
“ Aku tahu rokok itu bisa mengakibatkan kecanduan dan itu tidak baik untuk kesehatan. Karena itu aku tidak suka Mas terus merokok ” tutur Adira jujur.
Zein merasa tidak sanggup melihat wajah Adira yang meminta dengan polos itu. Wajah yang membujuk dengan lembut membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan segera melaksanakan apa pun yang diminta gadis itu. Bola mata hitam yang menatap dalam seolah ingin menyampaikan niatnya. Membuat Zein bingung.
Dengan cepat Zein mengecup bibir Adira yang sedari tadi berbicara dan menarik perhatian Zein membuat dia sangat penasaran akan seperti apa rasa bibir itu nantinya.
Tubuh Adira membeku matanya terbuka lebar mendapat serangan tiba-tiba dari Zein, dia segera mendorong Zein dengan tangannya. Tapi pria itu dengan sigap menahan tangan Adira, menahan tengkuk Adira dengan tangannya yang lain.
Membuat Adira tidak bisa menjauh dan lembut Zein menyesap pelan bibir Adira menutup matanya menikmati saat dia merasakan betapa lembut dan manisnya rasa gadis itu.
Adira yang awalnya menutup mulutnya rapat setelah menerima gigitan dan sesapan yang mengundang dari Zein tak bisa menahan dan akhirnya membiarkan pria itu leluasa mengabsen setiap yang ada disana, Zein seakan mabuk dan terus memperdalam ciuman itu.
Tubuh Adira bergetar hebat ketakutan menjalari seluruh tubuhnya tahu hal apa yang akan dilakukan pria itu jika ini tidak dihentikan.
Zein seketika tersadar ketika merasakan tubuh Adira meringkuk dan bergetar. Dia kemudian melepaskan pangutan itu. Dia melihat mata Adira memerah dengan air mata menggenang.
“ Bodoh sekali aku sampai bisa melakukan hal itu ” , sesal Zein dalam hati merutuki kebodohan dirinya karena tidak bisa mengendalikan diri dan ke lewat batas.
Adira memukuli dada Zein walaupun tidak dirasakan sama sekali oleh pria itu karena Adira gemetaran hebat.
Zein diam saja dan mendekap kepala Adira ke dalam dadanya.
“ Tenanglah aku tidak akan melakukan hal itu lagi ” ucap Zein seolah berjanji pada dirinya sendiri.
Sementara Adira menangis tanpa suara dalam dekapan Zein, dan Zein berusaha menenangkan gadis itu dengan memberi pelukan dan kecupan-kecupan kecil di pucuk kepalanya.
Bergelut dengan perasaan masing-masing akhirnya mereka berdua terlelap tidur setelah peristiwa yang menyerang pertahanan mental masing-masing.
~
~
~
__ADS_1
Adira terbangun sendiri di kamar itu nampaknya Zein telah pergi meninggalkan dia sendiri di sana. Lagian apa yang bisa dia harapkan jika langsung bertemu dengan Zein setelah peristiwa malam itu.
Adira memegangi bibirnya seolah masih merasakan bibir Zein yang menempel dan menyesap nya di sana. Air mata kembali menggenang memenuhi mata Adira sehingga bulir-bulir air itu berjatuhan begitu saja tak dapat ditahannya.
“ Aku tahu dia bahkan sudah pernah melakukan hal yang lebih parah dari berciuman pada tubuhku...tapi dia sendiri yang mengatakan itu hanya kesalahan yang tidak bisa dia elakkan. Dia sendiri yang mengatakan tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama. Lalu untuk apa dia harus meninggalkan rasa trauma padaku lagi? ” tangis Adira.
“ Kejadian itu benar-benar sudah hilang dari ingatanku, lalu mengapa sekarang dia malah memberikan ingatan buruk lagi padaku...aku bukan wanita yang bisa dia tinggalkan begitu saja dan selalu dianggap kesalahan ” Adira menangis nasib dirinya. Ketika dia dan Zein membicarakan kesepakatan waktu itu dengan tegas Zein mengatakan menyentuh Adira hanyalah kesalahan yang tidak akan pernah dia ulang lagi.
Tiba-tiba pria itu mencium Adira sesukanya, apa dia berpikir kali ini juga itu hanya kesalahannya. Adira akan selalu dianggap gadis yang bisa disentuh sesukanya dan dengan mudah meninggalkan Adira karena itu semua hanya kesalahan.
