Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Memeluk Guling


__ADS_3

“Mas kalau boleh tahu siapa wanita tadi? ” tanya Adira karena dia juga penasaran mengapa wanita yang bahkan tidak dikenalnya itu bisa membencinya secara tiba-tiba.


Zein juga masih menatap kepergian wanita itu.


“ Ibu mertuaku ” jawabnya singkat. Adira yang mendengar itu hampir saja mengalami serangan jantung.


“ Tunggu berarti Nyonya itu neneknya anak-anak Mas. Apa Mas tidak tahu sedari tadi dia menatapku dengan penuh kebencian. Dan tentu saja dia tidak menyukaiku ” panik Adira begitu mengetahui alasan pasti mengapa wanita itu memusuhinya.


“ Jangan terlalu banyak menduga ”


“ Itu bukan hanya dugaan Mas, buktinya tadi perkataan Nyonya itu sudah menunjukkan segalanya ” Adira bahkan tidak bisa membayangkan perasaan wanita itu.


“ Dia marah padaku bukan padamu. Memangnya ada alasan sampai ibu mertuaku marah padamu ” bantah Zein.


“ Ada...bagaimana bisa seorang ibu bertemu dengan seorang wanita yang mengantikan posisi anak perempuannya. Mengapa Mas tidak bisa mengerti dan memikirkan hal itu? Atau setidaknya beri aku peringatan bahwa akan bertemu dengan ibu mertuamu. Jadi aku bisa bersikap tahu diri ”


“ Hentikan protes tidak beralasanmu itu ” Zein mengabaikan semua penjelasan panjang lebar dari Adira.


Adira hanya bisa diam dan mengikuti Zein, sebenarnya saat ini Adira berada di puncak batas kesabarannya sehingga selama dalam perjalanan dia hanya diam tak mau bicara dengan Zein.


“ Ini sudah pukul 12 malam aku tidak ingin mengganggu waktu tidur anak-anak. Jika kita teruskan perjalanan juga masih jauh, kita akan menginap di hotel malam ini ”


Adira mendengarkan perkataan Zein tapi dia hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sampai mereka tiba dihotel tempat mereka akan menginap pun Adira hanya mengikuti Zein tanpa perlu bertanya apa pun pada pria itu.



Adira memandangi sekitar kamar hotel itu, lalu ketika membuka lemari hotel dan menemukan selimut dia segera mengambilnya untuk segera tidur di sofa yang ada dikamar itu.


Zein melihat Adira yang akan berbaring di sofa itu.


“ Tidurlah di ranjang ” ucapnya karena tidak tega membiarkan Adira yang menggunakan gaun seperti itu harus tidur di sofa sempit yang sangat berbeda dengan sofa yang berada di kamar mereka.


“ Aku tidak masalah tidur di sini Mas ” tolak Adira.


“ Selagi aku masih menyuruhmu pindah dengan kakimu sebaiknya lakukan atau...” Zein menghentikan ucapannya sejenak.


“ Kau ingin aku melemparkanmu ke atas ranjang itu ” lanjutnya.


Adira merasa kesal tapi mendengar ancaman Zein dia memutuskan mengalah. Zein membuka jas dan kemejanya lalu segera naik ke atas ranjang.

__ADS_1


Adira yang sudah berbaring dan merasa ranjang itu bergerak menegakkan tubuhnya kembali. Dia sedikit terkejut melihat Zein yang berada diatas ranjang itu apalagi dengan bertelanjang dada.


“ Mas juga akan tidur disini? ”


“ Tentu saja menurutmu aku harus tidur dimana lagi ”


“ Baiklah aku akan tidur di sofa ”


“ Kau tidak mendengar perkataanku tadi ” ucap Zein penuh penekanan.


“ Lalu Mas mau kita tidur seranjang? Mas..aku sedang tidak ada tenaga untuk berdebat ” lirih Adira.


“ Kalau begitu hentikan ocehanmu dan tidur saja ” tegas Zein.


“ Apa dia benar-benar bermaksud mengajakku tidur seranjang? Apalagi dengan penampilannya yang seperti ini ” , rutuk Adira dalam hati.


“ Aku mohon pengertiannya Mas, berjanjilah walaupun kita tidur seranjang Mas tidak akan melakukan hal yang macam-macam padaku ” Adira berusaha tetap menjaga keselamatannya.


“ Kau pikir aku tertarik menyentuhmu ” kesal Zein tidak menyangka Adira akan berpikir begitu padahal niat Zein baik.


