Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Cahaya Bulan


__ADS_3

Adira kembali dari toilet, dengan perasaan malu setelah kejadian tadi apalagi setelah mengetahui bahwa Zein menyadari dia sedang datang bulan dari noda di roknya yang nampak mencolok.


Adira merasa lebih baik sekarang apalagi jas yang diberikan Zein juga sangat membantu dia dapat mengaitkan jas itu di pinggangnya untuk menutupi noda itu.


Zein menatap ke arah Adira intens, yang membuat Adira merasa semakin malu. Jadi dengan cepat dia menghindari pandangan Zein.


“ Gadis ini aneh sekali jelas sekali aku sudah bersikap baik membantunya, tapi reaksinya masih saja. Sebegitu sulitnya bahkan untuk mengucapkan terimakasih pada orang yang sudah membantu ” , kesal Zein dalam hati.


Adira memanggil pelayan dan memesan makanan yang ingin dia makan, setelah makanannya datang dia menyantap makanan itu sembari sesekali mengobrol kecil dengan Lily.


Hari itu berakhir dengan baik hampir pukul 10 malam mereka pulang ke rumah.


“ Aku akan mengantarkan Lily ke kamarnya dulu Mas ” ucap Adira sembari mendekap Lily di gendongannya karena sepanjang perjalanan pulang Lily sudah terlelap tidur.


Jika bukan Adira yang langsung membawa dia ke kamarnya pasti gadis kecil itu akan terbangun lagi.


“ Hmm ” jawab Zein berdehem singkat.


Sesampainya di kamar Adira segera membaringkan Lily, dia mengecup pelan kening Lily lalu membisikkan ucapan selamat tidur.


Adira merasa bersyukur setidaknya kegiatan yang dia lakukan dengan Zein berjalan baik, Lily sangat bahagia selama mereka jalan-jalan tadi itu juga membuat Adira ikut merasa senang.


Ketika melewati kamar Nadia, Adira masih mendengar gadis itu berlatih. Karena pintu kamarnya terbuka sedikit Adira dapat melihat Nadia yang sedang berlatih naskah dan kemampuan aktingnya.


Adira tersenyum puas melihat betapa semangatnya Nadia berlatih walaupun saat ini sudah mendekati waktu tidurnya. Lalu setelahnya Adira melanjutkan langkahnya menuju kamar Zein.


“ Kau mau kemana? ” tanya Zein ketika melihat Adira sudah memasuki kamar tapi gadis itu malah tidak langsung tidur di sofa seperti biasanya.


“ Hmm...aku mau mandi dulu Mas ” jawab Adira tersipu malu.


Zein langsung terdiam dia baru teringat bahwa tadi saat di restoran Adira datang bulan. Seharusnya Zein tidak perlu menanyakan Adira akan pergi kemana tentu saja gadis itu akan membersihkan diri terlebih dahulu. Zein juga sama malunya dengan Adira tapi dia berusaha menutupinya.


Adira menutup pintu kamar mandi itu dengan cepat.

__ADS_1


“ Ahhh...” desisnya.


Dia memegangi wajahnya yang terasa panas karena masih merasa malu.


“ Kenapa aku harus datang bulan saat bersamanya? ” rutuk Adira lagi.


Sudah lebih dari setengah jam Adira berada di kamar mandi, tapi gadis itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan keluar.


“ Dia tidak mungkin jatuh pingsan dikamar mandikan? ” ucap Zein bertanya-tanya.


Melirik jam yang terletak di meja di sampingnya Zein menyadari ini sudah tepat pukul 11 malam maka sesuai aturan semua lampu akan di padamkan. Termasuk lampu di kamarnya sendiri, karena bagi Zein ini sudah waktunya istirahat.


Tapi saat ingin memadamkan lampu pun dia tiba-tiba merasa ragu dan khawatir bagaimana nanti keadaan Adira jika kamar mandi seketika gelap.


Dia mondar-mandir di dalam kamarnya menantikan Adira keluar, untuk mengetuk dan menanyakan langsung keadaan Adira dan mengapa dia belum keluar. Rasa gengsi Zein sangat tinggi dia merasa harga dirinya akan terluka jika melakukan hal itu.


Zein kembali melirik jam dan sekarang sudah lewat 15 menit, Zein merasa kesal karena ini sudah membuat dia melanggar aturan yang dibuatnya sendiri.


