
“ Sampai jumpa Lily Mama berdoa agar Lily selalu bahagia ” ucap Adira lembut.
Setelah beberapa saat Adira melepaskan pelukannya.
Dia berdiri melambaikan tangan ke arah anak-anak itu, kemudian melangkah keluar dia ruang sidang itu meninggalkan mereka. Karena jika terus berada di sini maka perasaan tidak rela untuk berpisah akan semakin besar hingga bisa menggoyahkan niat Adira.
Oleh karena itu Adira segera berlalu pergi dari sana. Mereka semua hanya dapat menatap kepergian Adira tanpa bisa mencegah atau sekadar bertanya kemana gadis itu akan pergi.
Zein bahkan terdiam membeku di tempat Adira mengucapkan perpisahan padanya. Adira bahkan pergi tanpa sedikit pun berbalik melihat ke belakang menunjukkan tekad kuat gadis itu untuk pergi.
Adira menaiki taksi menatap sekilas dari bangunan pengadilan itu. Bukan berpisah dari rumah yang selama ini dia tempati bersama keluarga Brown, tapi mereka semua berpisah di dalam gedung pengadilan itu.
Mengenai bagaimana Adira akan melanjutkan hidup walaupun tidak menerima atau membawa sepeser pun uang atau harta dari keluarga Brown, dia punya rencana sendiri untuk hidupnya.
~
~
~
Adira masuk setelah membeli tiket kereta untuk keberangkatan ke sebuah desa di pinggiran kota. Tempat yang terbilang cukup jauh dari kota ini.
Adira mempunyai seorang sahabat yang tinggal di sana, setelah berhasil menghubungi sahabatnya itu dan meminta bantuan sekarang dia punya tempat lain untuk di tuju setelah pergi jauh dari keluarga Brown.
Memandang pemandangan jalanan yang dilalui kereta api itu, perjalanan yang di tempuh masih berjam-jam. Adira juga harus dua kali berganti kereta untuk melanjutkan perjalanan sesuai jalurnya.
Adira yang mengantuk tertidur selama perjalanan yang melelahkan itu. Lalu dia segera terbangun saat mendengar pengumuman stasiun pemberhentian selanjutnya adalah stasiun yang dia tuju.
Setelah kereta itu berhenti dan orang-orang yang juga ingin turun di stasiun itu berhambur keluar, Adira juga melanjutkan langkahnya keluar dari gerbong kereta api itu.
Dia memandang sekitar mencari-cari sosok sahabatnya itu karena tadi di telpon sahabatnya bilang akan menjemputnya langsung ke stasiun.
Lama Adira mencari sampai akhirnya seseorang segera menghampiri dan memeluknya erat.
__ADS_1
“ Aku sangat merindukanmu Dira ” tukas gadis yang memeluk Adira itu.
“ Aku juga sangat merindukanmu Helen ” balas Adira.
Helena adalah gadis seusia Adira, dulunya Helen tinggal dan bertetangga dengan Adira di desa tempat tinggal Adira dulu. Karena mereka yang seumuran dan juga bertetangga mereka jadi dekat dan menjadi sahabat.
Tapi lebih dari itu ada yang membuat persahabatan mereka lebih erat karena rasa penderitaan dan sepenanggungan yang sama.
Helena hanya dibesarkan oleh Ayahnya, Ibunya sendiri sudah lama meninggal. Tapi Ayahnya memiliki tabiat yang buruk dia pemabuk berat dan saat mabuk pria itu memukuli Helen seperti sebuah benda tak bernyawa.
Helena yang berusaha bertahan akhirnya menyerah pada suatu ketika saat dia hampir benar-benar mati di tangan Ayahnya. Akhirnya dia melarikan diri dari rumah itu tanpa tujuan hingga akhirnya dia bisa memulai kehidupan baru di desa ini.
Adira adalah saksi dari penderitaan gadis itu, dan Helena juga saksi dari penderitaan Adira akibat siksaan orang tuanya. Mereka memiliki nasib yang sama dimana harus menderita dibawah orang tua mereka.
Helena memandangi sahabatnya itu dari bawah sampai ke atas.
“ Apa mantan suamimu itu sangat jahat sampai kau bahkan tak membawa apa pun? Bahkan sehelai baju pun tidak ” Helena merasa prihatin.
Adira memang benar-benar hanya pergi dengan membawa dirinya sendiri.
“ Sudahlah lupakan hal itu maaf aku juga malah mengingatkan luka lama. Sekarang ayo kita pulang aku tahu kau pasti sangat kelelahan ” ajak Helena.