“ Kalau tidak begitu kita tidak akan menikah ” sindir Adira.


Zein memutuskan untuk menahan perkataannya.


“ Mengocehlah terus sampai nanti aku menyumpal mulut berisikmu itu ” Zein segera memadamkan lampu kamar itu.


Adira menarik selimut menutupi tubuhnya sejujurnya tidur dengan memakai gaun seperti ini sangat tidak nyaman. Tapi karena rasa lelah dan ngantuk yang menyerang Adira akhirnya terlelap tidur.


~


~


~


Pagi itu mata Adira sedikit mengerjap merasakan geli di tengkuknya seolah ada hembusan napas hangat yang tepat berembus di tengkuk lehernya. Karena masih mengantuk sebagian alam bawah sadar Adira memilih untuk mengabaikan hal itu, tapi kesadarannya yang lain memberi dia semacam peringatan yang membuat dalam hitungan detik Adira segera tersadar dari tidurnya.


Ketika berniat bangun dia merasakan lengan kekar yang memeluk pinggangnya erat. Menoleh ke belakang Adira bisa melihat wajah Zein yang hampir menempel di tengkuknya dan bagaimana pria itu memeluk tubuhnya.


“ Semalam jelas dia yang mengatakan tidak akan menyentuhku ” guman Adira pelan takut jika dia berontak Zein akan marah dan malah menyalahkan dia.


Memberanikan diri secara perlahan Adira mulai berusaha melepaskan tangan Zein yang melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


“ Kau tidak bisa diam ” dengan suara baritton khas bangun tidur Zein mengucapkan kata itu. Adira segera menoleh dan melihat pria itu masih menutup matanya.


“ Apa Mas Zein hanya sedang mengigau ” terka Adira.


“ Diamlah Adira ” hembusan napas Zein ketika mengucapkan kata itu membuat tubuh Adira meremang. Dan untuk pertama kalinya dia mendengar suaminya itu memanggilnya Adira menyebutkan namanya secara langsung.


Menerima peringatan yang terasa mengancam itu tubuh Adira seketika membeku dia tidak bergerak sama sekali.


“ Sebenarnya Mas Zein..me-mengapa bertingkah aneh seperti ini ”


Cukup lama mereka berdua terdiam dalam posisi itu, hembusan napas Zein juga terdengar teratur yang membuat Adira nyakin pria itu memang masih tertidur seperti perkataannya yang bilang masih ingin tidur.


Adira tetap dengan hati berdebar dia bahkan mengepal tangannya sangking tidak nyamannya dengan posisi itu.


Deggg!!


Jantung Adira serasa berhenti saat merasakan bibir Zein yang mengecup pelan tengkuknya.


“ Kau sedang apa menyingkir dari sini ” ucap Zein sesaat kemudian. Ternyata karena merasa terkejut Adira sampai tidak sadar Zein telah melepaskan pelukannya.


“ Hufft ” napas berat Adira ketika akhirnya dia bisa bebas. Dia mengusap tengkuknya sebentar untuk memastikan apa dugaannya benar atau salah. Tapi dia benar-benar merasakan bibir Zein yang menempel sesaat di tengkuknya. Apa Zein sengaja menciumnya?


Adira masih tak habis pikir dengan tindakan Zein, sementara pria yang telah membuat dia merasa kacau itu malah dengan santainya memakai kembali kemejanya.


“ Kenapa Mas melakukan hal itu? Bukannya Mas tahu kesepakatan kita ” ungkap Adira masih tak bisa menerima sikap tenang Zein, dimana Adira merasa Zein memperlakukan dia sesukanya.


“ Melakukan apa? ” Zein malah balik bertanya.


“ Mas memelukku lalu-


Adira sangat ingin mengucapkan bahwa Zein juga mengecup tengkuknya. Tapi dia takut hal itu hanya salah sangka semata.


“ Aku biasa tidur dengan guling dan disini tidak ada guling. Aku hanya menganggap memeluk guling yang biasa ada dikamarku. Itu tidak merugikanmu sama sekali kan ” tukas Zein.


“ Ti-tidak merugikan ” telinga Adira serasa panas mendengar kata itu.


“ Mas menyentuhku sesukamu seolah aku ini murahan, dan itu tidak merugikan aku ” kesal Adira.


“ Coba periksa tubuhmu ada bekas sentuhanku tidak. Lagi-lagi sepertinya kau harus mulai bisa membedakan mana yang hanya tidur dan meniduri ” ucap Zein dengan penekanan di akhir.


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2