
Sementara Adira dan Zein yang masih senantiasa terdiam sedari Helena meninggalkan kamar itu.
“ Mas ” “ Dira ”
“ Mas duluan ” “ Kamu duluan ”
Mereka selalu kompak menjawab serempak akhirnya menambah kesan canggung di antara keduanya.
Adira menggaruk pelan lehernya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
“ Kalau..ada yang ingin Mas bicarakan silakan bicara saja ” Adira mengatumkan bibirnya sembari sedikit mengalihkan pandangan dari Zein.
“ Aku tahu mungkin mendengar ini kamu akan merasa tidak nyaman, Adira aku benar-benar berterima kasih karena kamu sudah mau kembali. Walaupun aku tahu aku sama sekali tidak layak mendapatkan kebaikan sebanyak ini darimu. Aku janji Adira akan memulai semuanya dari awal ”
“ Mas...”
“ Iya Dira ” sebenarnya Zein sangat tidak sabar mendengar jawaban Adira.
“ Tadinya aku juga ingin bicara mengenai hal ini, yang Mas tanyakan padaku di rumah sakit waktu itu. Pertanyaan apakah aku mau memulai semuanya kembali dan menikah lagi dengan Mas. Sejujurnya aku ragu dengan keputusan apa yang akan aku ambil. ”
Zein mendengarkan Adira dengan sungguh-sungguh.
“ Berada dalam semua keraguan itu juga tidak membantu sama sekali. Karena itu aku memutuskan untuk kembali tinggal di sini bersama Mas dan anak-anak. Mas..tapi untuk jawaban pertanyaan itu saat ini aku tidak bisa memberikan jawaban. Beri aku waktu untuk meyakinkan diri memutuskan jawaban apa yang aku akan berikan pada Mas ”
Adira merasakan tatapan Zein yang menatapnya lekat hingga dia juga menatap pria itu berharap Zein mengerti dirinya.
“ Rasanya aku seakan tidak sanggup bicara apa pun Dira. Aku sangat berterima kasih karena kamu mau mempertimbangkan hal itu. Aku akan menunggu tidak peduli seberapa lama waktu yang kamu butuhkan karena semua itu tidak sebanding dengan waktu yang aku lalui tanpamu. Saat itu begitu menyesakkan aku bahagia hanya dengan kamu berada di sini Dira ”
“ Sebenarnya aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan itu karena aku ingin menjalani sedikit waktuku dengan kalian. Apakah benar Mas mencintaiku? Apakah benar anak-anak sudah mau menerimaku dengan tulus? Ini egois tapi aku ingin menilai kalian sampai dimana nanti aku yakin bahwa kita bisa menjadi keluarga lagi ”
Suara bayi menangis memecah keheningan sesaat yang tercipta karena Adira yang hayut dalam pikirannya sendiri.
“ Ya ampun aku lupa dia pasti kehausan ini sudah hampir 1 jam lebih dari saat terakhir dia minum susu tadi ” Adira menurunkan kakinya cepat dari ranjang namun Zein segera menahan dia.
“ Kamu tidak ingat dokter bilang jangan bergerak tiba-tiba seperti itu. Biar aku yang menggendong dia ke sini ”
__ADS_1
“ Ah..baik Mas ” akhirnya Adira kembali membenarkan posisi duduknya dengan kaki terlentang di ranjang. Dia memperhatikan Zein yang sudah berada di dekat box bayi.
“ Mas ” panggil Adira serius karena sedari tadi Zein tidak kunjung membawa bayinya padahal bayi itu masih terus menangis.
“ Ada apa Mas? ”
“ Dira bagaimana ini sepertinya aku tidak bisa menggendong bayinya ” tutur Zein dengan polosnya dan juga kegugupan yang nampak jelas dari wajahnya.
“ Hah? Tidak bisa kenapa Mas, baiklah biar aku saja ”
Adira bergerak turun perlahan dari ranjang agar Zein tidak khawatir dan dia berjalan menghampiri pria itu. Adira melihat tangan Zein yang gemetaran sementara pria itu masih nampak berusaha untuk menggendong anak mereka.
“ Oh..cup cup sini di gendong Mama ya ” Adira menimang-nimang bayinya untuk menenangkan tangisan bayi itu.
