Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Pesta Basecamp


__ADS_3

Ketika Adira akan beranjak untuk tidur dia teringat permintaan Aidan yang mengundangnya ke pesta di basecamp. Sekilas Adira melirik ke arah Zein yang berada diatas ranjangnya dan sibuk dengan laptopnya.


Itu sudah pemandangan biasa bagi Adira karena sepertinya Zein memang memiliki banyak sekali pekerjaan yang membuat dia sangat sibuk.


“ Mas boleh aku bicara sebentar ” izin Adira takut dia malah menganggu konsentrasi Zein.


“ Hmm ”


Zein hanya berdehem singkat sebagai jawaban memberi izin.


“ Tadi Aidan mengundangku untuk ikut ke basecampnya besok, dia dan teman-temannya mengadakan pesta perayaan karena basecamp mereka selesai di renovasi Mas ” jelas Adira berusaha agar Zein dapat menerima.


“ Untuk apa Aidan mengundangmu ke sana? ”


“ Aduh...kalau ditanya untuk apa gak mungkin aku bilang karena waktu itu sudah berbohong untuk melindungi Aidankan ”


“ Waktu ke sekolah waktu itu kebetulan dia mengenalkanku kepada teman-temannya, karena alasan itu dia mengundangku agar bisa lebih akrab lagi ”


Zein menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi mengetik di laptopnya, lalu menoleh ke arah Adira. Sesaat ketika dia melihat tatapan Adira dia dengan cepat segera memalingkan muka.


“ Ada apa dengan tatapannya? Mata yang memandang penuh harapan itu trik supaya aku mengizinkan. Tapi kalau untuk melarangnya pergi aku punya alasan apa” , batin Zein.


“ Tidak biasanya Aidan memperkenalkan seseorang kepada teman-temannya, mungkin dia memang punya alasan mengundangmu. Kau boleh pergi ”


Mata Adira berbinar mendengar itu dan dia bersorak merayakan dalam hati.


“ Makasih Mas ” balas Adira, lalu dia berbaring membelakangi Zein.


“ Aku tidak menyangka Mas Zein akan mengizinkan ” guman Adira pelan, dia sengaja memunggungi Zein agar bisa menyembunyikan ekspresi senangnya. Sebenarnya Adira juga tidak terlalu tahu apa yang akan dia lakukan jika pergi ke pesta itu, tapi yang membuat dia senang adalah karena Zein memberikan izin padanya dengan mudah berbeda dari biasanya.


Sementara Zein menatap punggung Adira sambil berpikir, dia mulai memikirkan ide untuk menyuruh Adira tidur di kamar lain. Karena Zein merasa akhir-akhir ini dia suka memiliki niat yang aneh ketika berada dekat atau menatap Adira.


Tapi Zein juga bingung harus menggunakan alasan apa, dan bagaimana nanti tanggapan anak-anaknya mengetahui Adira tidur dikamar terpisah. Selama ini dia sudah berusaha menunjukkan image pernikahan yang baik-baik saja, sebagai contoh pada anak-anaknya.


~


~


~


Mengetahui Adira diizinkan untuk ikut ke pesta, sepulang sekolah Aidan menjemput Adira untuk ikut ke basecamp nya. Mereka berdua pun diantar oleh supir keluarga itu.

__ADS_1


“ Aku tidak tahu ternyata basecamp kalian bukan di sekolah ” ucap Adira begitu mereka tiba di depan sebuah rumah kecil yang disebut basecamp oleh Aidan dan teman-temannya.


“ Ini memang bukan didalam sekolah, tapi di sana ada sebuah gang yang ketika dilewati kita akan langsung tiba di depan gerbang sekolah. Semacam jalan pintaslah ” beritahu Aidan.


“ Ohhh ” sahut Adira.


Duar!! Duar!!


Suara ledakan pita menyambut kedatangan Adira ketika masuk ke dalam basecamp itu.


“ Selamat datang di basecamp kami ” teriak mereka serentak.


Adira merasa terkejut dan juga senang dengan kejutan mereka, dia memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasinya.


“ Woww! Aku pikir tadinya penampakan bagian dalam hanya akan seperti rumah biasa tapi ini sangat jauh dari ekspektasiku ” kagum Adira memandangi sekitarnya.


Adira tidak menyangka bangunan yang dari luar nampak seperti rumah biasa ini, ternyata didalamnya di isi dengan beberapa perangkat komputer, barang-barang elektronik lainnya. Dekorasi ruangan yang dipenuhi barang-barang keren yang sangat sesuai untuk anak-anak remaja.


“ Basecamp ini tempat kalian bermain game ya? ” tanya Adira setelah puas melihat-lihat.


