Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Resiko Yang Kalian Pilih Sendiri


__ADS_3

Baru juga kemarin Adira melarang Noah untuk datang lagi ke rumahnya, tapi sekarang anak itu malah datang membawa Aidan dan Nadia bersama dengannya.


“ Siapa yang datang? ” tanya Helena sembari menyusul Adira ke depan karena dari sejak wanita itu mengatakan akan melihat siapa yang bertamu ke rumah mereka. Adira tak kunjung bersuara atau kembali masuk ke dalam rumah.


Helena bisa melihat Adira yang masih berdiri di depan pintu itu.


“ Memangnya siapa yang datang? Kenapa gak di suruh masuk saja malah berdiri di depan pintu seperti itu ” celutuk Helena kemudian dia keluar dari pintu itu dan melihat dua orang pria bersama seorang gadis muda berdiri di depan pintu dengan canggung.


“ Siapa mereka? ” Helena bertanya karena tak mengenali orang-orang itu, Adira hanya mendengus napas dalam lalu mengacak rambutnya sebentar.


Helena bertambah penasaran melihat reaksi Adira.


“ Boleh aku izinkan mereka masuk? ” ucap Adira kemudian meminta izin Helena.


“ Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku siapa mereka ” balas Helena.


“ Mereka..anak-anak mantan suami ku ” lirih Adira hampir berbisik pada Helena.


“ Apa?! Untuk apa anak-anak tidak tahu diri itu datang ke rumah ini!! ” emosi Helena langsung meledak saat itu juga.


Aidan segera memundurkan tubuhnya mendengar teriakan wanita itu.


“ Mati kita siapa wanita itu? ” tanyanya ketakutan pada Noah.


“ Tidak tahu ” jawab Noah singkat, karena memang dia tidak menyangka ada orang lain yang tinggal bersama Adira.


“ Helen, tenangkan dirimu. Jangan mengatakan kata-kata kasar seperti itu, anak-anak ini pasti lelah menempuh perjalanan ke sini tidak mungkin langsung menyuruh mereka pergi. Setidaknya biarkan mereka istirahat sebentar ” bujuk Adira.


“ Tidak boleh! Memangnya kamu ibu mereka?! Jangan pedulikan anak-anak yang telah mengusirmu! Kalian pergi dari sini!! ” Helena tetap tidak bisa menerima alasan Adira, sementara Noah dan saudara-saudaranya hanya bisa menundukkan kepala karena yang dikatakan Helena benar.


“ Helen..aku mohon sebentar saja ”


Helena mengertakkan giginya berusaha menelan semua amarahnya, dia sangat lemah jika Adira sudah memasang nada dan ekspresi memohon seperti itu.

__ADS_1


“ Hanya sebentar ” rutuknya lalu masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan Adira dengan anak-anak itu.


Adira menatap anak-anak yang tertunduk itu.


“ Masuklah, aku akan membiarkan kalian istirahat sebentar ” ajak Adira mempersilahkan mereka masuk.


Noah memberanikan diri dan melangkah memasuki rumah, dan secepatnya di ikuti oleh Aidan dan Nadia.


Nadia melangkah cepat di belakang kakaknya dia bahkan tak berani bertatapan dengan Adira.


Adira menyuruh mereka duduk di kursi meja makan karena itu akan lebih memudahkan saat dia memberikan mereka minuman.


Dia mengeluarkan air putih, dan juga jus dari lemari pendingin. Menaruh kedua teko itu di atas nampan dengan menaruh tiga gelas, lalu membawanya ke meja.


“ Biar pun kalian manusia yang biasa dilayani, tapi tidak etis membiarkan wanita hamil itu melayani kalian memangnya dia-


“ Helen! Tolonglah..” Adira memperingatkan Helena karena dia tahu sahabatnya itu akan kembali melontarkan kata-kata kasar, yang malah akan membuat mereka semakin merasa bersalah.


Tapi Noah, Aidan, dan Nadia bahkan tidak bisa berkutik mereka hanya duduk diam.


Akhirnya Adira bergerak inisiatif dan menuangkan sendiri minuman itu ke gelas dan langsung memberikan kepada mereka masing-masing.


“ Jangan bersikap diam seperti ini, baiknya kalian bilang tujuan kalian datang ke sini lalu pergilah ” ucap Adira dingin.


