
Zein diam tak mampu menjawab apa pun untuk menanggapi Helena.
“ Memang tidak semua orang ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang selalu membahagiakan, ada kalanya itu merupakan masa penderitaan terberat. Tapi sepertinya Dira tak beruntung untuk hal itu, karena kekejaman orang tuanya dia secara tidak langsung dijual kepada Anda layaknya sebuah barang. Karena alasan itu juga Anda bisa menikah dengan Adira kan? ”
“ Benar ” jawab Zein dengan begitu beratnya harus mengakui hal itu.
“ Menikah..dengan awal dan akhir yang menyakitkan Anda seharusnya bisa membayangkan penderitaan yang tidak ada habisnya untuk dia. Tidak tahu apa yang dia alami selama hidup dengan Anda, tapi tentu saja tidak baik sampai Dira memutuskan untuk pergi jauh dari kalian. Aku berharap dengan tinggal di desa ini dia akan terlepas dari bayang-bayang masa lalunya, nyatanya cukup sulit karena terkadang Dira sendiri mengatakan dia merindukan anak-anak Anda. Bisa Anda bayangkan itu? ”
“ Aku saja sampai tak habis pikir mengapa dia masih bisa merindukan anak-anak yang tidak mengharapkan kehadirannya? Bahkan sekali pun dia tidak pernah mengatakan hal buruk tentang keluarga kalian. Jika aku yang mengalami hal itu maka setiap hari aku pasti sudah mengutuki kalian ”
Rasa bersalah itu semakin besar dalam diri Zein karena benar dia tidak ada hentinya memberikan penderitaan pada Adira.
“ Sekarang bahkan dia harus menghadapi ancaman dan ketakutan hanya untuk keinginannya melahirkan bayinya dengan selamat, mengapa semua hal-hal buruk itu seolah hanya ditujukan padanya? Rasanya hidup ini sangat tidak adil untuk Dira entah kapan dia bisa bahagia ”
“ Aku mengatakan ini semua pada Anda agar setidaknya Anda menurunkan sedikit rasa ego Anda dan biarkan Dira memutuskan hal apa yang dia inginkan untuk hidupnya dan juga bayinya. Aku harap Anda memahami itu, sebaiknya Anda kembali ke kamar Dira sekarang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengizinkan Anda menginap karena sepertinya Dira membutuhkan Anda untuk saat ini. Tapi jangan pernah melewati batas aku akan mengawasi Anda ” ucap Helena akhirnya sebelum dia memisahkan diri dan masuk ke kamarnya.
Zein menghela napas pelan di depan pintu kamar Adira, sebelum akhirnya dia masuk ke kamar itu. Ternyata Adira juga masih tidur.
Tring....tring...tringg...
Ponsel Zein berbunyi dan dengan cepat dia menjawab panggilan itu sebelum Adira terganggu karenanya.
“ Bagaimana keadaan Adira Daddy? ” suara Noah yang bertanya tanpa basa-basi di dengar Zein dari ponsel itu.
“ Sudah lebih baik Adira sedang istirahat sekarang, bagaimana Lily? Apa dia sudah tidur? ”
“ Tadi Lily sempat mencari Daddy tapi aku sudah menenangkan dia dan dia juga sudah tidur satu jam yang lalu. Apa Daddy akan pulang? ”
“ Tidak aku akan menjaga Adira sampai dia membaik ”
“ Baguslah ” balas Noah singkat.
“ Iya Daddy titipkan Lily padamu dulu ”
__ADS_1
“ Daddy tenang saja, kalau begitu aku tutup telponnya ” Noah mengakhiri panggilan itu.
• • •
“ Apa itu telpon dari anak-anak? ” tanya Adira pelan, Zein langsung membalikkan badannya menghadap Adira.
“ Kamu jadi terbangun, Noah menelpon untuk memberitahu Lily sudah tidur ”
“ Mengapa tidak pulang Mas? Siapa yang menjaga anak-anak nanti? Sebaiknya Mas pulang kasihan mereka ”
Entah mengapa hati Zein terasa sakit mendengar ucapan Adira yang masih memperhatikan dan mengkhawatirkan anak-anaknya meskipun mereka telah bercerai. Dia tidak menyangka sikap Adira tidak berubah sama sekali. Itu semakin memperjelas ketulusan yang diberikan Adira selama ini pada keluarganya.