Dia berjalan cepat menuju pintu kamar mandi baru saja dia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, Adira tiba-tiba muncul setelah membuka pintu itu.


Kemunculan Adira yang tiba-tiba dan teriakan gadis itu juga membuat Zein tak kalah terkejut sampai dia mundur beberapa langkah.


“ Kenapa kau berteriak? ” tanya Zein tak percaya mendengar teriakan Adira.


“ Mas juga kenapa ada di sini tiba-tiba? ” Adira malah balik bertanya.


Zein sedikit gugup dengan pertanyaan itu.


“ Kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa, kau lupa aturan rumah ini ” balas Zein ketus.


Adira melirik ke arah jam.


“ Ahh...maaf Mas aku sepertinya terlalu lama mandinya ”

__ADS_1


“ Cepatlah tidur aku akan mematikan lampunya sekarang ” tegas Zein.


Adira segera melangkah cepat menuju sofa tempat dia biasa tidur.


“ Harusnya aku matikan saja lampunya dari tadi, biar tahu rasanya berjalan dalam gelap ” Zein tetap merasa kesal karena Adira berani berteriak padanya tadi.


Adira yang mendengar Zein menggerutu seperti itu, merasa sangat aneh.


“ Apa dia sampai semarah itu? Aku hanya terlambat beberapa menit. Tapi melihat temperamennya pasti hal ini bisa membuat dia marah. Ihh...seram ” guman Adira pelan lalu segera menarik selimut menutupi tubuhnya.


Adira segera terlelap dalam tidurnya, sementara Zein bahkan tidak merasakan sedikit pun rasa kantuk mendatanginya. Ada sebuah perasaan aneh dan pikirannya akhir-akhir ini dipenuhi hal-hal tentang Adira. Dia merasa lebih sering memikirkan apa yang dirasakan gadis itu, hal apa yang dilakukannya, apa dia merasa baik-baik saja.


Entah sejak kapan Zein mulai merasa hal itu semakin sering menganggunya. Dia sempat berpikir itu adalah perasaan iba sementara atau perasaan bersalah karena sudah menghukum gadis itu dengan begitu kejam.


Tapi itu jauh dari perkiraan Zein, sekarang tak tahu mengapa dia bertanya-tanya mengapa Adira menjauh darinya, mengapa Adira tidak berani memandang ke arahnya. Apakah gadis itu merasa takut atau trauma? Zein di serbu semua pertanyaan itu.


Jika itu hanya perasaan iba dia tidak seharusnya merasa peduli bahkan apabila Adira menjauhinya.


Cahaya bulan masuk samar-samar ke dalam kamar yang gelap itu melalui celah jendela. Tubuh Adira sayup-sayup terpancar karena cahaya yang tepat memantul di tubuhnya.


“ Apa sekarang sedang bulan purnama? ” , tanya Zein dalam hati. Karena merasa dia sedang tidak bisa tidur, Zein berjalan mendekat ke arah jendela menatap ke arah luar jendela.


Benar saja malam itu bulan bersinar penuh, Zein menikmati pemandangan itu. Tidak salah juga karena dia memang masih belum mengantuk.


Ketika dia berbalik sebagian cahaya yang awalnya menyinari tubuh Adira tertutup karena Zein yang berdiri tepat di depan jendela. Sekarang sinar bulan hanya menerangi wajah Adira walaupun nampak sayup-sayup.


Degg!!


Jantung Zein tiba-tiba berdetak kencang saat dia menatap secara dekat wajah Adira. Nampak sangat tenang, pelupuk mata yang indah di tambah bulu mata yang bagai tirai menutupi sebuah keindahan lain di baliknya.


“ Matanya juga memang bagus ” puji Zein tanpa sadar membayangkan jika saja saat itu mata Adira terbuka tentu juga akan nampak sangat cantik.


Menatap intens Adira yang sedang tertidur, Zein bertanya-tanya dari mana gadis ini bisa memiliki kulit seputih susu itu. Bagai tanpa noda sedikit pun. Lalu lambat laun dalam hatinya muncul pertanyaan apakah kulit itu akan sama lembutnya seperti yang terlihat.

__ADS_1


“ Apa yang ku pikirkan ” ucap Zein tersadar karena pikirannya.


Happy Reading😘


__ADS_2