
Aidan dan Noah hanya bisa memandang iba dan kasihan kepada Nadia, karena sudah berulang kali mereka menyaksikan saudara perempuannya itu menangis seperti itu.
“ Nadia ” lirih Adira mengepal tangannya kuat berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terbawa suasana.
“ Tidak ada gunanya menangisi hal yang telah berlalu...aku sudah melupakan semuanya. Begitu juga kalian seharusnya tak perlu mengingat masa lalu lagi. Lanjutkan hidup kalian dengan baik ”
Adira menahan ekspresinya agar tetap tenang.
“ Hikss..ta-tapi tidak bisa...semuanya tidak bisa melupakanmu aku harus bagaimana...kamu bahkan datang menonton musikalku...menulis memo-memo itu...kenapa melakukan..hikss..itu a-aku selalu jahat padamu ”
Aidan mendekat dan merangkul Nadia yang sedang menangis, mendekap erat saudara perempuannya itu. Semakin lama waktu berlalu Aidan sadar itu semua terjadi bukan karena kesalahan Nadia, saat itu gadis itu juga terombang-ambing di dalam keadaan yang sulit itu.
“ Saat itu mungkin aku hanya melakukan layaknya seorang yang mendapat posisi sebagai ibu di rumah itu...anehkan sepertinya aku terlalu mendalami peran yang sebenarnya bukan milikku, aku minta maaf untuk semua itu ” lirih Adira.
“ Tidak tempat itu memang milikmu, kamu memang ibu kami. Karena itukan kamu masih menyayangi kami walaupun selama ini kami tidak menghargai usahamu ” sangkal Noah.
“ Tidak ada gunanya membahas hal itu sekarang ” Adira menghela napas panjang.
“ A-aku akan pergi dari rumah..sebentar lagi aku akan pergi kuliah ke luar negeri..aku mohon kembalilah ke rumah ” Nadia menatap Adira dengan mata sembab yang memohon.
Lagi-lagi dan lagi Adira melirik marah ke arah Noah, bukannya dia sudah menegaskan bahwa dia tidak akan kembali walaupun mereka mengatakan akan meninggalkan rumah.
Aidan juga terkejut dengan perkataan Nadia karena sebelumnya dia tahu Nadia tidak pernah ada niatan untuk kuliah di luar negeri. Yang punya keinginan itu justru Aidan.
“ Apa kuliah di luar negeri adalah keinginanmu? Atau hanya karena pikiran aku yang akan kembali ke rumah itu jika kau pergi? ” tanya Adira serius.
Tanpa menjawab pun Adira tahu dari reaksi gadis itu dia tidak ingin kuliah di luar negeri, itu hanya karena dia ingin Adira akan kembali.
“ Aku pasti sangat jahatkan..sampai kalian semua mengatakan akan pergi dari rumah kalau aku kembali, bukan begitu Noah? Apa menurut kalian aku akan bahagia dan berpesta dengan pikiran sudah berhasil mengusir kalian pergi dari rumah. Menikmati hidup di rumah itu sebagai Nyonya, pandangan kalian tentang aku seperti itu kan. Oleh karena itu kalian mengatakan hal yang sama ” tutur Adira tak habis pikir.
“ Apa maksudnya? ” ungkap Aidan bingung dengan situasinya, ketika dia memandang Noah untuk meminta jawaban Kakaknya itu segera memalingkan wajah.
“ Jangan bilang tebakanku benar, Kak Noah sudah pernah datang ke sini dan mengatakan tawaran yang sama seperti Nadia ”
__ADS_1
“ Astaga...” sesal Aidan mengetahui hal yang dilakukan Kakaknya. Ternyata saudara-saudaranya itu belum sadar sama sekali dengan sifat Adira. Adira tidak akan pernah kembali jika mereka semua mengatakan akan pergi dari rumah itu.
“ Aku pikir mereka berdua terlalu frustasi karena tidak punya cara untuk membujuk Nona A kembali, makanya mereka jadi menawarkan hal seperti itu. Nona A pasti tahu sifat mereka berdua kan ” Aidan mencoba menjelaskan lagi kepada Adira bahwa niat Noah dan Nadia tidak bermaksud buruk.