“ Noah ada di sana untuk menjaga Lily, sementara Aidan dan Nadia baik-baik saja mereka bisa mengurus diri dengan baik ”
“ Tapi Mas harusnya tahu..di masa sekarang justru Aidan dan Nadia harus diperhatikan lebih mereka masih labil bisa saja terpengaruh hal-hal yang tidak baik oh...astaga maaf Mas sepertinya aku kurang memikirkan perkataanku tidak seharusnya aku menasehati Mas tentang ini ”
“ Baiklah aku akan lebih memperhatikan mereka terima kasih atas saranmu ” Zein tahu Adira langsung menarik diri, karena Zein sendirilah yang membatasi wanita itu untuk tidak ikut campur masalah mendidik anak-anaknya. Zein baru sadar jika Adira bahkan lebih baik dalam mendidik anak-anak daripada Zein sendiri.
“ Apa kamu butuh sesuatu? ” tanya Zein cepat begitu melihat pergerakan Adira seolah sedang ingin meraih sesuatu.
Zein segera mengisi gelas yang ada di sana dan membantu Adira minum.
“ Ada lagi yang kamu butuhkan? ”
“ Sebaiknya Mas panggil Helena saja kemari untuk menjagaku lalu Mas pulang saja ”
“ Aku tidak akan pulang sampai kondisimu membaik Adira, apa kamu sebegitu tidak nyamannya dengan keberadaanku di sini? ” ucap Zein dengan sedih.
“ Iya...lebih tidak nyaman karena memikirkan aku yang harus dirawat oleh mantan suamiku ”
Zein tertohok mendengar perkataan Adira tapi dia tidak akan menyerah. Baginya kesehatan Adira lebih utama saat ini.
“ Aku berjanji tidak akan melakukan hal apa pun atau meminta lebih padamu, hanya saja biarkan aku di sini menjagamu. Aku tidak akan bisa meninggalkan dalam keadaan seperti ini ”
__ADS_1
Adira tidak bisa berkata apa-apa lagi karena tahu jika sudah seperti ini di larang pun Zein tidak akan mau.
Cukup lama mereka berdiam tak bicara satu kata pun, hanya diam dengan pikirannya masing-masing.
“ Mas bisa tidur di lantai ada selimut di dalam lemari...gunakan itu sebagai alas ” ucap Adira buka suara.
“ Jangan hiraukan aku, aku hanya masih belum mengantuk. Kamu sendiri juga sebaiknya kembali tidur ”
“ Aku juga tidak merasa mengantuk...mungkin karena sudah lama tidur tadi ”
“ Oh..baiklah ”
Lalu suasana canggung itu kembali lagi dimana mereka berdua hanya bisa diam, namun sangat jelas gelagat canggung dari keduanya.
“ Hm..kapan perkiraan bayinya akan lahir? ” tanya Zein mencoba mencairkan suasana.
“ Harusnya akhir bulan ini..”
“ Ternyata hanya tinggal sebentar lagi ”
Adira diam tak menanggapi ucapan itu.
“ Adira...aku benar-benar seorang berengs*k ”
“ Kenapa tiba-tiba Mas..bicara begitu ”
“ Bagaimana bisa aku melupakan kejadian saat aku melakukan itu padamu, tapi apa pun yang aku lakukan tetap saja ingatan tentang bagaimana kita menghabiskan malam bersama tidak sedikit pun muncul dalam ingatanku ”
Adira meremas jemarinya gugup sekaligus bingung apa yang harus dia katakan pada pria itu. Untuk mengelak lagi dan mengatakan bayi itu bukan anak Zein juga sudah percuma. Karena beberapa saat yang lalu Adira sempat tak membantah hal itu.
Tentu saja itu memberikan keyakinan lebih pada Zein bahwa anak yang dikandung Adira adalah anaknya.
“ Aku akan mengatakan kebenarannya sekarang padamu walaupun sebenarnya kamu pasti sudah mengetahui hal ini. Saat di malam orang tua mu menjebak kita, sebenarnya saat itu aku tidak melakukan apa pun padamu. Tapi aku berbohong dengan mengakui telah menidur* mu saat itu di depan banyak orang ” ungkap Zein serius.
__ADS_1
**Mohon bantuannya untuk memberikan hadiah dan vote untuk novel ini ya teman-teman 😄
Happy Reading😘**