Adira sudah menceritakan setidaknya sebagian besar peristiwa yang dialami Adira hingga saat ini. Bahkan dia sudah memberitahu Helena bahwa dia sedang hamil dan pergi tanpa memberitahu mantan suaminya mengenai kehamilan itu.
Helena mengendarai motor itu dengan membonceng Adira, mereka banyak berbincang mengenai hal-hal yang suka mereka lakukan dahulu. Sambil sesekali tertawa dan juga terharu mengingat kembali nostalgia lama itu.
Hingga akhirnya Helena memarkirkan motornya di depan sebuah rumah kecil sederhana khas pedesaan dengan halaman yang tak terlalu luas tapi dibatasi pagar dan juga dipenuhi bunga-bunga bermekaran.
Melihat itu Adira seakan ditunjukkan sebuah pemandangan yang menunjukkan dia sudah tidak berada di kota lagi.
“ Kita sudah tiba selamat datang untuk selanjutnya ini akan menjadi rumahmu juga ” tukas Helena tersenyum bahagia.
“ Terima kasih Helen kamu mau menerima aku yang hanya bisa menyusahkanmu ” Adira merasa terharu dengan kebaikan sahabatnya itu.
__ADS_1
“ Astagaaa..Dira berhenti mengatakan terima kasih, kau ini sahabatku satu-satunya orang yang aku anggap sebagai keluarga. Jangan pernah bilang kamu menyusahkan aku, jika bukan karena saat itu kamu membantuku kabur dan memberikan uang tabunganmu untukku maka aku tidak akan hidup dan mati di tangan pria itu ” jelas Helena.
“ Jangan berkata seperti itu uang tabungan itu tidak seberapa, aku tidak akan bisa melihatmu di pukuli terus ”
“ Benar tapi karena uang itu makanya aku bisa memulai kehidupan baru di sini. Untuk itu juga kamu harus mulai membuka lembaran baru dan mari lupakan masa lalu kelam itu bersama ”
“ Baiklah mari lupakan itu dan lanjutkan hidup ” teguh Adira menyemangati dirinya.
“ Baiklah masuklah duluan ke dalam rumah, aku akan antarkan titipan seorang tetangga dulu. Nanti kamu juga akan segera aku kenalkan padanya dia wanita yang baik. Oh..iya hati-hati saat melangkah memasuki rumah jangan sampai terpijak kotoran ayam yang bertebaran dimana-mana. Sebelum masuk cek dulu kakimu aman atau tidak ” tegas Helen khawatir rumah akan dipenuhi bau kotoran ayam jika Adira tidak hati-hati.
“ Iyaa ” Adira tertawa pelan mendengar peringatan sahabatnya itu.
Adira melangkah perlahan memasuki rumah, suasana yang sangat sederhana namun sangat nyaman dan juga gambaran rumah yang hangat.
Hati Adira merasa bersyukur setidaknya dia anaknya akan tumbuh di tempat yang hangat seperti ini.
Mengelus lembut perut datarnya Adira ingin menyalurkan perasaan tenang dan hangat itu pada janin yang sekarang tumbuh di tubuhnya.
“ Semua akan baik-baik saja aku berjanji akan menjagamu dengan baik ” gumannya.
Adira membuka jendela rumah membiarkan udara segar pedesaan memasuki rumah itu. Ketika dia memandang keluar jendela dapat dia lihat beberapa orang yang berinteraksi lewat sambil berbincang-bincang akrab. Juga beberapa orang yang lewat menapaki jalan kecil itu sambil mengiring ternaknya, atau seseorang yang lewat sembari mendorong sebuah gerobak yang dipenuhi sayur-sayuran mungkin hasil dari kebunnya.
Suasana yang tidak akan dia jumpai selama dia hidup di kota.
Adira tertawa melihat Helena yang sedang mengejar ayam-ayam yang mengais di sekitar bunga.
“ Ayam-ayam tidak tahu diri ini selalu saja merusak tanaman! ” rutuk Helena ketika melihat Adira yang juga menertawai dia.
“ Benar aku akan bisa memulai hidup baru di sini, aku harap mereka menjalani kehidupan yang baik karena aku akan bahagia untuk itu ” , ucap Adira dalam hati tak bisa dia pungkiri ada sedikit rasa rindu yang timbul di hatinya.
**Oke ini episode terakhir untuk hari ini, besok author lanjut up lagi😁
Mohon bantuannya untuk memberikan hadiah dan Vote untuk novel ini🙏🏻
__ADS_1
Happy Reading 😘**