Adira menangis karena hal itu, begitu juga dia ketakutan Zein akan menyentuhnya lalu pergi begitu saja meninggalkan dia.
~
~
~
Melihat bagaimana gadis itu menangis sudah dipastikan harga diri Adira terluka karena perbuatan Zein.
Tapi Zein sama sekali tidak memikirkan akibat itu, saat mencium Adira yang ada di pikirannya adalah betapa saat itu Adira sangat menggoda baginya. Bagaimana ekspresi wajah Adira yang membuat Zein merasa kacau dan seberapa keras pun dia berusaha untuk menjauh dari Adira, gadis itu selalu membuatnya tidak bisa menjauh.
Merasa sangat frustasi Zein membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan sebungkus rokok dari sana. Menyelipkan sebatang rokok di mulutnya ketika akan menyalakan rokok dengan korek miliknya. Tiba-tiba saja Zein teringat permintaan Adira yang mengatakan agar Zein berhenti merokok.
Dengan cepat Zein mengeluarkan rokok itu dari mulutnya, dan membuang rokok itu ke tempat sampah. Begitu juga dengan sisa rokok yang masih ada di bungkusnya itu sekaligus Zein buang.
“ Aku harus bahkan tidak akan bisa melihat wajahnya lagi. Pastinya dia akan menatapku dengan tatapan benci karena sudah bertindak sesukaku ” Zein terus dibayangi rasa khawatirnya.
~
~
~
__ADS_1
Adira benar-benar merasa kalut dia keluar kamar dengan malas tak bersemangat sama sekali.
“ Perhatikan jalanmu Nona A ” tegur Nadia karena Adira hampir saja menabraknya.
Adira memandang Nadia dari atas sampai bawah, dia sedikit takjub melihat gadis itu berdandan dengan gaun dan hiasan layaknya seorang bangsawan Eropa zaman dulu.
“ Kau akan pergi kemana? ” tanya Adira penasaran.
“ Hari ini aku akan tampil di festival sekolah ” Nadia menjawab singkat, dia nampak sangat sibuk mempersiapkan barang-barang yang perlu dia bawa. Mulai dari mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan dan menata kembali isi tas yang akan dia bawa.
Adira berhenti sejenak di sana untuk sekadar memastikan Nadia tidak akan meninggalkan sesuatu yang mungkin dia butuhkan.
“ Tiket ini buang sajalah lagian tidak akan ada yang pergi juga ” guman Nadia tak bermaksud mengatakan hal itu pada Adira, dia hanya sedang berbicara sendiri. Tapi Adira dapat mendengar ucapan gadis itu.
“ Pak ayo kita berangkat sekarang ” teriak Nadia memanggil supir yang akan mengantarnya ke sekolah, berlalu pergi meninggalkan Adira tanpa perlu berpamitan seolah menganggap Adira tidak ada di sana.
Adira mengambil tiket yang di buang tadi oleh Nadia dari tempat sampah. Membaca dengan seksama tulisan yang ada di tiket itu.
“ Inikan tiket khusus untuk orang tua ” ucap Adira, maksudnya di sini tiket itu adalah tiket khusus yang disediakan oleh sekolah untuk orang tua yang akan hadir untuk menyaksikan penampilan drama anak-anak mereka.
“ Apa maksudnya tidak akan yang pergi, karena Mas Zein tidak bisa pergi ke sekolah untuk menyaksikan penampilannya ” ucap Adira masih bingung, untuk memastikan dia akhirnya bertanya pada seorang pelayan yang dapat dia percaya.
“ Benar Nyonya tidak ada satu pun yang bisa menyempatkan waktunya untuk menyaksikan penampilan drama musikal Nona Nadia ” jelas pelayan itu.
“ Mengapa begitu padahal dia sudah banyak berlatih setidaknya pasti dia mengharapkan ada anggota keluarganya yang menyaksikan penampilannya ” ucap Adira simpati.
**Author mohon bantuannya agar teman-teman mau menyempatkan waktu untuk memberikan like, komen, hadiah, dan vote untuk novel ini agar performa novel meningkat.
Untuk memberikan hadiah buka detail novel, klik hadiah lalu teman-teman pilih mau memberikan hadiah apa ( Seperti yang terlihat pada foto dibawah). Begitu juga dengan vote. Karena kalau performa novel ini tidak meningkat tidak akan lulus kontrak, author mohon bantuannya 🙏🏻
Happy Reading😘**
__ADS_1