Dia tidak mungkin tidak kasihan melihat keadaan mereka yang sudah acak-acakan mereka pasti menempuh perjalanan yang sulit untuk sampai ke rumah itu. Sampai sebagian pakaian mereka terdapat noda lumpur itu mungkin saja dari jalanan becek.


Aidan memberanikan diri mengangkat kepalanya, meraih gelas yang ada di depannya meneguk air putih yang terasa sejuk membasahi tenggorokannya yang memang sudah kering.


“ Aku minta maaf Nona A, maaf untuk semuanya karena kami kamu sudah banyak menderita memang benar kami sangat tidak tahu diri, bahkan setelah memaksamu pergi dari rumah kami malah datang tanpa rasa malu ke sini ” tutur Aidan menatap sekilas kepada Adira lalu kembali menundukkan kepala karena ternyata dia masih belum sanggup membayangkan seberapa banyak Adira menderita karena perbuatan mereka.


Parahnya lagi Adira yang harus pergi dalam keadaan hamil, dan melepaskan semua haknya untuk menerima pertanggung jawaban Zein.


“ Noah bukannya aku sudah bilang padamu untuk tidak datang lagi, mengapa kamu tidak mendengarkan aku? ” Adira menatap Noah tajam karena dia nyakin ini perbuatan anak itu.

__ADS_1


Aidan dan Nadia sontak memandang ke arah Kakaknya itu, meminta jawaban apa yang dimaksud Adira.


“ Maaf Adira tapi aku tidak bisa menyerah untuk masalah ini, kamu boleh marah atau mengutuki kami tapi tolong kembalilah ke rumah. Daddy membutuhkanmu ” sahut Noah.


“ Berarti Mas Zein yang memaksa kalian untuk datang? Apa Mas Zein sengaja memaksa kalian datang ke sini agar aku mau kembali? ” Adira merasa hal itu keterlaluan jika benar Zein memanfaatkan anak-anak itu untuk membujuk Adira kembali.


“ Tidak ” jawab mereka serempak dan menatap Adira serius.


“ Daddy bahkan tidak tahu kami datang ke sini, kalau tahu Daddy pasti akan menghukum kami ” guman Aidan berusaha menarik perhatian Adira yang pasti peduli dan tidak mau mereka dimarahi oleh Daddy nya.


“ Kalau sudah tahu kenapa malah datang ke sini, itu resiko yang kalian pilih sendiri ” Adira membalas dengan dingin, dan dia bisa melihat keterkejutan sesaat dari ekspresi Aidan ketika dia mengucapkan itu.


“ Nona A a-aku mohon-


“ Nona A? Wah hebatnya kalian bahkan tidak memanggil dia dengan nama tapi malah dengan sebutan bodoh itu! ” murka Helena menghentikan Nadia yang ingin bicara, karena ketika dia memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mereka diam-diam. Tapi tak bisa menahan emosinya ketika berulang kali mendengar panggilan yang diberikan mereka kepada Adira.


“ I-itu..aku tidak bermaksud kurang ajar..ta-tapi ” Nadia berusaha untuk mengungkapkan alasan mengapa mereka memanggil Adira dengan sebutan itu, namun dia tak tahu harus mengatakan alasan yang pasti malah lebih memperburuk situasi itu.


“ Aku yang meminta mereka memanggilku begitu ” Adira membela Nadia.


“ Kamu yang mau dipanggil begitu? Memangnya kamu pikir kamu itu robot, benar-benar bodoh ” Helena merutuki kebodohan sahabatnya itu.


“ Sepertinya aku sudah mendengar ucapan seperti itu dua kali ” ucap Adira teringat kembali saat Zein melontarkan kata-kata yang sama persis seperti Helena.


“ Aku minta maaf Adira...hiks..hikss..aku mohon maaf..kamu boleh memukulku atau katakan saja..kamu mau aku bagaimana untuk menebus..kesalahanku..aku..hiks..mohon maafkan aku ” tangisan Nadia pecah.


“ Hufftt...bocah ini pintar sekali menggunakan air mata palsu ” sindir Helena tidak suka melihat reaksi Nadia yang menangis seperti itu.


Aidan dan Noah hanya bisa memandang iba dan kasihan kepada Nadia, karena sudah berulang kali mereka menyaksikan saudara perempuannya itu menangis seperti itu.


“ Nadia ” lirih Adira mengepal tangannya kuat berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terbawa suasana.


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2