Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Berusahalah Mengingat Kejadian Itu


__ADS_3

“ Mas menyentuhku sesukamu seolah aku ini murahan, dan itu tidak merugikan aku ” kesal Adira.


“ Coba periksa tubuhmu ada bekas sentuhanku tidak. Lagi-lagi sepertinya kau harus mulai bisa membedakan mana yang hanya tidur dan meniduri ” ucap Zein dengan penekanan di akhir.


“ Lupakan saja Mas memang aku yang salah ” Adira memilih diam daripada harus meneruskan pembicaraan yang tidak terarah dengan Zein.


“ Iya memang salahku harusnya tadi malam aku jangan mau tidur satu ranjang dengannya ” rutuk Adira pelan.


~


~


~


Begitu mobil mereka sudah tiba di rumah, Adira segera membuka pintu mobil tanpa menunggu Zein. Dia juga segera masuk tanpa menunggu Zein.


“ Gadis itu nampak sangat marah, aku hanya mengatakan fakta padanya. Kalau saja dia bisa mengetahui perbedaan kondisi badannya saat itu pastinya dia tidak akan mau menerima pernikahan ini ” ucap Zein sambil memandang kepergian Adira.


“ Nona A kamu sama Daddy sudah pulang ” seru Aidan begitu melihat Adira.


“ Hmm ” balas Adira berdehem singkat.


“ Apa aku boleh tahu kenapa kalian tidak pulang semalam? ” tanya Aidan karena merasa penasaran.


“ Karena tempatnya jauh. Aku akan kembali ke kamar nanti saja aku akan ceritakan ” Adira melanjutkan langkahnya moodnya masih buruk.


“ Dia pasti kelelahan habis dari perjalanan jauh ” ungkap Aidan mencoba mengerti keadaan Adira.


Nadia yang berada di sana mendorong kursi yang di depannya dengan kasar dan melangkah pergi.


“ Astaga ” kaget Aidan.


“ Kenapa sih dengan anak itu ” Aidan tak paham mengapa Nadia tiba-tiba marah seperti itu.

__ADS_1


“ Semakin lama Daddy semakin sering menghabiskan waktu bersama wanita itu. Tidak..tidak ” Nadia mondar-mandir kesal sambil menggerutu sendiri dikamarnya.


“ Jangan sampai Daddy benar-benar mencintai wanita itu, apalagi sampai nanti jika wanita itu hamil maka tidak ada harapan untuk membuat mereka berpisah ” Nadia mengacak-acak rambutnya seolah frustasi.


“ Aku tidak punya cara untuk memisahkan Daddy dari perempuan itu. Jangan menyerah Nadia pikirkan cara apapun sebelum wanita itu berhasil melakukan semua rencananya ” teguh Nadia menyemangati dirinya.


Sementara Adira yang merasa kalut mencoba menenangkan dirinya, menikmati aliran air yang membasahi rambut sampai ujung kakinya.


“ Aku kira saat Mas Zein memang tidak sama sekali memiliki niat untuk menyentuhku...ternyata itu salah lelaki tetap saja lelaki tentu Mas Zein juga memiliki hasrat untuk itu ”


“ Lalu kenapa selama ini dia nampak tidak tertarik sama sekali tentang hal-hal seperti itu, dia tidak pernah mendekati aku..atau bahkan sampai meminta haknya. Aku pikir saat itu dia benar-benar terjebak makanya melakukan kesalahan itu, tapi mengingat hari ini aku sadar belum tentu juga saat itu Mas Zein tidak punya pilihan lain selain meniduri aku ”


Adira mengusap wajahnya kasar.


“ Akhh..kenapa aku tidak mengingat sedikit pun kejadian malam itu. Bagaimana ada bisa aku tetap tidak sadarkan diri saat seseorang memperk*s*ku. Jika memang malam itu Mas Zein dalam keadaan sadar lalu mengapa dia begitu tega melakukan hal itu ”


“ Coba ingat Adira..ingat! Berusahalah mengingat kejadian itu ” Adira memukuli kepalanya marah terhadap dirinya sendiri.


Adira merasa menjadi orang yang paling bodoh saat mendengar ucapan Zein, benar juga karena bahkan sampai sekarang dia bisa-bisanya melupakan malam kejadian yang mengubah seluruh hidupnya.


Selesai mandi sebenarnya Adira langsung pergi menemui Lily, tapi ternyata Lily sedang pergi jalan-jalan dengan Nadia. Mungkin karena ini akhir pekan jadi Nadia memutuskan membawa Lily jalan-jalan lagian karena kesibukannya Nadia memang jarang bermain dengan adik bungsunya itu.