“ Benar kami memang menghabiskan sebagian besar waktu luang bermain game di sini ” jawab Eron, sementara dia membereskan beberapa snack di meja yang dikelilingi bean beg sofa yang pasti sangat nyaman.


“ Ahh..iya aku terlalu asik melihat-lihat sampai terlena, gaya dekor basecamp ini sangat bagus ”


Adira kemudian duduk di sofa itu.


“ Andai saja kita sudah dewasa, pasti kita bisa berpesta sambil minum alkohol. Itu pasti sangat menyenangkan ” tukas Rey, sambil mulai duduk santai di sofa itu.


“ Berpesta dengan alkohol bukan hal yang baik. Kau mau jadi pemabuk ” Kevin memperingatkan.


“ Jika aku sudah dewasa aku akan minum alkohol sepuasku, pergi ke bar bertemu dengan wanita-wanita cantik. Tanpa perlu takut akan tertangkap ” lanjut Rey tetap dengan khayalannya.


Merasa Rey sudah terlalu banyak mengoceh Aidan melemparkan popcorn ke arahnya untuk membuat dia diam.


“ Hei! Jangan melempariku seperti itu ” protes Rey.


“ Habisnya dari tadi kau mengoceh tidak jelas terus ”


“ Benar kupingku juga mulai panas mendengar ocehanmu ” timpal Eron.


“ Terserah kalian saja pokoknya itu cita-citaku ” tegas Rey tak mau kalah.

__ADS_1


“ Hahhahhaa cita-citamu aneh sekali ” tawa Adira.


“ Tidak aneh tapi itu keinginan murni seorang laki-laki dewasa menuju kebebasan, Nona Adira sendiri sudah pernah minum alkohol? Bagaimana rasanya? ” tanya Rey antusias.


“ Hah? Hahaha aku juga belum pernah minum alkohol ” Adira tertawa canggung.


“ Apa? Nona Adira juga belum pernah minum alkohol ” ungkap Rey merasa heran.


“ Tentu saja belum pernah, dia juga masih dibawah umur. Nona A seumuran dengan kita kau tidak lupakan ” Aidan bingung kenapa Rey masih bisa bertanya kenapa Adira belum pernah minum alkohol.


“ Kenapa minum alkohol belum legal? Sedangkan berhubungan int*m saja Nona Adira sudah lakukan ” ucap Rey santai.


“ Hei bocah ini! ” geram Kevin, serentak mereka berempat menjitaki kepala Rey.


Adira hanya tertawa mendengar ucapan Rey, baginya itu lucu karena memang jika dipikir-pikir benar juga. Untuk minum alkohol dia dianggap belum cukup umur, tapi menikah dan berhubungan int*m di usia dini tidak ada yang melarangnya.


“ Nona Adira tolong jangan marah, dia ini memang punya mulut yang tidak bisa di jaga ” jelas Anne.


“ Tidak apa-apa aku tahu itu hanya bercanda ” balas Adira santai, karena memang tanpa diberitahu pun Adira bisa langsung tahu bahwa Rey adalah orang yang ceplas-ceplos. Sejak baru pertama bertemu pun itu kesan yang di dapat Adira dari Rey.


“ Kalian tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk bermain game lalu lupa belajarkan ” Adira mengalihkan topik pembicaraan.


“ Ehh..tentu saja tidak, kami bermain game pun juga bukan hanya bermain. Tapi kami mengikuti lomba, jadi itu bukan hanya buang-buang waktu ” bangga Eron sambil menunjuk ke arah medali dan beberapa piala yang terpajang di sana.


“ Baguslah kalau begitu, soalnya aku tahu Aidan pernah kena hukum sampai kamar gamenya ditutup karena dia bermain game sampai lupa waktu ”


Aidan mengaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit malu karena ucapan Adira memang benar.


“ Tapi itu dulu sekarang aku sudah punya tujuan dengan hobiku, aku akan terus berlatih sampai aku bisa menciptakan game buatanku sendiri ” Aidan mengungkapkan keinginannya.


“ Benarkah? Wow itu pasti bagus sekali ” puji Adira.


“ Nona A terimakasih atas pujiannya aku tidak menyangka ada yang mendukung cita-citaku ”


“ Tentu saja aku dukung memangnya apa yang buruk dari itu, cita-cita itu bukan hanya sebatas kita ingin jadi pengawai atau pejabat masih banyak hal lain yang bisa dilakukan ”


“ Aku setuju dengan ucapan Nona Adira ” timpal Kevin.


“ Andai orang tuaku juga berpikir hal yang sama pasti bagus ” lanjut Kevin lagi.


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2