleh karena itu dia meletakkan tangannya di dahi Adira bermaksud memeriksa suhu tubuh Adira.


“ Tidak apa Mama, tadi Daddy bilang Mama bisa tidur tapi jangan lupa makan ”


Adira menegang mendengar Lily menyebutkan Daddy nya.


“ Daddy masuk ke kamar ini tadi? ” tanya Adira berusaha tetap tenang di hadapan anak itu.


“ Tidak, Lily yang keluar waktu sarapan pagi tadi ” jawab Lily jujur.


“ Untunglah...untuk saat ini aku harap tidak bertemu langsung dengan Mas Zein. Aku tidak ingin dia mengingat kejadian semalam. Biarkan seperti ini semua akan baik-baik saja selama Mas Zein tidak mengingat hal itu maka aku bisa pergi tanpa hambatan dari rumah ini ”


“ Lily badan Mama rasanya capek sekali, bisa Mama minta tolong ” pinta Adira lembut pada gadis kecil itu.


“ Mama mau apa biar Lily bantu ” tukas Lily cepat.


“ Bisa ya kalau Daddy tanya tentang Mama, Lily bilang saja kalau Mama lagi main sama Lily. Jangan beritahu Daddy kalau Mama sedikit kurang enak badan ” Adira membujuk Lily agar dia bisa menghindari Zein ketika pria itu mungkin berniat bertemu dengannya.

__ADS_1


“ Oke Mama, sekarang Mama makan dulu ya ” ajak Lily.


“ Nanti ya sebentar lagi Mama akan mandi dulu ” Adira kemudian beranjak pelan menuju kamar mandi.


“ Mama pasti sedang sakit ” ungkap Lily begitu dia melihat Adira yang berjalan tertatih-tatih hanya untuk menuju kamar mandi.


Adira keluar dari kamar mandi dengan gaun casual yang dia bawa dari kamarnya tadi malam.


“ Lily hati-hati Nak! ” panik Adira begitu dia mendapati Lily yang hampir saja menjatuhkan mangkuk berisi bubur yang masih panas.


Kalau saja Adira tidak menarik Lily dengan cepat maka anak itu akan terkena tumpahan bubur atau bahkan pecahan mangkuk yang sekarang berserakan di lantai itu.


“ Yaa..buburnya jatuh ” sesal Lily


“ Lily gak terkena pecahan mangkuknya kan? Kenapa Lily memegang mangkuk dengan bubur panas itu? ” Adira tidak bisa menutupi kepanikannya.


“ Tadi Lily menyuruh pelayan membuatkan bubur untuk Mama, Lily mau menggeser buburnya ke arah sini biar Mama bisa duduk sambil makan ”


“ Huftt..” Adira menghela napas panjang.


“ Mama kan bisa geser sendiri, Li. Untung saja kamu tidak terluka. Lain kali jangan melakukan hal seperti itu lagi ya ” Adira mengangkat tubuh Lily ke kursi, lalu dia mulai membersihkan pecahan mangkuk dan bubur yang berserakan di lantai itu.


“ Maaf ya Maa.. Lily membuat Mama kerepotan ” Lily sedih karena dia malah membuat kekacauan.


“ Lily..Mama gak marah, Mama khawatir Lily kenapa-kenapa kalau untuk buburnya kita bisa minta pelayan membawakannya lagi ”


“ Lily selalu seperti ini perasaannya yang lembut itu dan sikap pengertian yang besar itu, aku bahkan sampai melupakan bahwa dia masih anak kecil berusia lima tahun. Dia sampai memikirkan untuk membawakan bubur karena aku bilang kurang enak badan tadi ”


Setelah meminta pelayan untuk membawakan bubur, Adira memakan bubur itu di depan Lily karena gadis kecil itu sangat ingin memastikan Adira memakan buburnya.


“ Yeahhh buburnya habis, setelah ini Mama akan sembuhkan. Tadi pelayan bilang kalau orang sakit makan bubur akan langsung sembuh ” ucap Lily bahagia.


“ Iya Mama langsung merasa sehat lagi setelah makan. Makasih ya Lily sudah merawat Mama ” Adira memberi tepukan lembut ke kepala Lily, gadis kecil itu tersenyum bangga seakan puas telah berhasil menjaga Adira.


“ Aku akan tetap seperti ini sampai setidaknya keadaanku terlihat normal. Benar jika Mas Zein tak melihat keadaanku mencurigakan maka dia tidak akan bertanya atau mengingat kejadian itu ” , batin Adira merasa nyakin semuanya akan berjalan lancar.


**Maaf teman-teman updatenya terlambat lagi🙏🏻


Akhir-akhir ini author punya banyak pekerjaan sama tugas😌

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk tetap memberi like, komen, hadiah dan vote pada novel ini😊


Happy Reading 😘**


__ADS_2