
“ Mas..” panggil Adira lirih.
“ Iya ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu ” jawab Zein cepat menghampiri Adira, dia bisa melihat mata Adira yang masih membengkak karena banyak menangis tadi.
“ Ada yang ingin membunuh bayiku..”
“ Apa maksudmu? Bisa kamu jelaskan kenapa kamu berpikir begitu? ”
“ Huh..sekitar empat hari..yang lalu ada yang menaruh kotak yang berisi ancaman dan benda mengerikan didalamnya a-aku..kira itu mungkin hanya perbuatan iseng seseorang tapi..sekarang aku hampir saja kehilangan anakku Mas...”
Zein meraih lembut tangan Adira mencoba menenangkan wanita itu.
“ Ancaman apa yang ada di kotak itu? ” tanya Zein memastikan lagi.
“ Sebuah surat di sana tertulis kalimat bersiaplah bayimu akan mati..hiks..membayangkannya saja sudah membuatku takut..sebenarnya ini semua perbuatan siapa? Mengapa melakukannya padaku? Apa salah bayiku Mas? ”
“ Kendalikan dirimu Adira kamu harus memikirkan kondisimu dan anak kita”
Adira menarik tangannya dari genggaman Zein.
“ Bisa jangan terus mengatakan anak kita Mas..aku belum siap untuk semua ini ”
“ Baiklah kita akan membicarakan itu lain kali ”
“ Sebenarnya mengapa kamu bahkan tidak ingin jujur tentang bayi itu padaku Adira, aku tahu hubungan kita rumit tapi setidaknya kamu memberi aku kesempatan untuk bertanggung jawab padamu dan anak kita ”
“ Sebaiknya kamu tidur, Dokter tadi mengatakan kamu harus banyak istirahat. Semuanya akan baik-baik saja serahkan semuanya padaku dan jangan takut lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti dan..bayinya ”
Adira hanya membalas dengan anggukan kecil dan memejamkan matanya perlahan.
Zein duduk di kursi samping ranjang Adira menjagai wanita itu sampai akhirnya benar-benar terlelap.
“ Bagaimana keadaan Dira? ” tanya Helena masuk ke dalam kamar Adira berniat memeriksa keadaan sahabatnya itu, tapi karena melihat Adira yang tertidur dia memilih bertanya pada Zein.
__ADS_1
“ Sepertinya dia mulai sedikit tenang, tidak sepanik yang tadi ”
“ Syukurlah aku sangat takut tadi terjadi hal yang tidak diinginkan. Oh..iya Anda bisa pulang aku akan menjaga Adira Anda tenang saja ”
“ Huftt..” Zein menghela napas panjang.
“ Aku mohon izinkan aku tetap di sini untuk menjaga Adira. Aku tidak bisa tenang melihat keadaannya saat ini ”
Helena mencoba menimang-nimang terlebih dahulu, memang jika dia pikirkan lagi keberadaan pria itu di sana benar-benar berpengaruh besar dalam menenangkan Adira. Bahkan Adira jauh lebih tenang jika pria itu yang bicara padanya.
“ Baiklah..tapi hanya sampai kondisi Adira membaik. Aku juga khawatir akhir-akhir ini dia pasti banyak mengalami tekanan mental ”
“ Tadi Adira sempat menceritakan tentang kotak ancaman, apa Nona Helena bisa menjelaskan tentang hal itu lebih rinci lagi? ”
“ Anda tidak perlu terlalu formal padaku, aku seumuran dengan Adira bicara santai saja. Tapi untuk membahas hal itu bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat lain, jangan di sini. Aku sedikit takut jika nanti Dira mendengar tentang kotak ancaman itu dia akan terkena serangan panik lagi ”
“ Baiklah..” balas Zein singkat lalu mengikuti langkah Helena keluar dari kamar itu.
“ Aku akan menunjukkan langsung pada Anda kotak yang berisi ancaman itu ” Helena membuka pintu gudang lalu mengeluarkan kotak itu dari sebuah peti.
Zein menerima kotak itu, setelah melihat isi didalamnya dia mengepal tangannya erat amarahnya memuncak begitu melihat hal itu.