“ Untuk apa kalian memohon seperti ini padaku? Pernikahan yang sudah berakhir itu adalah antara aku dan Mas Zein, bagaimana pun kalian meminta aku kembali tetap saja aku dan Mas Zein sudah bercerai. Tidak ada lagi hubungan yang mengikat aku dengan Mas Zein atau pun dengan kalian. Jadi hentikan semua ini ”
“ Lalu bagaimana dengan bayi yang kamu kandung? Bagaimana pun bayi itu tetaplah anak Daddy, tidak mungkin hubungan darah bisa di sangkal ”
“ Tidak, ternyata kalian semua sudah salah paham. Anak ini bukan anak Mas Zein, ini anakku dengan suami keduaku ” Adira segera membantah ucapan Aidan.
“ Apa? Itu tidak mungkin. Daddy sendiri yang bilang bahwa..” Noah nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“ Aku tahu dan Mas Zein juga mengatakan hal itu padaku, tapi aku yang tahu siapa ayah anakku bukan orang lain. Tidak perlu merasa bersalah atau bertanggung jawab padaku, karena anakku tidak punya hubungan apa pun dengan kalian ”
Aidan menggelengkan kepala pelan, anak yang dikandung Adira adalah harapan terakhir mereka agar setidaknya Adira memiliki alasan untuk kembali.
“ Hei! Kenapa kalian jadi menyudutkan Adira seperti ini? Apa salah jika dia menikah lagi setelah bercerai? Dengan mudahnya mengatakan keponakanku seperti itu, dengar ya keponakanku bukan milik kalian ” rutuk Helena geram.
“ Apa mereka sudah bisa diusir? ” tanyanya kepada Adira.
“ Kenapa? ” protes Helena memandang sinis kepada Nadia.
“ Kita tidak pernah memperlakukan tamu seperti itu Helen, dan sekarang mereka datang bertamu ke rumah ini ”
“ Tamu apanya? Mereka bukan tamu tapi penganggu. Sesusah itu untuk membiarkan kamu hidup tenang ”
Helena masih bersungut-sungut karena merasa Adira terlalu baik.
“ Sudahlah...memaksa mereka pergi juga tidak akan mengubah apa pun ” lirih Adira lalu beranjak dari duduknya.
“ Ini masalahnya karena gadis itu terlalu baik, sampai kalian sesukanya berbuat jahat padanya ” sinis Helena lalu meninggalkan anak-anak itu.
“ Kak...kita harus bagaimana lagi ” guman Nadia dengan suara parau.
__ADS_1
“ Aku juga tidak tahu ” balas Noah singkat.
“ Lagian kalian juga mengapa tidak mau paham, Adira akan sangat marah jika mendengar kalian mengatakan ingin pergi dari rumah kalau dia kembali. Sejak awal dia berusaha menyatukan keluarga kita bukan malah memecahnya ” Aidan menjelaskan itu lagi kepada Noah dan Aidan.
“ Kalau begitu jangan hanya duduk di sini, atau wanita bernama Helena itu akan datang mengomeli kalian ” lanjut Aidan lalu dia juga beranjak bermaksud menyusul Adira.
~
~
~
Adira menyimpan kembali ponsel itu di sakunya tidak menyangka dia benar-benar akan melakukan itu.
Lalu dia mulai membuka lemari pendingin mengeluarkan beberapa bahan masakan dari sana.
“ Apa aku boleh membantu? Hanya duduk diam di sana membuatku semakin tidak nyaman ” ucap Aidan menghampiri Adira.
“ Tidak perlu aku hanya memasak sebentar, kau duduklah di sana lagi ” tolak Adira.
“ Wanita itu akan memarahi kami dengan sangat baik nanti, tolong ya aku tidak mau kena marah lagi ” Aidan berusaha membujuk Nadia.
“ Baiklah..kau bisa mencuci sayuran yang ada di sana ” Adira menunjuk ke arah wastafel di sana sudah ada beberapa ikat sayuran.
“ Aku juga ingin membantu ” pinta Nadia yang baru datang ke dapur itu.
Adira menatap heran mengapa tiba-tiba gadis itu juga datang ke dapur.
“ Apa Helena memarahi mereka lagi? ”
“ Ya sudah, kamu bisa memotong bawangkan ” Adira menyerahkan mangkok berisi bawang itu pada Nadia.
Nadia segera mengangguk bersemangat.
__ADS_1
Happy Reading 😘