Akhirnya Adira memutuskan untuk menghabiskan waktu di taman belakang rumah, cuaca hari ini terbilang cerah tapi tidak panas sampai menyegat melainkan terasa hangat. Entah itu karena hari belum terlalu siang yang pasti berada di taman bukan pilihan yang buruk.


Adira duduk di bangku taman dan menghirup udara segar sepuasnya. Sambil bersantai dan sesekali bersenandung kecil Adira memintal benang pada rajutannya dengan lancar. Adira suka merajut itu kegiatan yang menenangkan menurutnya, jadi di keadaan yang tenang itu dia memilih menyelesaikan rajutan yang belum sempat diselesaikannya.


Zein yang sedari tadi berkutat dengan pekerjaannya, berdiri sebentar untuk meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk. Ingin sekadar menghirup udara segar Zein membuka tirai besar yang menghalangi jendela ruang kerjanya dan membuka jendela itu supaya udara bisa masuk.


Bentuk dan susunan ruang kerja itu dulunya dia rancang bersama mendiang istrinya. Saat itu Starla memberikan ide yang sangat bagus dengan menempatkan jendela di sisi ini juga sebuah pintu kecil yang bisa dibuka kapan dan nantinya akan dibuatkan taman yang bisa langsung dinikmati keindahannya dari jendela itu.


Zein merindukan sosok mendiang istrinya yang bersemangat dan menurut Zein wanita pertama yang bisa mengendalikan dia adalah Starla.


Seolah menatap taman itu membawa kembali kenangan Starla, awal mereka menikah ketika Starla akan mengomel di ruang kerja karena Zein selalu sibuk dengan pekerjaan. Saat dia memeluk Starla dan menikmati keindahan taman itu berdua.

__ADS_1


Memikirkan nasib dirinya yang malang Zein tertawa cengah. Andai saja Starla masih hidup dia nyakin mereka dan keempat anaknya akan sangat bahagia.


Ketika akan meraih benang yang dia letakkan di sampingnya tanpa sengaja Adira malah membuat gulungan benang itu jatuh. Adira terpaksa bangkit dan mengambil benang itu.


Saat Adira berdiri Zein akhirnya menyadari keberadaan Adira di taman itu.


“ Sedang apa dia di sana? ” tanya Zein penasaran.


Sementara Adira tidak sadar Zein memperhatikan dia dari jendela ruang kerja, tetap fokus pada rajutannya. Menyilangkan kedua tangan menatap terus pergerakan kecil Adira. Saat gadis itu harus menyelipkan anak-anak rambutnya yang tertiup angin dan mendengarkan senandung kecil Adira.


Zein tanpa sadar tertawa karena sebenarnya suara senandung Adira terdengar sumbang.


“ AKHhh!!! ” jerit Adira tiba-tiba.


“ Adira! ” teriak Zein tak kalah panik, dia segera berlari menuju taman.


“ Akh!! Menjauh dariku! Tolong!! ” Adira yang tadinya duduk tenang di bangku taman seketika terduduk di tanah ketika seekor anjing tiba-tiba menerjang tubuhnya.


“ Tolong!! Ahh...pergi! ” Adira berusaha menjauh dari anjing itu tapi anjing itu terus menerjang tubuhnya sampai kaki Adira berdarah terkena cakar tajam anjing itu.


Memundurkan tubuhnya gemetaran melihat betapa ganasnya anjing itu seolah siap menerkam Adira kapan saja. Air liur menetes menyeramkan dari mulut anjing.


“ Ja-jangan..mendekat ” gemetar Adira, merasakan napas panas anjing itu didekatnya sudah mampu membuat tubuh Adira gemetar, Adira tidak nyakin bisa lari dari anjing itu karena sepertinya bergerak sedikit saja anjing itu akan segera menerkam Adira dan merobek-robek tubuhnya.


Air mata Adira menggenang sangking dia ketakutan.


“ Tolong aku..” tangisnya pelan.


**Hello readers bolehlah ya untuk kali ini Author cerita dikit, jadi ngini novel inikan udah diajuin kotrak nih.


Tapi belum lulus juga😭


Author minta tolong banget buat teman-teman pembaca semua kalau memang suka novel ini jangan pelit kasih like, komen, dan hadiah ke novel ini biar performanya naik

__ADS_1


Supaya bisa lulus kontrak mohon bantuannya Terima kasih 🙏🏼


Happy Reading😘**


__ADS_2