Dia tahu keadaan mental seorang wanita hamil itu sangat labil, dia masih ingat betapa tertekannya mental Starla mendiang istri pertamanya ketika mengandung si kembar Aidan dan Nadia. Padahal waktu itu yang dihadapi Starla hanyalah ketakutan harus melakukan persalinan caesar atau operasi.
Apalagi Adira yang harus mendapatkan surat ancaman dan boneka bayi yang sangat mengerikan itu. Tentunya Adira akan tertekan dan dipenuhi ketakutan.
“ Apa sebelumnya hal ini juga pernah terjadi? ” tanya Zein serius.
“ Jika maksud Anda teror ancaman, ini pertama kalinya Dira mendapatkan hal seperti ini. Sebelumnya kehidupan kami aman-aman saja oh..tapi aku tidak nyakin ini berkaitan atau tidak waktu itu Dira pernah merasa ada seseorang yang menguntitnya ketika dia berjalan sendirian ”
“ Benar Adira pernah juga menceritakannya padaku ”
“ Awalnya kami menduga itu adalah perbuatan Anda ”
__ADS_1
Walaupun terkejut mendengar itu Zein tetap berusaha memakluminya karena Adira juga pernah mencurigai dia yang melakukan itu.
“ Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu dan aku harap kalian juga tidak berpikir kotak ancaman ini perbuatanku ”
Helena melangkahkan kakinya keluar dari gudang, karena rasanya berlama-lama di gudang itu juga terasa menyesakkan.
“ Tentu saja aku tidak akan berpikir Anda masih manusia jika tega melakukan hal itu kepada Dira, sebenarnya bahkan sampai sekarang aku tidak menyukai keberadaan kalian di desa ini ” ungkap Helena jujur tidak peduli bagaimana tanggapan Zein padanya.
“ Bagiku yang terpenting adalah kebahagiaan Dira, sementara kalian adalah masa lalu yang menyakitkan untuknya. Dengan terus mengejarnya seperti ini harusnya Anda tahu betapa egoisnya Anda tidak membiarkan dia bahagia ”
Perkataan Helena memang kejam tapi Zein dapat mengerti mengapa wanita itu sampai mengatakan hal itu.
“ Perbuatanku pada Adira memang sangat jahat..dan aku sangat menyesali hal itu. Kepergian Adira dan rasa kehilangan itu menurutku adalah sebuah hukuman yang pantas aku terima ”
“ Anda adalah orang dewasa dibandingkan Dira dan aku yang masih berusia belasan. Harusnya Anda sudah tahu resiko dari semua tindakan Anda. Sudah berapa lama Anda mengenal Adira? ”
Zein sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba itu.
“ Aku tidak nyakin mungkin belum sampai 1 tahun ”
“ Pftt.. ” Helena tertawa cengah mendengar jawaban itu.
“ Maaf aku tidak bisa menyembunyikan reaksiku mendengar itu, hah..aku sendiri sudah mengenal Dira sejak kecil. Gadis itu awalnya pindah disebelah rumah kami dan tinggal berdua dengan Ayahnya. Saat itu aku sangat iri dengannya karena dia bisa hidup dengan bahagia bersama dengan Ayahnya ”
“ Tapi ternyata kebahagiaan yang membuat iri itu pun tak berlangsung lama, saat Ayahnya menikah kembali kehidupan Dira berubah drastis. Lama-kelamaan Ibu tirinya merebut semua darinya, mulai dari kasih sayang Ayah dan juga masa kecilnya yang membahagiakan. Setelah Dira memiliki saudara tiri Ayahnya bahkan mulai melupakannya sementara kekerasan yang dilakukan Ibu tirinya tak kunjung berhenti, sungguh sebuah ironi bukan? ”
Zein diam tak mampu menjawab apa pun untuk menanggapi Helena.
“ Memang tidak semua orang ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang selalu membahagiakan, ada kalanya itu merupakan masa penderitaan terberat. Tapi sepertinya Dira tak beruntung untuk hal itu, karena kekejaman orang tuanya dia secara tidak langsung dijual kepada Anda layaknya sebuah barang. Karena alasan itu juga Anda bisa menikah dengan Adira kan? ”
**Teman-teman mohon bantuannya untuk kasih hadiah sama vote untuk meningkatkan performa novel ini🙏🏻
Terima kasih banyak😁
__ADS_1
Happy Reading😘**