Dia ingin bertanya kenapa Zein tidak bisa menggendong bayinya tapi Adira memilih untuk mengutamakan memberikan asi terlebih dahulu pada bayinya.
Adira duduk dengan posisi nyaman di pinggir ranjang bersiap untuk menyusui.
“ Hmm..Mas bisa berbalik membelakangi selama aku menyusui dan tolong pastikan pintu kamar terkunci ”
Setelah memastikan pintu kamar terkunci Zein masih dengan posisi membelakangi Adira.
“ Dira kenapa aku harus membelakangi kamu? Ditutupi pun aku sudah pernah melihat semuanya ”
“ Ihh..Mas pokoknya tetap berbalik selama aku menyusui untuk seterusnya juga. Kita kan bukan pasangan suami istri, aku tidak mau ada kontak fisik sampai kita menikah lagi nanti. Mas harus ingat batasan itu aku tidak bercanda ”
“ Iya aku akan berusaha sekuat tenaga. Semoga saja aku kuat menahan semua pesona mu, saat kamu begitu cantik ada di depanku tentu bukan hal yang mudah untukku. Jadi aku mohon pengertianmu sedikit ya ”
“ Itukan urusan Mas, bagiku yang terpenting Mas tidak melanggar aturan itu ”
“ Baiklah ” desah Zein pasrah.
Yang sebenarnya Zein tidak ketahui karena tidak melihat betapa pipi Adira bersemu merah karena rasa malu dirinya harus menyusui di dalam satu ruangan yang sama dengan Zein. Itu saja sudah membuat Adira seperti itu apalagi jika dia tidak melarang Zein untuk melihatnya maka dia tidak tahu akan semerah apa wajahnya nanti.
Tapi melihat Zein yang masih setia membelakangi dirinya membuat Adira tersenyum senang karena pria itu bersabar dan mau mendengarkan ucapannya sekarang. Berbeda dengan dulu sekarang menurut Adira Zein sudah lebih terbuka untuk menerima pendapat dan keinginan Adira juga tidak selalu memaksakan kehendak lagi.
__ADS_1
Terutama Zein juga memperlakukan Adira dengan sangat lembut seolah Adira adalah sebuah kaca yang jika terjatuh atau tergores akan pecah. Zein menjaga dia sehati-hati itu.
“ Anak Mama sudah kenyang ya baguslah ” Adira mengelus pelan pipi bayi kecil yang masih nampak kemerah-merahan yang berada dalam dekapannya itu.
Zein menarik napas lega mendengar itu.
“ Apa sekarang aku sudah bisa berbalik? ” tanyanya tak sabaran.
“ Tu-tunggu sebentar Mas ” Adira segera memperbaiki posisi pakaiannya.
“ Sudah ”
Zein membalikkan tubuhnya lalu mendekat ke arah Adira dan duduk juga di tepi ranjang.
“ Dia sudah kembali tertidur ya ” Zein tersenyum kecil melihat bayi kecil itu terlelap.
“ Benar, Mas ingin coba menggendong dia ” Adira menawarkan.
Mata Zein segera membulat sempurna mendengar itu.
“ Apa Mas merasa takut untuk menggendongnya? ” gerakan gugup dan sedikit bergetar nampak nyata dari tubuh Zein.
“ Sudah lima tahun semenjak aku tidak pernah sama sekali menggendong bayi. Bayi terakhir yang aku gendong adalah Lily, setelah mencoba menggendong bayinya tadi tiba-tiba aku merasakan takut dan gugup secara bersamaan. Tubuhnya yang kecil membuatku takut akan melukai dia ”
“ Hahahahahaha benarkah? Mas merasa seperti itu? ”
Zein menganggukkan kepalanya.
“ Ah..maaf Mas aku bukan bermaksud menertawakan Mas. Tapi selama ini aku selalu berpikir Mas pasti bisa melakukan semuanya baik mengurus bayi atau semacamnya. Karena Mas sudah lebih berpengalaman, tapi tidak di sangka Mas juga bisa gugup juga ”
“ Tentu saja aku tidak ahli dalam segalanya. Melihat bayinya yang begitu kecil tubuhku langsung bergetar hebat ”
“ Aku mengerti ” ucap Adira tersenyum tulus mendengar Zein yang menjelaskan dengan serius.
Happy Reading 😘
__ADS_1